Belenggu Cinta Anak Tiri

Belenggu Cinta Anak Tiri
bab 38


__ADS_3

Dinda kembali masuk ke kamarnya, dia meletakan piring sarapan dan botol obat diatas meja lalu bergegas pergi untuk membersihkan diri ke kamar mandi. Dia tidak mau sisa sisa percintaan kilatnya dengan Axel tercium oleh suaminya, meski Agus mungkin sudah curiga karena Dinda memasak lebih lama dari biasanya.


Srash....


Bunyi keran air terbuka, Dinda membasahi tubuh dan rambutnya lalu membasuhnya dengan sabun dan sampo beraroma bunga. Baunya tercium harum sampai ke hidung Agus, membuat gairah pria tua itu naik dan tak terkendali.


Sayang sekali, saat itu Agus sedang sakit. Tubuhnya bahkan terasa linu dan kaku saat di gerakan. Jangankan bercinta, turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi sendiri saja tidak bisa.


Agus selalu memerlukan pertolongan Dinda dalam hal apapun, tak hanya makan dan minum. Sebenarnya Agus merasa kasihan pada Dinda, sudah beberapa hari ini dia tidak menjamah wanita itu, pasti dia merasa sangat kesepian dan kedinginan.


Terlebih Dinda mudah sekali ter*ngsang, n*fsu bercintanya begitu tinggi diatas rata rata wanita normal lainya. Ah, untuk apa Agus menghawatirkan wanita itu, toh Axel pasti sudah bisa memuaskannya.


Rasa benci bercampur cemburu menyeruak dihati Agus, tapi apa yang bisa dia lakukan? Mengusir anaknya sendiri keluar dari rumah? Tidak mungkin, Axel adalah putra satu satunya. Menceraikan Dinda dan membuang wanita itu pergi? Tidak mungkin juga, karena Agus masih memerlukan perawatan darinya.


Rasa cinta dihati Agus sedikit berkurang untuk Dinda, meski rasa kasihan dan rasa sayangnya masih ada sedikit. Andai saja dia tidak terlalu egois di awal dan mau mendengarkan omongan anaknya, mungkin perselingkuhan mereka tidak akan pernah terjadi.


Dinda keluar dari kamar, lagi lagi Agus melihat wanita itu baru saja mencuci rambutnya. Hampir dua hari sekali Dinda mencuci rambut, entah karena gerah atau karena dia terlalu rutin meladeni hasrat nakal Axel. Agus diam seribu bahasa dan memandangi wanita itu dengan wajah datar.

__ADS_1


"Selesai makan, mau tidak aku ajak jalan jalan keluar rumah?"


"Aku mana ada tenaga untuk berjalan jalan,"


"Tenang saja, aku akan mendorongmu dengan kursi roda. Jadi, kamu hanya duduk diam saja dan menikmati udara sekitar,"


"Baiklah, terserah kamu saja,"


Agus tak menyangka kalau Dinda akan perhatian padanya, dia bahkan sampai menyediakan kursi roda untuknya tanpa sepengetahuannya. Coba kalau dia hanya tinggal berdua saja dengan Axel, dia pasti akan sangat kerepotan.


Selama Agus sakit, Axel bahkan belum pernah bertanya tentang keadaanya. Seolah dia sedang berharap Agus segera mati agar dia bisa menikahi Dinda dan menikmati harta warisan peninggalan Agus.


***


Selesai makan, Dinda benar benar mengajak Agus keluar dari rumah. Dia mendorong kursi roda Agus keliling komplek perumahan, menikmati pemandangan sekitar di pagi hari sambil menyapa beberapa tetangga yang sedang asyik joging.


Beberapa orang dari mereka melihat Dinda dengan tatapan sinis, Dinda menyadari hal itu. Tapi dia berpura pura tidak tau dan bersikap acuh tak acuh pada mereka. Toh, mereka juga sama seperti Dinda. Sama sama seorang pendosa, hanya jenis dosanya saja yang berbeda.

__ADS_1


"Mau mampir ke warung membeli makanan atau minuman?" Tawar Dinda.


"Tidak perlu, aku lebih suka meminum dan memakan makanan buatan rumah," sahut Agus.


"Benarkah? Aku anggap itu sebagai pujian. Mulai sekarang, aku akan lebih giat lagi memasak dan membuat minuman enak untukmu," janji Dinda.


Selesai berjalan jalan, Dinda membawa Agus kembali ke rumah. Di depan gerbang mereka bertemu Axel.


"Bagaimana keadaanmu Ayah?" Tanya Axel.


"Anak kurang ajar, berhentilah berpura pura menghawatirkan aku!" Omel Agus.


"Aku tidak sedang berpura pura, aku memang sedang ingin memberikan perhatian untuk Ayah," sanggah Axel.


"Sudah, jangan bertengkar. Masih pagi, malu dilihat tetangga!" lerai Dinda.


"Terserah kalian berdua saja, aku mau ke kampus dulu," pamit Axel.

__ADS_1


"Oke, hati hati bawa motornya ya," pesan Dinda.


Bersambung...


__ADS_2