
Butik khusus pakaian itu bernama The Laura, namanya sama dengan pemiliknya. Siang itu, Dinda dan rekan kerjanya yang bernama Endah dan Yuli dibelikan makan siang oleh sang bos. Penjualan hari itu lumayan ramai, karena senang Laura mentraktir pegawainya makan.
Laura, wanita cantik berusia 32 tahun. Ramah, ceria dan masih lajang. Entah apa alasan yang membuat wanita itu betah menyendiri diusia yang tak lagi muda, yang jelas dia terlihat bahagia dengan kesuksesan yang telah di genggam oleh tangannya kini.
"Kalian semua harus semangat jualannya ya, semakin banyak cuan yang masuk ke dalam kantongku, semakin banyak pula bonus yang akan kalian dapatkan," ucap Laura.
"Siap Bos," sahut Dinda dan rekan rekan kerjanya kompak.
Usai memberi semangat pada para pegawainya, Laura terlihat menelfon seseorang dan berjalan menjauh dari Dinda dan kawan kawan.
"Dia baik sekali ya, pantas saja kalian betah kerja di tempat ini," oceh Dinda.
"Namanya juga Bos, kalau lagi baik ya baik, kalau lagi ngomel ya ngomel," Endah berucap sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.
"Sepertinya dia akan kedatangan tamu, dandanannya kali ini terlihat menor dan seksi," cetus Yuli.
"Siapa tau tamunya laki laki tampan, kasihan juga melihat dia masih sendiri diusia yang sudah bukan ABG lagi," sambung Endah.
Dinda sibuk menyantap makannya, sambil mendengarkan teman temannya menggosip tentang Bos mereka. Dinda harus pandai menjaga aibnya di tempat itu, kalau tidak mau menjadi bahan gosip Endah Yuli.
Tak lama, seorang pria masuk ke dalam butik. Kedatangannya disambut oleh senyum sumringah Laura, dia langsung menggandeng dan mengajak tamunya masuk ke dalam ruang pribadinya.
Di sebelah rak display, Dinda menyembunyikan diri. Dia panik saat mendapati Axel tiba tiba ada di butik itu. Ya, sosok pria yang digandeng oleh Laura adalah Axel, pria yang masih digantung statusnya oleh Dinda.
"Apa hubungan Axel dan Laura? Kenapa mereka terlihat dekat sekali?" Dinda mencoba menerka neraka dalam hati.
Meski melihat Axel di gandeng oleh wanita lain, Dinda sama sekali tidak merasa cemburu. Mungkin karena rasa sukanya pada Axel telah berkurang, efek dari hujaman rasa bersalah dan penyesalan yang berlebihan.
"Din, sedang apa kamu di situ? Ayo kita cek stok barang di rak sebelah," ajak Yuli.
__ADS_1
"Ah, ayo. Kamu sudah selesai makannya?" Tanya Dinda balik.
"Sudah, cepat kan?" Yuli tertawa. Dia memang selalu cepat kalau soal makan memakan, mungkin karena itu tubuhnya lebar kesamping.
***
Di dalam ruangan, Laura menyuguhi tamunya dengan makanan dan minuman enak. Selera makan Axel sedang buruk, dia hanya menenggak beberapa teguk minuman untuk menghormati tuan rumah.
"Aku turut berduka cita untukmu," ucap Laura.
"Terimakasih," ucap Axel.
"Aku senang kamu mau datang ke sini, sudah lama kamu tidak menjengukku. Padahal kita teman baik saat masih kecil dulu,"
"Aku kesini untuk melunasi hutang Ayahku, kata ART di rumahku, Ayahku sempat memesan beberapa pakaian untuk istri barunya di tempat ini. Belum sempat diambil, dia sudah keburu sakit dan meninggal,"
"Iya benar. Kalau boleh tau, bagaimana nasib Ibu tiri mu kini? Apa dia masih tinggal dengan kamu?"
"Lalu, baju baju yang dipesan Ayahmu bagaimana?"
"Aku akan kesana mengantarnya,"
Oh, oke. Aku akan menyiapkannya untukmu, kamu tunggu disini dulu ya,"
"Iya."
Laura keluar dari dalam ruang pribadinya, dia meminta Dinda untuk membungkus pakaian dengan model dan ukuran yang telah di pesan oleh mendiang Agus. Dinda sama sekali tidak tau, kalau baju baju itu adalah untuknya.
"Baju baju ini sangat cantik, ukurannya kebetulan pas sekali denganku," celetuk Dinda.
__ADS_1
"Benarkah? Kenapa bisa kebetulan sekali ya? Baju baju ini pesanan mendiang Pak Agus untuk istri mudanya sebelum dia sakit dan meninggal dunia." Ucap Laura.
Deg...!
Untukku? Pak Agus membeli ini semua untukku? Mungkin saat itu dia belum tau kalau aku dan Axel telah berselingkuh.
Dinda melamun, pikirannya tertuju pada mendiang suaminya. Matanya berkaca kaca, dadanya terasa sedikit sakit dan nyeri.
"Dinda, kamu kenapa melamun?" Tegur Laura.
"Ah, tidak. Aku tidak kenapa napa kok."
Selesai di bungkus, Laura kembali masuk ke dalam ruangannya untuk menemui Axel dan menyerahkan bungkusan baju itu padanya.
"Ini, ambillah," Laura sedikit menggoyangkan panggulnya.
Axel menaikan alisnya sebelah, dia merasa kalau Laura menaruh ketertarikan padanya. Siapa yang tidak suka pada pria tampan dan muda seperti Axel? Bahkan Ibu tirinya saja bertekuk lutut di bawahnya.
Haruskah Axel memanfaatkan situasi itu? Ah, tidak. Dia masih berduka, dia harus mengerem perilaku buruknya untuk sementara ini.
"Aku pamit pulang dulu,"
"Ah, kenapa mainnya sebentar sekali?" Laura cemberut.
"Lain kali aku akan ke sini lagi," janji Axel.
"Janji?"
"Ya, aku janji." Axel melempar senyum kecil.
__ADS_1
Bersambung...