Belenggu Cinta Anak Tiri

Belenggu Cinta Anak Tiri
Bab 35


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 03.00 pagi, Dinda masih saja terjaga. Dia bangkit dari tempat tidur, mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Axel berkali kali. Setelah mencoba sekian lama, akhirnya telponnya diangkat.


Dinda keluar dari kamar agar obrolannya tidak dengan Axel tidak di dengar oleh Agus.


"Kamu dimana?" tanya Dinda.


"Dirumah teman," sahut Axel.


"Laki laki apa perempuan?"


"Tentu saja laki laki, kenapa memangnya? Apa kamu cemburu?"


"Tentu saja aku cemburu, aku takut kamu menginap di rumah perempuan gatal itu lagi,"


"Maksud kamu Jesika? itu tidak akan mungkin terjadi, kamu tenang saja,"


Obrolan keduanya berlangsung cukup lama, hingga akhirnya tiba tiba pintu kamar tamu terbuka dan sosok Laras keluar dari balik pintu itu.


Dinda terkejut, wanita itu pasti telah mendengar semuanya. Hati Dinda terasa takut, dia baru saja ketahuan melakukan sebuah kesalahan besar.


"Jadi benar dugaan Ibu, kamu punya hubungan spesial dengan Axel?" tuduh Laras.

__ADS_1


"Tidak Bu, itu tidak benar!"


"Ibu telah mendengar semuanya, tapi kamu masih saja berkilah. Wanita tidak tau diri!'


"Ibu, tega sekali memaki anak sendiri seperti itu?" Dinda berkaca kaca.


"Segala kesalahan yang aku lakukan semua karena kalian, kalian yang telah membuat aku dan Agus menikah tinggal satu atap dengan Axel!" ucap Dinda dengan nada tinggi.


Dinda mematikan telfon, tapi Axel telah terlanjur mendengar pertengkaran Dinda dan Ibunya. Merasa khawatir, saat itu juga Axel memutuskan untuk kembali kerumah.


***


Dihalaman belakang rumah, Dinda menangis seorang diri. dia merasa kesal karena Laras telah mengatainya dengan kata kata buruk. Apa berhubungan dengan pria yang dicintai adalah sebuah kesalahan? Benar benar menyebalkan!


Laras duduk di sisi Dinda, mengelus kepala dan pundak anaknya itu. Dia menyesal karena semalam telah bersikap kasar padanya dan membuat hatinya terluka.


"Maafkan aku," ucap Laras. Dinda tak bergeming, dia tidak menjawab perkataan penyesalan Laras.


"Nak, sudahi hubungan terlarang mu dengan axel. Ingat, kamu itu Ibu tirinya," Laras memberi nasihat.


"Aku mencintainya Bu, sama seperti Ibu mencintai Ayah. Mana mungkin aku meninggalkannya," Dinda tetap bersikeras mempertahankan hubungannya dengan Axel.

__ADS_1


Axel adalah belahan jiwanya, dia juga sudah membawa lari segala hal yang dia punya seperti cinta dan kasih sayang. Bagaimana bisa Dinda meninggalkan Axel begitu saja? tidak akan masuk di akalnya.


"Ibu mengerti, sangat berat meninggalkan pria yang kita cintai. Tapi kamu tau kan kalau cinta itu tidak selalu harus saling memiliki, untuk kebaikan semuanya kamu harus mengakhiri hubunganmu dengan Axel." Laras menekankan satu kali lagi.


Dinda terdiam, diam adalah cara terbaik agar Laras melunak dan berhenti memintanya untuk meninggalkan Axel.


***


Axel kembali, dia langsung mencari keberadaan Dinda. Dia menemukan Dinda sedang berdua dengan Ibunya. Axel mendengarkan Dinda sedang diracuni pikirannya oleh Ibunya agar mau meninggalkannya.


Sebenarnya Axel ingin mendekati mereka berdua dan mengajak mereka berbicara. Tapi Axel takut kehilangan kendali dan keributan antar mereka tak bisa dihindari.


Agus sudah pasti akan mengusirnya dari rumah, membuatnya malu didepan orangtua Dinda. Lebih baik Axel diam dulu, sambil berharap Dinda tidak akan mau meninggalkannya.


"Agus mungkin tidak kamu cintai, tapi dia sudah memberikan kehidupan yang layak untuk keluarga kita. Selain terbebas dari jerat hutang, ayah dan ibu juga tidak hidup kekurangan lagi,"


"maksud ibu Axel belum mapan dan Dinda tidak cocok berhubungan dengan dia begitu?"


"Bukan begitu maksud ibu, kenapa sulit sekali menasihati kamu anak tambeng," gerutu Laras lirih.


Dinda beranjak dari tempat duduk, dia melihat Axel tengah berdiri dan menyaksikan percakapannya dengan sang ibu. Axel tersenyum, Dinda memeluk Axel dan mencium pipinya didepan Ibunya sendiri.

__ADS_1


Semakin di larang, semakin berani Dinda menunjukan hubungan mereka di depan Laras. Laras yang kesal langsung bersungut sungut, dia menatap Axel dengan tatapan tajam. Sementara Axel bersikap biasa saja, seolah dirinya tidak memiliki dosa.


Bersambung...


__ADS_2