Belenggu Cinta Anak Tiri

Belenggu Cinta Anak Tiri
Bab 25


__ADS_3

Siang hari, saat yang lain sedang berteduh dari teriknya sinar matahari. Jesika pergi ke kantor Agus untuk memberi tahu kebenaran tentang hubungan terlarang Dinda dan Axel. Dia tidak peduli jika pria tua bangka itu tidak percaya pada aduannya, yang penting dia sudah berusaha membuat Dinda dan Axel ketar ketir.


Jesika menerobos pintu gerbang kantor saat seorang penjaga keamanan lengah. Tapi sayang, didepan pintu masuk dia ditahan oleh seorang penjaga keamanan lagi.


"Sial! Ini kantor atau penjara, banyak sekali penjaga keamanannya," gerutu Jesika didalam hati.


"Maaf Nona, ada yang bisa saya bantu?" Tanya penjaga keamanan itu dengan tatapan penuh selidik.


"Aku mau bertemu dengan Pak Agus," sahut Jesika.


"Kebetulan Pak Agus belum kembali dari luar kota Non,"


"Yah," Jesika mengeluh lirih.


"Dan juga, untuk menemui beliau Nona harus membuat janji terlebih dahulu,"


"Cih, seperti orang penting saja." Dengus Jesika kesal.


Sudah melangkah dan pergi sejauh ini, tapi Pak Agus tidak bisa dia temui. Tentu saja Jesika merasa marah karena Dewi Fortuna tidak berpihak padanya. Kini, segala rencana yang telah dia persiapkan harus pupus tanpa terealisasikan.


Jesika harus mencari cara baru, dia tidak akan berhenti membuat ulah sebelum Dinda dan Axel mengakhiri hubungan mereka.


Tak bisa menemui Agus, Jesika pergi ke komplek perumahan tempat Dinda tinggal. Jesika menembus kerumunan Ibu Ibu yang sedang belanja sayuran dan mulai menyebarkan gosip miring ditengah mereka.


"Maaf Bu, Ibu kenal dengan wanita muda yang menjadi istri Pak Agus?"


"Saya tidak kenal tuh Non, dia juga tidak pernah keluar rumah berbaur dengan tetangga," sahut salah seorang Ibu lantang.

__ADS_1


"Hati hati dengan dia ya Bu, dia itu pelakor. Wajahnya saja polos tapi hatinya jahat,"


"Kok, Non bisa bicara seperti itu? Memang Non siapa?" Ibu itu penasaran.


"Aku pacar Axel, anaknya Pak Agus. Tapi kami sudah putus karena Axel ternyata selingkuh dengan Dinda, Ibu tirinya sendiri," kisah Jesika dengan ekspresi wajah berapi api.


"Gila, masa Ibu tiri ada main dengan anak sambungnya sendiri? Mana Pak Agus sering pergi ke luar kota. Kira kira dia tau tidak ya, tentang kebenaran ini?"


"Dia tidak tau, aku tadi pergi ke kantornya untuk memberitahukan berita ini. Tapi petugas keamanan disana berkata Pak Agus belum pulang dari luar kota,"


"Bu Ibu, kita harus menyampaikan berita ini kepada Pak Agus. Jangan sampai perumahan ini kena adzab Tuhan karena hubungan terlarang Nona Dinda dan anaknya," ajak wanita paruh baya berpenampilan paling nyentrik diantara lainnya.


Jesika tersenyum puas karena telah berhasil menyebarkan aib Dinda dan Axel. Sebentar lagi, sanksi sosial akan menghampiri mereka berdua.


***


Hanya sekitar sepuluh menit saja setelah Agus meminum teh buatan Dinda, Agus diserang oleh rasa kantuk yang teramat sangat. Dia langsung pergi meninggalkan ruang kerjanya dan kembali ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


"Hoammm..." Agus menguap.


"Kamu sudah mengantuk?" Dinda basa basi.


"Iya, sepertinya ini efek terlalu lelah mengerjai kamu sehari semalam kemarin," sahut Agus dengan nada nakal. Dinda hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman kecil.


Agus berbaring diatas kasur, dia menjadikan Dinda sebagai bantal guling nya. Setelah dirasa pria itu telah tertidur dengan lelap, Dinda beranjak pergi menuju kamar Axel.


***

__ADS_1


Tok... Tok... Tok...


Dinda mengetuk pintu, Axel membukanya dengan cepat dan penuh semangat.


"Apa dia sudah tidur?" Tanya Agus.


"Sudah,"


"Bagus, rencana ku ternyata berhasil. Sekarang, saatnya kita menuntaskan rindu yang telah lama tertahan," celetuk Axel dengan wajah girangnya.


Dinda masuk ke dalam kamar Axel, pria itu langsung menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Tanpa menunggu waktu lama, keduanya saling melucuti pakaian masing masing dan membuangnya ke sembarang arah.


Adegan terlarang itu terulang lagi, bahkan lebih hot dari sebelum sebelumnya. Erangan keduanya lolos begitu saja, memenuhi ruangan berukuran besar itu.


Sesekali, Dinda menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya untuk mencegah suaranya keluar kemana mana.


"Jangan di tahan, lepaskan saja," bisik Axel.


"Tidak mau, bagaimana kalau Ayahmu terbangun karena suaraku nanti?"


"Tidak apa apa, makin cepat ketahuan makin baik. Kamu bisa segera bercerai dan kita bisa segera meresmikan hubungan kita,"


"Ish, jahat sekali!" Dinda menarik hidung Axel kuat.


Keduanya saling mengayuh satu sama lain, meraba, meremas dan menikmati setiap momen bersama. Kini, jika keduanya saling merindukan, mereka harus mau bekerja sama untuk membuat Agus tertidur lelap dalam jangka waktu yang cukup lama.


Axel menggigit leher Dinda hingga meninggalkan bekas merah. Dinda marah, dia takut Agus akan melihat tanda itu dan curiga kepadanya. Tapi Axel tidak peduli, dia terus saja membuat tanda kepemilikan hampir di sekujur tubuh wanita berparas ayu itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2