
Pagi hari, Agus membuka mata. Tubuhnya terasa segar karena bisa tertidur dengan lelap. Tapi anehnya, kepalanya sedikit pusing, seperti baru saja turun dari biang lala.
"Awh..." Agus duduk sambil memegangi kepalanya.
Dia melirik kearah kanan dan mendapati Dinda sedang tertidur lelap di sisinya. Wajah istri mudanya itu nampak sangat ayu saat sedang tidur, terlihat tenang juga damai.
Dia memang sudah cantik sejak masih di dalam kandungan, Agus tidak salah pilih menjadikan Dinda sebagai istrinya. Sepadan dengan uang yang dia gelontorkan untuk mendapatkan seorang Dewi seperti Dinda.
Dinda menggeliat, baju tidur yang dia kenakan tersingkap. Sebuah pemandangan yang menyejukkan mata terlihat, memancing hasrat ke lakiannya untuk bangkit.
Agus mendekatkan diri pada Dinda, menyentuh dan menciumnya. Tanpa sengaja, dia melihat tanda merah yang Axel buat di bagian leher wanita itu.
Dinda terbangun dari tidurnya, dia kaget saat melihat Agus telah bangun dan sedang menatapnya dengan tatapan aneh.
"Bapak sudah bangun?"
"Sudah. Kenapa lehermu banyak bekas merah seperti itu?" Tanya Agus.
"Ini gatal alergi. Semalam aku makan udang," Dinda meringis. Dia bersikap biasa saja agar tidak terlihat mencurigakan dimata suaminya.
"Sudah minum obat?" Tanya Agus lagi.
"Sudah,"
"Kalau nanti sore belum sembuh, kita pergi ke dokter ya,"
"Tidak perlu, nanti juga sembuh."
__ADS_1
"Dasar wanita keras kepala!" Agus menarik hidung Dinda gemas.
"Aku pergi mandi dulu." Agus bangkit dari atas kasur dan beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
***
Dinda merasa ada yang aneh dengan sikap suaminya, tepatnya setelah dia bertanya soal tanda merah yang ada di lehernya. Mungkinkah pria itu diam diam menaruh curiga padanya? Dinda harus memberi tahu soal itu pada Axel, agar mereka berdua bisa berjaga jaga.
Dinda mengantar Agus hingga ke pintu gerbang, menyalaminya dan memeluknya. Seperti biasa, Agus mencium kening wanita itu mesra, sebelum masuk ke dalam mobil.
"Tolong buatkan aku opor ayam untuk makan malam ya," pinta Agus.
"Iya, aku akan membuat banyak nanti,"
Agus melambaikan tangan, meski tersenyum, wajah pria itu masih terlihat tertekan.
"Pagi Mbak," sapa wanita paruh baya berambut pendek itu.
"Pagi, Bu Ibu," sapa Dinda ramah.
"Eh, itu wanita muda yang sedang viral pacaran sama anak tirinya kan ya?" Celoteh salah seorang diantara Ibu Ibu itu.
Dinda mendelik, dia panik karena tiba tiba saja berita tentang perselingkuhannya telah menyebar di lingkungan tempat tinggalnya. Dinda panik, dia takut berita itu terdengar sampai telinga suaminya.
"Husssst.... Jangan keras keras, nanti orangnya dengar,"
"Maaf Bu, kalau bicara jangan sembarangan ya. Ibu dapat dari mana berita hoax seperti itu?" Ucap Dinda lantang. Bukanya menjawab, barisan Ibu Ibu itu malah pergi tanpa mengatakan sesuatu kepadanya.
__ADS_1
Dinda masuk ke dalam rumah, dia membanting pintu dengan keras dan perasaan kesal. Dinda merasa heran, bagaimana bisa hubungannya dengan Axel diketahui oleh orang banyak? Siapakah orang yang sudah menyebar berita itu? Mungkinkah orang itu masih tinggal satu atap dengannya?
Ah, mana mungkin ART atau penjaga keamanan dirumah itu berani berbuat macam macam. Mereka terlalu takut pada Axel, Axel pasti tidak akan tinggal diam kalau mereka berani membuat masalah dengannya.
***
Sore hari, Axel pulang dari kampus. Dia langsung pergi ke dapur saat hidungnya mencium bau masakan. Dari baunya terasa enak, Axel tau kalau kekasihnya itu sedang memasak sesuatu pesanan sang Ayah.
Axel memeluk Dinda dari belakang, meremas bemper belakangnya dengan kuat hingga membuat Dinda kaget. Dinda langsung menepis tangan Axel, dia takut kelakuan nakalnya itu di pergoki oleh Agus atau pekerja di rumah itu.
"Kamu curang sekali, giliran Ayah meminta dibuatkan sesuatu pasti kamu kabulkan," gerutu Axel sambil memonyongkan bibirnya.
"Sebenarnya aku juga malas, tapi mau bagaimana lagi? Dia bisa marah padaku kalau keinginannya tidak dituruti," celoteh Dinda.
Sekilas, Axel bisa tau ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran Dinda. Terlihat dari ekspresi wajahnya yang kusut dan lebih sedikit pendiam dari biasanya.
"Apa ada masalah?" Tanya Axel.
"Gosip tentang perselingkuhan kita sudah menyebar di kalangan Ibu Ibu komplek, tadi aku di sindir habis habisan oleh mereka. Siapa ya yang sudah menyebar berita tentang kita?" Dinda begitu sangat penasaran pada orang yang telah mengganggu ketenangan hidupnya saat ini.
"Aku yakin, itu adalah ulah Jesika. Dia masih saja tidak terima dengan perlakuanku, padahal aku sudah memberinya pelajaran,"
"Pelajaran apa yang kamu maksud? Kamu tidak melakukan tindak kekerasan padanya bukan?" Desak Dinda.
Axel membisu, dia teringat pada darah segar yang mengalir di hidung Jesika saat dia menamparnya dengan keras. Sampai saat ini. rasa bersalah masih ada, tapi dia gengsi untuk mengutarakan secara langsung.
Bersambung...
__ADS_1