Belenggu Cinta Anak Tiri

Belenggu Cinta Anak Tiri
Bab 33


__ADS_3

Pertemuan Axel dan Dinda berakhir diatas ranjang empuk sebuah Hotel kelas dua. Keduanya saling mencumbu, melakukan aktifitas panas yang sudah lama tidak mereka berdua lakukan.


Tubuh seorang Dinda seperti sebuah candu bagi Axel, jangankan bisa berhenti untuk menjamahnya, berhenti membayangkannya saja tidak bisa. Harum tubuh Dinda tercium seperti aroma bunga lavender, terasa ringan namun memabukkan.


"Aku mencintaimu Dinda... Eumh.... Ah..." Rancau Axel berulang ulang. Sementara Dinda hanya tersenyum kecil seperti seekor kelinci yang sedang menarik pemangsanya.


Pergulatan hot itu berlangsung selama hampir satu jam, keduanya terkulai lemas setelah sama sama mencapai titik kepuasan.


Dinda pergi ke kamar mandi untuk membersihkan sisa sisa pergulatannya dengan Axel, dia memakai pakaiannya kembali lalu menyisir rambut agar terlihat rapih.


"Mau kemana kamu? Buru buru sekali," seloroh Axel.


"Aku mau pulang ke rumah duluan, akan sangat berbahaya jika ada seseorang memergoki kita jalan bersama," celoteh Dinda.


"Kenapa tidak kita umumkan saja hubungan ini, aku lelah bermain kucing-kucingan,"


"Semua kelelahan mu itu akan berakhir pada waktu yang tepat, tapi bukan saat ini,"


Dinda meraih tasnya, dia melangkah keluar dari kamar Hotel dan meninggalkan Axel sendirian dengan rasa kesepian.


Axel mengepalkan tangannya, meski hawa panas dalam tubuhnya telah tersalurkan, dia masih saja mudah terbawa emosi karena Dinda yang menolak untuk membuka hubungan gelap mereka.


***


Laras dan Arip mengunjungi kediaman Agus. Mereka ingin mengunjungi Dinda karena di jerat oleh rasa rindu pada putri semata wayang yang menggebu.

__ADS_1


Dinda terkejut saat mendapati kedua orang tuanya sudah ada di depan pintu. Mereka sengaja tidak memberi kabar terlebih dahulu kalau akan datang berkunjung, untuk memberikan surprise pada Dinda.


"Ibu, Ayah," Dinda senang bukan main melihat kedua orangtuanya berkunjung. Tapi ada sedikit ngeri dihatinya, terutama pada sang Ibu. Sejak awal wanita tua itu menaruh curiga pada kedekatan Dinda dengan Axel yang tiba tiba.


"Bagaimana kabarmu sayang?" Laras memeluk putrinya erat.


"Kabarku baik, ayo masuk ke dalam,"


Dinda membawa kedua orangtuanya masuk, seorang ART langsung datang untuk menawari mereka minuman. Seperti biasa, Dinda memesan minuman dingin, pas diminum saat gerah.


"Ngomong ngomong, suami kamu belum pulang?" Tanya Arip.


"Belum, mungkin sebentar lagi,"


"Bagaimana rasanya menjadi seorang Nyonya? Enak bukan? Ayah tidak salah kan menikahkan kamu dengan pria tua itu?" Goda Arip sambil tertawa.


Tapi kenyataanya, Dinda seperti hidup dibawah angan angan semu. Setengah hatinya ada untuk Axel, setengahnya lagi ada untuk kesejahteraan hidup yang ditawarkan Agus.


Andai bisa meminta, Dinda ingin bisa hidup sejahtera dengan Axel tanpa bayang bayang dari Agus. Tapi hal itu hanya bisa diwujudkan jika Agus telah meninggal dunia.


Dinda menjawab ledekan Ayahnya dengan senyum kecut, bibirnya terlalu kaku untuk mengeluarkan kata kata.


"Pak, hati hati kalau bicara. Dirumah ini, tembok pun bisa mendengar," Laras memperingatkan suaminya.


"Apa kalian sudah lapar? Dirumah ini tidak ada yang berani makan malam tanpa Pak Agus, jadi kita makannya nanti setelah Pak Agus pulang," Dinda mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Iya, tidak apa apa. Kami bisa menunggu," sahut Laras.


Satu jam kemudian...


Agus pulang dari tempat kerja, dia senang melihat kedua mertuanya datang ke rumah. Mereka langsung melaksanakan makan malam bersama, ART dirumah itu sengaja memasak banyak makanan enak untuk menjamu mereka.


Axel, masuk kedalam perut sambil mengelus perutnya yang lapar. Tapi rasa laparnya langsung hilang saat melihat Laras ada diruang makan, wanita itu menatapnya penuh selidik, seolah Axel adalah seorang penjahat yang perlu di curigai.


"Hallo, nak. Lama tidak bertemu," sapa Arip.


"Hallo, Pak. Kapan datang?" Axel meringis.


"Tadi sore. Kamu baru pulang dari kampus?"


"Tidak, aku baru pulang main. Maksudku aku pulang dari kampus langsung pergi main," sahut Axel kikuk.


"Yah, itulah axel. Dia hanya pulang ke rumah kalau sedang lapar dan mengantuk saja," sambung Agus.


Seluruh orang yang ada di ruangan itu tertawa, termasuk axel.


Saat sedang makan, Dinda terbatuk-batuk karena tersedak sesuatu. Axel reflek menuangkan segelas air dan memberikannya pada Dinda. Axel juga menepuk nepuk punggung Dinda pelan.


"Pelan pelan makannya, tidak ada orang yang akan merebut piring nasi mu," celoteh Axel.


"Ish, kuah sayur ini terlalu pedas. Jadi aku tersedak," Dinda melirik kesal. Dia memutar kedua bola matanya seperti kelereng.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2