
Agus merawat putranya dengan baik saat mabuk, melepaskan sepatu dan mengelap keringat yang membanjiri tubuh pria itu. Tiba tiba Agus teringat pada ucapan putranya tadi, mungkinkah dia dan Dinda ada main di belakang? Bukankah setiap perkataan orang mabuk itu biasanya selalu jujur?
Agus frustasi, dia membuang lap yang sedang dipegangnya ke lantai. Sejak kemarin dia selalu berusaha untuk bersikap tenang dan berpikir positif, tapi karena ocehan putranya tadi segala yang dia bangun hancur seketika.
Dinda masuk ke dalam kamar Agus, dia menghampiri pria itu dan mengajaknya pergi ke kamar mereka.
"Biarkan Axel beristirahat, ayo kita ke kamar," seru Dinda sambil melempar senyum kecil. Terlihat tulus dan mempesona, mana mungkin senyum seperti itu ada kepalsuan di dalamnya.
Tanpa bicara, Agus mengikuti ajakan Dinda. Mereka kembali ke dalam kamar dan pergulatan dengan sedikit rasa kesal dihati Agus pun terjadi.
Tanpa aba aba, Agus memeluk tubuh Dinda. Mencium bibir wanita itu dengan kasar dan meremas dengan kuat dua agar jelly miliknya.
"Sssssttt...." Dinda mendesis. Dia mengekspresikan rasa nikmat dan linu atas perbuatan suaminya itu.
Agus semakin bersemangat mencumbu istrinya, dia membopong tubuh sang istri dan melemparnya keatas kasur. Dalam hati, Dinda bertanya tanya. Ada apa dengan Agus hari ini? Kenapa Agus terlihat seperti ingin membunuhnya?
Takut? Tentu saja Dinda merasa takut, terlebih dia telah melakukan sebuah kesalahan terselubung. Dia takut Agus menghabisinya dan menyembunyikan tubuhnya hingga tidak bisa ditemukan oleh siapapun di dunia ini.
"Jadilah budak ku malam ini, puaskan aku!" Ucap Agus dengan nada berat.
Dinda mendelik saat Agus membuka resleting celananya dan mengarahkan benda kebanggaannya ke arah mulut Dinda. Tanpa diberi tahu, Dinda bisa tau apa yang sedang pria itu inginkan darinya.
langsung saja, Dinda melakukan hal yang di inginkan Agus. Dia mencengkram benda keramat itu dan mencoba menaklukannya dengan mulutnya.
"Argh...." Agus mengerang. Matanya merem melek menikmati sensasi yang diberikan oleh Dinda. Sementara itu kedua tangannya memegangi rambut panjang Dinda agar tidak mengganggu aktifitas nikmat yang sedang Dinda lakukan.
__ADS_1
"Ah, Dinda. Selamanya kamu hanya milikku," lanjut Agus dengan menggebu-gebu.
Puas diberi servis ++ Agus langsung melucuti semua yang dipakai oleh Dinda dan membuangnya ke sembarang arah. Pria itu langsung menghajar Dinda tanpa ampun, membuat wanita muda itu merancau tak karuan dan bermandikan peluh.
***
Pagi harinya, Axel bangun dari tempat tidur dengan kepala berputar putar. Dinda masuk ke dalam kamar itu membawa nampan berisi semangkuk bubur dan minuman hangat.
"Bagaimana keadaanmu? Apa sudah sedikit membaik?" Tanya Dinda.
"Ya, aku sudah membaik. Aku tidak melakukan hal bodoh saat aku sedang mabuk bukan?"
"Tidak, kamu tidak melakukan hal bodoh. Tapi kamu hampir saja membongkar perselingkuhan kita pada Ayahmu itu," tutur Dinda.
Pagi itu Dinda mengenakan dres longgar dengan belahan dada bentuk v cukup rendah. Axel bisa melihat dengan jelas beberapa belas gigitan yang menempel disana.
"Apa itu tanda yang ayahku buat?" Tanya Axel. Hatinya terasa panas karena terbakar api cemburu.
"Iya. Dia kasar sekali semalam, sepertinya dia marah padaku," kisah Dinda.
"Jangan jangan dia sudah mengetahui semuanya,"
"Entahlah, aku pasrah saja."
***
__ADS_1
Dinda kembali menemui Agus di ruang makan, dia melayani pria itu tanpa banyak bicara apa lagi bertanya.
"Apa bocah tengil itu sudah bangun?" Agus menarik tangan Dinda dan menyuruhnya duduk di pangkuannya.
"Sudah, dia sedang mandi tadi. Kepalanya pasti masih pusing, jadi aku antar sarapan ke kamarnya,"
"Perhatian sekali kamu," Agus menatap curiga.
"Dia anakmu, anakku juga, apa salah jika aku memberikan perhatian padanya?" Tanya Dinda balik.
Agus tersenyum sinis, jelas sekali ada perubahan dalam sikap Dinda kepada Axel, begitu juga sebaliknya. Tapi Agus tidak mau asal menuduh atas kecurigaannya tanpa bukti yang kuat.
"Suapi aku," pinta Dinda.
"Manja sekali,"
"Mau tidak?"
"Baiklah, buka mulutmu," ucap Agus.
Pagi itu Dinda sarapan sambil duduk di pangkuan Agus, menikmati suapan demi suapan yang pria itu berikan. Ada rasa hangat dan teduh saat Dinda bersama dengan Agus, perasaan yang tiba tiba saja muncul setelah Dinda mengambil keputusan untuk berselingkuh dengan putra tirinya.
Mungkinkah karena Dinda merasa kasihan pada Agus? Atau karena dorongan rasa bersalah? Apapun itu, yang jelas saat ini Dinda merasa sedikit bingung dengan perasaannya sendiri.
Bersambung...
__ADS_1