Belenggu Cinta Anak Tiri

Belenggu Cinta Anak Tiri
Kenapa Tidak Mengaku Saja?


__ADS_3

Axel tidak bisa tidur malam itu, dia berguling guling diatas kasur seperti anak kecil yang tengah bermimpi buruk. Dia terus memikirkan bagaimana bisa Dinda bersikeras dengan kebohongannya, padahal segalanya telah terungkap ke permukaan.


Kenapa tidak jujur saja? Bukankah akan lebih mudah untuk mereka menjalin hubungan serius? Kenapa Dinda seolah berat meninggalkan Agus? Jangan jangan, dia telah jatuh hati pada pria tua itu.


Berbagai pikiran buruk mulai menggerogoti otak Axel, hingga dia tidak bisa berpikir dengan normal dan jernih. Terlebih, setelah interogasi tadi, Dinda belum juga menemuinya untuk membahas tentang kelanjutan hubungan mereka.


Penasaran, Axel berusaha untuk menemui Dinda. Siapa tau dia sedang ada di dapur saat itu, karena biasanya saat tengah malam Agus selalu minta dibuatkan minuman hangat.


Axel keluar kamar, dia berjalan dengan langkah lambat menuju dapur. Pucuk dicinta ulam tiba, Dinda ternyata benar benar ada di sana. Axel langsung menghampiri Dinda dan memeluk tubuh ramping itu dari belakang.


"Axel, lepaskan aku!" Hardik Dinda. Matanya melebar seolah dia tidak suka dengan perlakuan manis dari Axel.


"Kenapa kamu marah padaku? Bukannya kamu selalu suka dengan pelukan seperti ini?" Axel mengerutkan kening.


"Nanti kalau Ayah kamu melihatnya bagaimana? Bisa tambah runyam urusannya," kelit Dinda.


"Tinggal katakan saja yang sebenarnya, kita memang selingkuh dan saling mencintai satu sama lain," seloroh Axel asal.


"Tidak semudah itu Axel, bagaimana kalau Ayahmu terkena serangan jantung dan mati mendadak? Kita berdua bisa dimintai pertanggung jawaban oleh orang orang di luar sana." Ucap Dinda berapi api.


Apa yang dikatakan Dinda ada benarnya juga. Tapi entah kenapa Axel merasa ada sesuatu yang sedang Dinda tutup tutupi darinya. Alasan tadi hanyalah sebuah tameng agar Axel berhenti untuk mengutarakan keinginan konyolnya.


Berkata jujur dan kehilangan segala kenyamanan yang aku punya saat ini? Yang benar saja!


Dinda mengumpat dalam hati. Dia menepis tangan Axel yang masih melingkar di!pinggangnya, lalu melanjutkan mengaduk secangkir kopi susu.

__ADS_1


"Aku merindukan sentuhan mu Dinda," rengek Axel seperti anak kecil.


"Maaf, sepertinya untuk saat ini kita harus menjaga jarak dulu. Aku akan kembali padamu setelah semuanya aman,"


Brakk....!


Axel menggebrak meja kitchen set yang terbuat dari kayu jati itu dengan kuat, Dinda melompat karena kaget. Tanganya terasa sakit, tapi hatinya saat ini jauh lebih sakit.


"Aku tidak akan pernah melepaskan mu Dinda, jadi jangan pernah mencoba untuk mengabaikan aku!" ucap Axel sambil memberikan penekanan diakhir kalimat agar Dinda mematuhi keinginannya.


Dinda kebingungan, di sisi lain dia belum ingin meninggalkan Agus, tapi dia juga tidak mau Axel pergi meninggalkannya karena sikapnya yang serakah sebagai seorang wanita biasa.


***


Keesokan harinya, Agus dan Dinda menunggu kedatangan Axel di ruang makan. Tapi pria bertubuh tinggi besar itu belum juga turun untuk menunjukan batang hidungnya.


Sang ART yang kebetulan mendengar celotehan Agus berjalan mendekatinya.


"Sebaiknya Tuan dan Nona makan saja, Den Axel pergi dari rumah pagi pagi buta tadi," ucap ART muda itu.


Dinda dan Agus saling melempar pandangan, Dinda ketakutan. Dia takut Axel pergi dari rumah karena kesal pada perkataanya semalam, lalu dia bersenang senang dengan wanita lain di luar sana.


"Terimakasih atas infonya," ucap Agus.


"Dinda, sebaiknya kita makan duluan." Ajak Agus. Dinda hanya mengangguk tanda setuju.

__ADS_1


Selesai makan, seperti biasa Dinda mengantar Agus hingga ke gerbang rumah. Dinda mencium tangan Agus, lalu pria tua itu masuk ke dalam mobil dan melesat menuju kantornya.


Ada rasa canggung setelah pertengkaran kemarin, Agus tak lagi banyak bicara pada Dinda. Sikapnya dingin, wajahnya datar. Tidak ada lagi perhatian yang keluar dari sorot mata senjanya.


Tak mau terus menerus memikirkan Agus, Dinda mengambil tasnya di kamar lalu pergi menaiki Taxi untuk mencari keberadaan Axel. Mereka harus bertemu dan bicara empat mata, tidak bagus jika keduanya bertengkar terlalu lama.


Dinda datang ke kampus, dia bertanya pada salah satu siswi di situ tentang keberadaan Axel. Tapi ternyata, sudah beberapa hari ini Axel bolos kuliah. Untung saja Agus tidak tau, kalau sampai dia tau bisa babak belur Axel dibuatnya.


Teman dari Axel itu meminta Dinda untuk mencari Axel di cafe XXX, tempat dimana Axel dan teman temannya nongkrong. Atas kabar itu, Dinda langsung melesat pergi menuju tempat yang diberitahukan tadi.


Benar saja, Axel ada disana. Dia sedang duduk merenung menatap keluar jendela. Wajahnya terlihat begitu sedih, tapi tersirat ada rasa benci disana.


"Axel," panggil Dinda. Axel menoleh, dia terkejut karena Dinda tau tentang keberadaanya.


"Mau apa kamu ke mari?" Tanya Axel.


"Aku mencari mu," sahut Dinda.


"Untuk apa kamu mencari ku?"


"Aku ingin minta maaf padamu soal kata kataku semalam. Maaf, aku telah melukai hatimu,"


Dinda memeluk Axel, Axel tersenyum tipis karena ternyata wanita itu masih peduli dan khawatir pada keadaanya saat ini.


"Ikut aku ke suatu tempat jika kamu mau aku berhenti marah kepadamu," ucap Axel.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2