
Dinda baru saja selesai mandi, dia mengeringkan rambutnya yang sedikit basah dengan hairdryer sambil mengibas mengibaskan secara perlahan. Agus mengamati Dinda dengan seksama, mengetahui hal itu Dinda berjalan mendekati Agus.
"Sudah baikan?" Tanya Dinda.
"Sudah, tapi tubuhku masih terasa lemas dan kaku. Mungkin karena faktor umur, jadi proses penyembuhan ku berjalan lambat,"
"Sabar, besok juga akan sembuh,"
"Kamu juga harus sabar ya, punya suami tua dan sakit sakitan seperti aku,"
Dinda terdiam, dia merasa seperti di tampar oleh kalimat itu. Secara tidak langsung, Agus menginginkan Dinda untuk bersikap baik dan merawatnya dengan tulus, penuh perhatian.
Awalnya, Dinda merasa tertekan atas pernikahannya dengan Agus. Tapi, setelah merasakan dana segar mengalir deras dari Agus, Dinda mulai merasa nyaman. Ayolah, uang memang bukanlah segalanya, tapi segalanya akan terasa sulit tanpa adanya uang.
Wajar jika perempuan dimuka bumi ini materialistis, selain karena kebutuhan mereka banyak, segala sesuatu di dunia ini memang membutuhkan uang. Bukan hanya rumah, pakaian dan makanan saja, menghibur diri juga memerlukan uang.
"Aku tidak masalah dengan itu, aku akan merawat kamu dengan baik," Dinda beranjak pergi.
"Mau kemana?"
"Aku mau mengambilkan makanan dan minuman untukmu di dapur, apa ada yang kamu mau lagi?"
"Tolong buatkan aku segelas jus buah mix sayur,"
"Oke, tunggu sebentar ya."
***
__ADS_1
Di dapur, ternyata Axel telah menunggu Dinda sejak tadi. Pria itu rindu pada Dinda, rindu pada belaian dan sentuhannya.
"Axel, nanti kalau ada yang lihat bagaimana?" Omel Dinda.
"Abaikan saja, aku merindukanmu," sahut Axel santai.
"Aku sedang sibuk mengurus Ayahmu, aku tidak bisa bermanja-manja denganmu hari ini,"
"Jadi, si tua itu kini lebih penting dari pada aku?" Axel marah.
"Tolong mengertilah Axel, kalau Ayahmu sembuh aku pasti akan memiliki waktu untuk memanjakan kamu lagi,"
Axel melepaskan dekapannya pada tubuh Dinda tanpa berbicara. Pria itu marah, dia pergi tanpa menoleh kearah Dinda.
Dinda serba salah, disisi lain Dinda sangat ingin menghabiskan waktu dengan Axel. Tapi Dinda juga memiliki kewajiban untuk merawat suaminya yang sedang sakit.
"Mau kemana kamu?"
"Memberi makan ikan,"
"Temani aku disini, jangan kemana mana,"
"Ya, baiklah." Dinda mendengus kecewa, rencananya untuk menemui Alex gagal total.
***
Pagi hari, Dinda keluar kamar dengan alasan untuk memasak. Tapi diam diam Dinda malah menyelinap masuk ke dalam kamar Axel. Suasana hati pria itu sedang tidak baik, Dinda harus menemuinya untuk menghibur hati pria itu.
__ADS_1
Dinda duduk di sisi ranjang, dia membelai lembut rambut kekasihnya dan mencium mesra. Axel menggeliat begitu merasakan sentuhan lembut menggerayangi tiap inchi kulitnya.
"Dinda," Axel sedikit terkejut.
"Jangan keras keras, nanti Ayahmu dengar,"
"Kenapa kesini? Nanti kalau kepergok Ayah bagaimana?"
"Ya, dia tidak mungkin keluar dari kamarnya. Tubuhnya lemas dan kaku,"
Axel menarik Dinda kedalam pelukannya, tanpa aba aba Axel melucuti segala yang di pakai oleh Dinda dan mulai meluapkan hasrat yang telah dia pendam beberapa hari.
Pergulatan panas itu berlangsung sangat singkat, tapi cukup untuk mengobati rasa rindu diantara keduanya. Selesai mengobati kemarahan Axel, Dinda pergi ke dapur untuk membuat sarapan.
semua berjalan seperti biasa, seolah Dinda tidak baru saja melakukan sebuah dosa. Dinda memasak dengan estafet, agar Agus tidak curiga kalau Dinda telah menggunakan sebagian waktu memasaknya untuk bersenang senang dengan anak tirinya sendiri.
"Non, mau saya bantu?" tanya Ningrum.
"Tidak perlu, kamu kerjakan saja pekerjaanmu yang lain,"
"Baik Non,"
Ningrum merasa sedikit aneh, Dinda seolah tidak mau berdekatan dengan pegawai yang ada di rumah itu. Mungkin karena dia merasa tidak enak karena mereka telah mengetahui hubungan terlarang Axel dan Dinda.
Ada rasa minder dihati Dinda saat berbincang dengan para pegawai suaminya. Dinda merasa terhina meskipun mereka tidak mengatakan sepatah katapun.
Bersambung...
__ADS_1