Belenggu Cinta Anak Tiri

Belenggu Cinta Anak Tiri
Cemburu?


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 22.00 malam, Agus masih saja berkutat dengan setumpuk pekerjaan di ruang pribadinya. Dinda sengaja membuat minuman hangat dan camilan ringan untuk Agus, dia membawanya dengan nampan menuju ruang pribadi Agus.


Ditengah lorong, dia berpapasan dengan Axel. Pria itu menatapnya dengan tatapan aneh, matanya melotot, mulutnya sedikit terbuka. Seperti seorang buaya lapar yang menemukan seekor rusa betina.


Dinda sangat menawan malam itu, dia mengenakan pakaian tidur super mini pres body. Apa lagi bau parfum yang dia kenakan sangat menyengat, menggoda siapa saja yang menghirup aromanya.


Mungkin Dinda lupa, bukan hanya Agus yang tinggal dirumah itu. Masih ada pria dewasa lain yang dalam diam selalu memperhatikan gerak geriknya.


Dinda mengabaikan Axel, dia sengaja tidak menyapa anak tirinya itu karena tidak mau ribut malam hari begini. Axel merasa kesal dengan sifat angkuh dan keras kepala Dinda, dia memang cocok menjadi istri Ayahnya karena memiliki watak yang sama.


"Dinda, lihat saja nanti. Aku pasti akan membawamu ke dalam pelukanku lagi," ucap Axel lirih.


Klak,,,


Pintu kamar pribadi terbuka, Dinda masuk kedalam ruangan dan menyuguhkan minuman serta makanan yang dia bawa. Agus tersenyum senang karena istri kecilnya begitu sangat perhatian.


"Terimakasih sayang, ucap Agus,"


"Sama sama,"


Tiba tiba Agus meraih tangan Dinda dan menariknya sampai terduduk di pangkuannya. Dia meraba setiap inci tubuh wanita muda itu dan memberikan pijatan nakal di beberapa titik.


Dinda menggigit ujung bibirnya, meski merasa risih dia sedikit bisa menikmati sentuhan suaminya itu.


"Lain kali, jangan memakai pakaian seperti ini keluar kamar," protes Agus.


"Kenapa memangnya?" Dinda menjawab dengan wajah polosnya.


"Aku saja melihatmu tergoda, apa lagi pria lain?" Agus menaikan alisnya sebelah.


Pikiran Dinda langsung teringat pada Axel, apa tadi Axel juga tergoda olehnya? Astaga, aku tidak bermaksud melakukan itu padanya. Kalimat itu Dinda ucapkan berulang ulang di dalam hati.


"Kenapa melamun? Apa yang sedang kamu pikirkan?" Agus mengusap pipi istrinya lembut.


"Tidak ada,"

__ADS_1


"Jangan bohong, aku selalu tau apa yang ada di dalam pikiranmu,"


Tanpa bertanya terlebih dahulu, Agus mulai melancarkan aksi nakalnya. Dia mulai meraba, menyentuh dan meremas bagian yang paling dia sukai dari tubuh istrinya. Paham dengan apa yang sedang Agus inginkan, Dinda memasang badan.


Dia belum bisa membalas apa yang suaminya lakukan, tapi Agus bisa memakluminya karena Dinda masih amatir. Cukup diam dan tidak menolak saja sudah membuat hati pria itu senang bukan kepalang.


"Aku menginginkanmu malam ini," bisik Agus.


"Jangan di sini,kita ke kamar saja," cicit Dinda.


***


Lagi, suara lenguhan dari Dinda dan Agus terdengar hingga kamar Axel. Membuat hati dan otak pria itu mendidih seketika. Mereka benar benar tidak menghargai perasaan Axel, padahal mereka tau kalau Axel masih memliki rasa pada Dinda.


Axel menyumbat kedua telinganya dengan headset, dia meringkuk di atas tempat tidur sambil memeluk bantal guling. Suara desah keduanya tetap saja bisa dia dengar dengan jelas dan nyaring.


Apa senikmat itu memadu kasih dengan seseorang? Lebih nikmat mana dari makan Indomie telor pakai dua telor saat sedang hujan? Pikiran Axel melayang jauh ke angkasa, sesuatu miliknya terbangun dan membuat pusing kepala.


Malam itu, Axel kembali tidak bisa tidur, dia begadang hingga subuh menjelang dengan isi pikiran yang lebih amburadul dari benang kusut. Pasangan suami istri itu memang tidak punya hati, bisa bisanya bermain sampai menimbulkan suara v*lgar hingga terdengar ke kamarnya.


***


Axel pergi ke ruang makan, tidak ada yang berani bertanya tentang wajahnya yang berubah jadi buruk rupa. Mungkin mereka tau, kalau semua itu gara gara mereka.


Rasa masakan yang Axel rasakan jadi hambar, tapi dia tetap memakannya karena perutnya sedang lapar. Tiba tiba, pikiran kotor melintas di otak Axel. Dia membayangkan jika dirinya dan Dinda bisa main bersama.


Andai saja kesempatan seperti itu ada, Axel pasti tidak akan menyia-nyiakannya. Dia akan memanfaatkannya dengan baik hingga Dinda jatuh ke dalam pelukannya lagi.


Tiba tiba, sesuatu milik Axel berdiri tegak. Baru memikirkannya saja sudah menimbulkan reaksi enak seperti itu, apa lagi jika Axel benar benar melakukannya?


Kring... Kring... Kring...


Ponsel Axel berdering, dia mengambil ponselnya dari saku dan mengangkat telfon masuk itu.


"Hallo, siapa ini?" Tanya Axel pada pemilik nomor baru.

__ADS_1


"Ini aku, Jesika," suara seorang wanita keluar dari speaker ponsel Axel.


"Ah, Jesika. Ada apa cantik?" Goda Axel genit. Dia melirik kearah Dinda, Ibu tirinya itu yang ternyata sedang menatapnya dengan tatapan tidak suka.


"Aku merindukanmu, bisakah kita bertemu?" rengek Jesika. Seolah wanita itu sudah tidak bisa menahan gejolak asmara yang menyebar di dalam dadanya.


"Baiklah, ayo kita bertemu. Mau bertemu dimana?" Tanya Axel.


"Di rumahku, sekarang,"


"Oke, tunggu aku. Aku akan kesana sekarang,"


Axel menutup telfon, dia menyudahi makannya walaupun nasi dan lauk di atas piring belum habis. Bukan karena tidak lapar, melainkan agar menambah kesan kalau Axel sangat menyukai wanita itu.


"Mau kemana kamu?" Tanya Agus.


"Bukan urusan Ayah!" Sahut Axel sinis.


"Habiskan dulu makananmu!" Sambung Dinda.


"Aku sudah kenyang,"


Axel pergi dengan langkah terburu buru, Dinda terus mengamatinya hingga bayangan pria itu tidak bisa diamati lagi


Wajah Axel terlihat senang dan sedikit berbinar. Jelas sekali dia akan menemui seorang wanita, tapi , siapa wanita itu? Apa dia memiliki hubungan spesial dengan Axel?


Rasa penasaran mulai menyelimuti hati Dinda, dia merasa ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Dia tidak suka mendengar Axel menggoda wanita lain, apa yang sebenarnya telah terjadi pada Dinda? Apa jangan jangan dia cemburu?


Setelah sekian lama, Dinda merasakan rasa itu lagi, setelah putus dari Axel dan menjabat sebagai ibu tirinya. Rasa yang tak lazim itu harusnya tidak muncul, tapi entah kenapa dengan sembarangan dan tak tahu diri rasa itu muncul.


Adalah hak seorang Axel jika dia dekat dengan wanita lain. Dia pria dewasa, tampan, smart, singgle. Wanita mana yang tidak suka padanya? Bahkan wanita bersuami saja bisa suka padanya.


"Apa kamu tersinggung dengan kata kata Axel?" Tanya Agus. Dia memperhatikan wajah Dinda yang berubah murung.


"Tidak," sahut Dinda. Memang bukan itu yang membuatnya sedih dan patah hati.

__ADS_1


"Tolong maafkan dia, bagaimanapun dia adalah anak tiri mu," lanjut Agus.


Bersambung...


__ADS_2