
Tanpa sepengetahuan Dinda dan axel, Agus menyelidiki tentang sosok Jesika. Seperti apa orangnya, latar belakang keluarganya dan dimana rumahnya. Dia baru tau kalau Jesika dan Axel belum lama putus, Agus terkejut karena merasa hubungan keduanya sudah terlihat lumayan dalam.
Sore itu, Jesika pulang dari kampus dengan menaiki Taxi. Agus mengikuti dari belakang hingga mantan kekasih Axel tiba di rumah.
Jesika turun dari Taxi, saat dia hendak masuk ke dalam rumah Jesika mendengar seseorang memanggilnya.
"Jesika...!" Panggil Agus berulang ulang.
"Pak Agus, mau apa dia kemari?" Gerutu Jesika lirih.
"Ada yang mau aku bicarakan dengan kamu,"
"Sama, aku juga,"
"Kalau begitu kamu dulu yang bicara,"
"Tidak, bapak saja duluan."
Jesika lumayan menghormati orang yang lebih tua, gadis seperti itu bagaimana bisa bertindak kasar seenak jidatnya? Agus terdiam sejenak, dia menebak kalau Dinda pasti melakukan sesuatu yang membuat Jesika benci padanya.
"Kenapa kamu menyerang istriku?" Tanya Agus.
"Karena dia telah menyebabkan hubunganku dan Axel putus,"
"Apa maksud kamu? Apa bisa di perjelas?"
"Dinda dan Axel berpacaran, mereka ada main di belakang Bapak."
Penuturan Jesika terasa menyayat hati Agus, Dinda dan Axel berpacaran? Sejak kapan? Kenapa Agus tidak menyadarinya?
__ADS_1
"Kamu pasti berbohong agar aku tidak memarahi kamu," tuduh Agus.
"Kalau tidak percaya, Bapak tanya saja pada orang rumah. Mereka pasti lebih tau dari pada aku, karena mereka tinggal satu atap,"
Jesika meninggalkan Agus, dia masuk ke dalam rumah karena tidak mau mengobrol terlalu lama dengan pria tua itu. Wajahnya sangat mirip dengan Axel, membuat Jesika bertambah benci melihat wajah itu.
Agus merasa tidak percaya, terlebih Dinda dan Axel sering bertengkar satu sama lain. Tapi jika di ingat ingat, hubungan mereka sedikit berbeda semenjak Agus pulang dari luar kota.
Agus tidak langsung percaya dengan omongan Jesika, dia masih berpikir kalau Jesika sedang mencoba menghasutnya agar membenci istri dan anaknya sendiri. Axel memang anak nakal, tapi merebut istri dari Ayahnya sendiri sepertinya tidak mungkin.
"Aku harus menyelidiki tentang kebenaran hal ini sendiri," ucap Agus dalam hati.
***
Tiba di rumah, Agus disambut baik oleh Dinda. Tidak ada yang mencurigakan dari gerak geriknya, semua terlihat normal dan tidak ada yang aneh.
Senyum ramah, sentuhan hangat dan tatapan mata yang teduh itu bisa menghilangkan rasa lelah setelah Agus seharian bekerja.
"Sayang, kenapa Alex tidak ikut makan malam bersama kita?" Tanya Agus.
"Dia sedang pergi bersama temannya,"
"Temannya yang mana?" Agus penasaran.
"Seorang wanita tomboy, mungkin kekasih barunya," jelas Dinda santai.
Agus menarik nafas lega, jika Axel memiliki kekasih lain berarti pengakuan yang diberikan Jesika adalah palsu. Mungkin wanita itu hanya kesal saja karena di putuskan oleh Axel, jadi dia mengarang cerita agar keluarga Agus saling bertengkar satu sama lain.
Berpikir positif bisa memiliki dampak baik bagi tubuh, apa lagi bagi tubuh yang sudah tua dan berumur seperti Agus. Diusianya yang tidak muda lagi, Agus tidak boleh memiliki beban pikiran yang terlalu berat.
__ADS_1
Sementara itu di dalam hati, Dinda terus berdoa agar suaminya percaya pada kebohongannya tadi. Dinda sengaja melakukan hal itu untuk menepis kecurigaan yang mulai melanda pikiran Agus.
Akan sangat berbahaya jika perselingkuhan Dinda dan Agus terbongkar. Dinda tidak akan hanya di cerai, tapi juga dimintai ganti rugi atas hutang Ayahnya yang menumpuk.
Tak lama, Axel pulang ke rumah. Dia sedikit sempoyongan karena minuman beralkohol yang baru di teguk olehnya.
Dinda menghampiri Axel, menegur kebiasaan buruk pria itu yang paling dibenci oleh Axel.
"Bisa tidak jangan mabuk lagi? Mabuk sangat tidak baik untuk kesehatanmu," omel Dinda.
"Jangan cerewet, aku hanya minum sedikit untuk menghormati ulang tahun salah satu temanku," sahut Axel. Dia menepis tangan Dinda kasar yang hendak menopang tubuh lemahnya.
"Sedikit katamu? Mana mungkin minum sedikit bisa mabuk seperti itu?" Dinda menatap dengan tatapan ragu.
Mendengar ribut ribut, Agus keluar dari dalam kamar dan turun ke lantai bawah. Dia melihat Axel dan Dinda sedang bertengkar, Axel terlihat sempoyongan karena mabuk. Dia menunjuk nunjuk jari telunjuknya kearah Dinda sambil mengoceh tidak jelas.
Agus naik darah, dia tidak suka pada sikap Axel yang tidak sopan pada Ibu tirinya.
Plak....
Agus menampar pipi Axel dengan keras hingga memerah. Axel merintih kesakitan, sementara Dinda hanya terdiam sambil membuka mulutnya lebar lebar.
"Anak tidak berguna, sudah dibilang jangan suka mabuk mabukan malah masih saja mabuk. Mabuk membuatmu hilang akal hingga seperti orang gila." Omel Agus kasar.
"Sayang, tolong bela aku. Katakan pada tua bangka itu kalau aku hanya minum sedikit saja," celetuk Axel. Dinda mendelik, dia panik karena Axel salah berucap.
"Jaga mulutmu itu, jangan bicara sembarangan!" Hardik Agus.
Agus memapah tubuh putranya, membawanya naik ke lantai atas dan merebahkannya keatas kasur miliknya.
__ADS_1
Bersambung...