
Malam hari, bintang kelap kelip di langit. Menandakan malam itu cuaca sedang bagus dan hujan tidak akan mungkin akan turun. Agus mengajak Dinda jalan jalan ke mall, menghabiskan waktu berdua layaknya pasangan anak muda yang sedang di mabuk asmara.
Dinda harusnya merasa senang, karena suaminya akan membelikan apapun yang dia mau hari itu. Tapi Dinda malah memasang wajah murung karena orang tuanya tidak pernah menghubungi atau menjenguknya di rumah Agus.
Agus menarik lengan Dinda tiba tiba, dia membawa Dinda masuk ke dalam sebuah toko pakaian yang dipenuhi oleh deretan pakaian branded berharga mahal dan berkualitas bagus.
"Pilihlah apapun yang kamu mau di sini," perintah Agus.
"Serius?" Dinda menatap ragu.
"Ya, aku serius. Karena hari ini aku akan mengajakmu bersenang senang, sebelum aku berangkat ke luar kota esok hari,"
Wanita mana yang tidak suka ditraktir belanja oleh suaminya? Dinda mengukir senyum, dia mengambil keranjang belanjaan dan mulai memilah milah pakaian yang dia suka.
Mulai dari pakaian d*lam, baju tidur, gaun, dres, sampai setelan kemeja dan celana jeans. Agus mengikuti langkah kaki istri kecilnya yang berjalan menyusuri rak dan lemari tempat pakaian di pajang. Dia merasa ikut senang melihat wajah wanita kesayangannya itu sumringah.
"Setelah ini, kamu ingin membeli apa lagi?" Tanya Agus.
"Aku ingin membeli make up, skincare dan parfum," sahut Dinda penuh semangat.
"Oke, aku akan membelikan semua itu untukmu,"
__ADS_1
"Terimakasih,"
"Sama sama."
Agus mengelus rambut panjang Dinda mesra, orang yang kebetulan melihat pemandangan itu pasti mengira kalau Dinda sedang diajak berbelanja dengan Ayahnya. Atau bagi yang telah berpengalaman di dunia luar, mereka pasti mengira Agus adalah sugar Daddy Dinda.
Wajar saja, perbedaan umur diantara keduanya sangat mencolok. Sekalipun Agus berusaha mengimbangi usia Dinda dengan memakai pakaian ala anak muda. Tidak ada yang memanipulasi umur seseorang, termasuk Agus sekalipun.
Selesai memborong pakaian, Dinda mengajak Agus pergi ke toko kosmetik, kemudian pergi ke toko khusus parfum dan berakhir di sebuah salon kecantikan.
Dengan sabar, Agus menunggu Dinda selesai melakukan treatment kecantikan. Dia duduk diatas sofa sambil membaca sebuah majalah yang telah disediakan oleh pihak salon.
"Sedang menemani anaknya treatment Pak? Perhatian sekali. Bapakku mana mau menemani aku pergi ke salon, mengambil rapot di sekolahku saja tidak mau," ceplos seorang gadis belia yang sedang duduk di hadapan Agus. Sepertinya gadis itu sedang mengantri giliran.
"Sibuk apanya? Tiap hari pekerjaannya nonton tv, main game, nongkrong sambil ngopi di pos ronda. Dia sama sekali tidak peduli padaku dan Ibuku," gadis itu mendengus kesal.
Agus berkaca pada dirinya sendiri, selama ini dia terlalu sibuk mengurusi pekerjaannya dan jarang memiliki waktu untuk Axel. Jangankan memberikan perhatian, menemaninya belajar juga tidak pernah. Mungkinkah karena itu Axel tumbuh jadi anak yang nakal? Agus merasa bersalah pada putra semata wayangnya karena sudah menjadi Ayah yang tidak baik.
Puas berbelanja dan jalan jalan, Dinda mengajak Agus pulang ke rumah. Kedua matanya sudah merasa ngantuk dan tubuhnya sedang terasa lelah.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Agus menasehati wanita itu agar berhati hati pada ulah nakal Axel. Dia bisa saja melakukan hal nekat, Agus akan menyiapkan beberapa orang penjaga untuk menjamin keamanannya di sana.
__ADS_1
"Anda tenang saja Pak, aku pandai menjaga diri kok. Berhati hatilah besok di jalan, jangan lupa menjaga kesehatan ya!" Pesan Dinda untuk suaminya.
Agus membalas senyuman menggemaskan itu dengan ciuman kilat di pipi, membuat sekujur tubuh Dinda di serang rasa merinding seketika.
"Pak Agus, anda sedang menyetir," Dinda protes. Dia memanyunkan beberapa senti bibirnya ke depan. Untung saja jalanan sedang sepi, kalau sedang ramai kecelakaan bisa saja terjadi.
Gemas dengan sikap istrinya, Agus memacu kendaraannya dengan cepat agar bisa segera sampai ke rumah dan berbuat sesuatu padanya.
***
Ditempat lain...
"Rum, Ayah dan Dinda pergi kemana? Kenapa rumah sepi sekali?" Tanya Axel pada asisten rumah tangganya.
"Mereka sedang pergi berbelanja, mungkin sekalian melepas rindu. Kan besok mereka akan berpisah dalam waktu lumayan lama Den," celetuk Ningrum asal.
Axel mengerutkan kening, dia kesal karena ART-nya itu seolah sedang menyindirnya secara halus. Kalau saja dia bukan ART pilihan Ayahnya, Axel pasti sudah menendangnya dari rumah saat itu juga.
Axel masuk ke kamar sambil membanting pintu. Dia meluapkan kekesalannya disana.
"Dinda pasti sedang senang diajak belanja oleh Ayah, wanita mana yang tidak suka diajak belanja? Dasar, perempuan matre!" Maki Axel lirih.
__ADS_1
Bersambung....