
Dinda membuka kedua matanya saat sinar mentari yang masuk lewat fentilasi udara menerpa wajahnya. Dia menyadari dirinya sedang berbaring diatas ranjang dengan Agus yang masih tertidur lelap di sampingnya.
"Kenapa aku bisa ada disini?" Dinda sedikit bingung. Dia tidak ingat apapun selain dia membelai rambut pria itu secara perlahan.
Dinda turun dari ranjang secara perlahan, dia tidak mau tidur nyenyak sang suami terusik olehnya. Dia berjalan menuju kamar mandi dan bersiap untuk membersihkan diri.
Wanita berambut panjang itu terkejut saat berdiri didepan cermin wastafel, dia mendapati banyak tanda merah di lehernya. Tanda itu adalah bekas kecupan. Ternyata saat Dinda tidur, Agus mencari kesempatan dalam kesempitan untuk mencumbuinya secara diam diam.
Aneh, kenapa Dinda tidak bisa merasakannya sama sekali? Apa Dinda terlalu pulas tidurnya hingga tidak merasakan sentuhan dan jamahan dari jari jemari keriput Agus?
Wajah Dinda memerah karena malu. Bagaimana bisa dia meninggalkan bekas diarea terbuka seperti itu? Bagaimana jika ada yang melihatnya nanti? Dinda pasti akan menjadi bahan guyonan di belakang.
Selesai mandi, Dinda langsung berganti pakaian. Dia melirik kesal kearah Agus yang masih mendengkur di atas kasur sebentar, kemudian dia pergi ke dapur untuk membuat sarapan.
Ningrum sudah mulai memasak di sana, Dinda menghampirinya dan mengajaknya berbincang ringan.
"Kamu orang mana? Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?" Tanya Dinda pada seorang ART yang usianya jauh lebih muda darinya.
"Saya orang Jawa timur Non, saya baru satu bulan kerja disini,baru satu kali gajian," sahut Ningrum.
"Semoga kedepannya kita bisa berteman baik ya, dirumah ini hanya kamu yang akan menjadi teman mengobrol ku selain Agus nantinya.
"Iya, Non." Ningrum mengangguk.
"Sini, biar aku membantumu menyiapkan sarapan," Dinda menata beberapa piring dan sendok di atas meja makan.
"Tidak usah Non, biar saya saja. Nanti kalau ketahuan Bos besar Non ikut kerja di dapur, saya akan di marahi," Ningrum sedikit ketakutan. Sejak awal, Agus selalu mewanti wanti agar Ningrum menolak saat Dinda menawarkan diri untuk membantu pekerjaan rumah.
"Tidak ada yang berani memarahi kamu kalau aku sendiri yang memintanya," Dinda mengukir senyum manis.
__ADS_1
Selesai menyiapkan peralatan makan, Dinda membuat satu teko teh manis hangat. Kemudian dia menaruhnya diatas meja dan menata beberapa cangkir kosong disebelah teko itu.
Dinda terdiam, ingatannya kembali pada aktifitas pagi yang biasa dia lakukan bersama keluarganya. Apa Ayah dan Ibu sudah sarapan? Masak apa Ibu hari ini? begitu kira kira isi pikiran Dinda saat ini.
"Pagi," Agus muncul tiba-tiba dengan wajah sumringah khas pengantin baru. Pria itu merasa senang karena semalam berhasil mencicipi aroma tubuh istrinya, walaupun tidak sepenuhnya.
Bukannya mengapa balik, Dinda malah cemberut. Hal itu membuat Agus gemas dan mencubit kedua pipi istrinya yang mirip dengan gundukan bakpao.
"Kamu kenapa?" Tanya Agus. Dia berpura pura tidak tau penyebab mood Dinda rusak hari ini.
Dinda mendekatkan lehernya pada Agus, berharap pria itu melihat banyak tanda merah yang menempel disana. Agus meringis, dia paham dengan maksud dari Dinda. Tapi apa yang dilakukan Agus bukanlah sebuah kesalahan, mereka berdua kan sudah sah menjadi suami istri.
Apa perlu seorang suami meminta izin terlebih dahulu untuk menyentuh istrinya? Agus menganggap hal itu tidak perlu dilakukan. Seorang istri adalah milik suaminya, begitu juga sebaliknya.
Ningrum terus menundukkan wajahnya, dia tidak berani menatap majikannya yang sedang asik saling menggoda. Setelah selesai menata nasi dan lauk diatas meja makan, Nia langsung melarikan diri dari dapur yang menyatu dengan ruang makan itu.
Tak lama, Axel masuk ke ruang makan. Dia masih menekuk wajahnya, raut wajah kesal masih terpampang nyata disana. Dinda pikir, Agus tidak akan membuka pintu kamar anak itu, Dinda sempat berencana untuk mengantar sarapan ke kamar Axel tadi.
Axel terbakar api cemburu, terlebih saat matanya tidak sengaja melihat tanda merah bertebaran diarea leher Ibu tirinya itu. Selera makan Axel langsung hilang, perutnya yang lapar mendadak kenyang.
Brakkkk...
Axel menggebrak meja makan dengan kasar, kemudian dia melenggang pergi entah kemana. Dinda menatap suaminya, pria itu bersikap biasa saja. Seolah dia tidak peduli pada sikap kasar dan tidak sopan anaknya semata wayangnya itu.
***
Axel memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Dia menyusuri padatnya jalan raya pagi itu dengan ugal ugalan. Jangankan memikirkan keselamatan pengendara lain, pada keselamatannya sendri saja Axel tidak peduli.
Saat ini isi kepalanya dipenuhi oleh nama Dinda, hanya Dinda, tidak ada yang lain. Begitu dalam rasa cinta Axel untuk Dinda, tapi gadis itu tidak mengetahuinya. Atau malah tak mau peduli.
__ADS_1
Lama melaju di jalan raya, Axel menepikan kendaraanya kesebuah Cafe. Cafe itu adalah milik salah seorang temannya, namanya Hendrik.
Selain mencari sarapan, maksud dari Axel datang ke tempat itu adalah untuk mencurahkan unek-unek dan isi hatinya pada temannya itu.
"Ada apa dengan wajahmu? Kenapa jadi jelek sekali?" Ledek pria bertubuh tinggi besar itu sambil menaruh secangkir kopi dan roti panggang di atas meja.
"Berhenti menggodaku, aku sedang tidak suka diajak bercanda hari ini," Axel mendengus kesal.
"Apa kamu sedang ada masalah? Coba ceritakan padaku, siapa tau aku bisa membantu," Hendrik menawarkan pertolongan pada teman dekatnya itu.
"Kamu pasti sudah tau apa masalahku," ucap Axel malas. Dia melipat tangannya di atas meja dan menyandarkan kepalanya.
"Apa masih seputar mantan kekasih yang menjadi Ibu tiri mu itu?" Hendrik menebak.
"Iya,"
"Astaga, Axel. Seperti tidak ada wanita lain saja di dunia ini! Lupakan Dinda, bukalah hatimu untuk wanita lain,"
"Aku tidak bisa!"
"Bukan tidak bisa, tapi kamu sendiri yang tidak mau mencobanya,"
"Jangan menceramahi aku, kamu bisa berkata seperti itu padaku karena kamu belum pernah berpacaran!"
"Kamu ini,diberi nasihat baik tidak mau. Aku jadi malas mengobrol dengan pria keras kepala sepertimu!"
Hendrik pergi meninggalkan Axel seorang diri, lebih baik dia melayani tamu-tamu Cafenya yang lain daripada menemani Axel mengobrol. Pria seperti Axel sangat sulit untuk menerima masukan dari orang lain, membuang waktu saja.
Axel memakan sarapannya sampai habis, perut datarnya yang lapar sekarang terasa kenyang. Axel mencoba merenungkan omongan Hendrik tadi, nasehat pria itu tidaklah salah, Axel saja yang enggan melepas Dinda pergi dari hati dan pikirannya.
__ADS_1
Bersambung....