
Beberapa hari berlalu, masa menstruasi Dinda sudah selesai. Tapi dia mencoba untuk tetap menyembunyikan tentang hal itu dari suaminya.
Dinda masih terlalu takut di jamah oleh pria itu, selain rasanya sakit, pengalaman pertama itu terlihat sangat menakutkan dan menyeramkan bagi seorang Dinda.
Ternyata takdir berkehendak lain, saat Dinda sedang memakai pakaiannya, tiba-tiba Agus masuk kedalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dia melihat semuanya, senyum bahagia langsung terukir di wajah oval Agus, membuat bulu kuduk Dinda berdiri tegak karena takut.
"Anda sudah pulang kerja?" Dinda basa basi.
"Sudah. Kamu sudah selesai tanggal merahnya?" Tanya Agus.
"Sudah," Dinda menundukkan wajahnya ke bawah.
"Tetap disini, jangan kemana mana, aku mau mandi dulu," pinta Agus dengan penuh semangat.
Glek...
Bunyi ludah yang masuk kedalam tenggorokan Dinda. Sekujur tubuh Dinda terasa lemas, bulu kuduknya berdiri tegak.
Berkali kali Dinda menelan ludahnya, matanya membulat sempurna seperti bola kasti. Agus pasti akan meminta jatah belah durennya yang tertunda.
"Tamatlah riwayatmu hari ini Dinda," ucap Dinda pada dirinya sendiri.
Dinda mondar mandir seperti setrikaan, dia bingung harus bagaimana. Mau kabur tidak bisa, mau menolak tidak berani. Apa sebaiknya Dinda berkata jujur saja kalau dia belum siap untuk melakukan hubungan intim?
Klak,,,
Pintu kamar mandi terbuka lebar, Agus keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan mengenakan selembar handuk saja. Dinda bisa melihat dengan jelas otot besar di sekujur tubuh Agus, sementara diarea dada banyak bulu-bulu halus tumbuh sembarangan.
Entah apa rahasia awet muda dari seorang Agus, umur sudah menginjak lima puluh tahun, tapi tubuhnya masih kencang dan terlihat atletis.
__ADS_1
"Em... Anu, Pak Agus, itu..." Dinda berubah menjadi gagap.
"Katakan saja, tidak perlu takut seperti itu. Aku tidak akan memakan mu," ucap Agus sekenanya.
"Aku belum siap untuk melayani mu," celetuk Dinda singkat, padat, dan jelas. Dinda mencoba berkata jujur, siapa tau Agus akan berbelas kasih padanya.
"Aku tidak peduli soal itu, siap tidak siap, kamu harus mau melayani aku. Karena aku tidak menyukai penolakan," Agus menyeringai seperti seekor serigala tua yang lapar.
Tanpa basa basi lagi Agus berjalan mendekati Dinda, dia membopong wanita itu ala bridal style lalu melemparnya ke atas kasur. Agus membuang handuk yang dia pakai ke lantai dan menunjukan tiang benderanya yang sudah meninggi bak menara Eiffel.
Dinda menutup kedua matanya rapat-rapat, dia tidak mau melihat benda yang paling ditakuti oleh kaum hawa saat malam pertama itu. Agus tertawa geli melihat tingkah polos gadis perawan yang sedang berbaring lemah di hadapannya.
"Bersiaplah sayang, aku datang." Ucap Agus sambil merangkak naik ke atas tempat tidur.
Dinda terdiam menahan geli saat suaminya mulai meraba dan melucuti pakaian yang dikenakannya,tubuhnya kaku tak bergerak seperti patung selamat datang. Agus semakin senang karena istri kecilnya tidak melakukan perlawanan sedikit pun.
"Tahan ya sayang, ini hanya akan sakit sedikit," bisik Agus di telinga Dinda. Pria itu telah puas melakukan pemanasan, kini tinggal menuju ke permainan inti.
Dinda hanya diam sambil terus memejamkan kedua matanya. Wanita itu sama sekali tidak mau melihat suaminya yang sedang beraktifitas di atasnya, semua karena rasa takut yang begitu sangat menghantui jiwa dan raganya.
Tak lama, Dinda merasa sesuatu merangsak masuk ke bagian inti tubuhnya. Dia merasa sangat kesakitan hingga menjerit dengan keras. Suara jeritan itu sampai terdengar ke kamar Axel, membuat Axel khawatir dan cemas.
"Apa telah terjadi sesuatu pada Dinda? Sebaiknya aku memeriksanya saja," Axel bangkit dari kursi belajarnya dan berjalan menuju kamar Dinda. Dia terlihat seperti orang bodoh yang tidak mengetahui tentang suara keramat di malam pertama.
Langkah kaki Axel terhenti tepat di depan pintu kamar Dinda, saat dia hendak mengetuk pintu itu, tiba-tiba saja telinganya mendengar suara antik sepasang suami istri yang sedang bercinta.
Leguhan keduanya terdengar seperti suara kendang bersahut sahutan, membuat siapa saja yang mendengarnya merinding disko. Axel merasakan nyeri di ulu hatinya saat mengetahui sang Ayah telah berhasil merenggut kesucian seorang Dinda.
Axel murka, ditengah rasa kecewa dan rasa tidak sukanya ada sengatan listrik yang menjalar di tubunya karena mendengar ******* Dinda.
__ADS_1
Axel kembali masuk ke dalam kamarnya, dia meraih ponsel dan menutup telinganya dengan headset, kemudian dia memutar MP3 dengan volume keras.
Dua jam berlalu, Axel mencopot headset yang dia kenakan. Dia memasang telinga dan menelisik apakah aktifitas panas orang tuanya itu telah selesai, dan ternyata belum selesai.
Erangan keduanya terdengar menggila, yang satu seperti orang kesurupan, yang satu lagi seperti orang yang baru saja di cakar oleh kucing garong. Jiwa jomblo Axel meronta, hasratnya meninggi tapi dia tidak bisa melakukan apapun kecuali mematikan lampu kamarnya dan pergi tidur.
Usai mendapatkan pelepasan yang begitu dahsyat, Agus menjatuhkan tubuhnya ke samping Dinda. Dia sibuk mengatur nafasnya yang naik turun seperti orang mau sekarat. Usia memang tidak bisa di bohongi, staminanya tak lagi kuat seperti dulu.
Dinda menyeka air mata yang keluar membasahi pipinya. Sepanjang permainan, hanya rasa sakit saja yang Dinda rasakan. Tidak seperti Agus yang merasakan sensasi terbang ke langit ke tujuh.
Agus mengelus rambut Dinda dan merengkuh tubuh sintal wanita itu. Dinda menenggelamkan wajah sedihnya ke dada bidang pria itu.
"Maafkan aku, aku sudah membuatmu kesakitan. Tapi kamu tenang saja, di permainan selanjutnya kamu tidak akan merasa kesakitan lagi," ucap Agus.
Cup,,,
Sebuah kecupan kecil mendarat di kening Dinda, terasa hangat, lembut dan penuh kasih sayang.
"Apakah ini yang dinamakan malam pertama? Kalau tau akan sesakit ini, aku tidak akan pernah mau menikah," keluh Dinda dalam diam.
Agus tertidur karena kelelahan, sementara Dinda terus saja terjaga. Dia memikirkan apakah pengorbanannya untuk Ayah dan keluarganya akan mendapatkan pahala yang sesuai?
Dinda telah mengorbankan banyak hal, termasuk kebahagiaanya sendiri. Dia tidak mau rugi, dia terus berdoa dalam hati untuk kesejahteraan dan kedamaian hidupnya sendiri.
Menjadi seorang Nyonya di kediaman Agus tidak terlalu buruk, selain diperlakukan secara istimewa Dinda juga diberi fasilitas komplit. Semoga waktu bisa membuat Dinda menerima segala hal yang telah digariskan oleh Tuhan dalam hidupnya.
Dinda menarik selimut, dia lelah terus menerus memikirkan nasibnya yang tidak akan mungkin bisa dirubah. Dinda mencoba untuk tidur, dan usahanya itu membuahkan hasil.
Bersambung...
__ADS_1