Belenggu Cinta Anak Tiri

Belenggu Cinta Anak Tiri
Kunjungan Jesika


__ADS_3

Pagi itu, seperti biasa. Dinda sibuk mengerjakan pekerjaannya sebagai Ibu rumah tangga. Saat dia sedang sibuk menjemur pakaian, tiba tiba bel rumah berbunyi.


Dinda menyudahi aktifitasnya, dia berjalan menuju ruang depan.


"Siapa yang datang berkunjung pagi pagi begini?" Gerutu Dinda sambil berjalan ke depan untuk membuka pintu.


Klak....


Seorang wanita berpakaian seksi berdiri di depan pintu, dia menyunggingkan senyum kecil yang manis. Wanita itu lumayan cantik dengan kulit sawo matang dan mata bulat nan lebar.


"Hallo, apa kabar? Apa axel ada?" Tanya wanita berparas ayu itu.


"Hallo, Axel ada di dalam. Kamu siapa?" Tanya Dinda balik.


"Aku Jesica, pacar Axel." Sahut wanita itu pede.


Dinda terbelalak, putra tirinya berpacaran dengan wanita yang tampilannya mirip dengan model majalah dewasa seperti itu? Sejak kapan selera Axel berubah?


"Jesika, kamu sudah datang?" Axel melangkah menghampiri Jesika. Wajahnya terlihat berbinar dan senang karena wanita pujaan hatinya telah datang.


Axel memeluk kekasihnya, menciumnya dan mengusap lembut kepalanya. Hal itu sengaja dia lakukan untuk membuat Dinda cemburu padanya. Usaha Axel tidak sia sia, saat ini hati Dinda seperti sedang di panggang diatas bara api. Tak hanya wajahnya yang memerah, matanya juga ikut memerah menahan tangis.


"Ngomong ngomong, siapa dia?" Tanya Jesica pada Axel. Dia memperhatikan Dinda mulai dari ujung rambut sampai dengan ujung kaki, terlalu cantik dan sempurna untuk seorang ART.


"Dia Ibu tiri ku," sahut Axel.


"Apa? Ibu tiri?" Jesika syok. Bagaimana bisa wanita berumur belasan tahun menikah dengan seorang pria tua? Dia pasti wanita matre. Cibir Jesika dalam hati.


"Sudahlah, jangan hiraukan dia. Ayo kita masuk ke dalam," Axel merengkuh pundak Jesika dan membawanya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Seperti inikah rasanya sakit hati melihat pria yang masih kita sukai bersama dengan wanita lain? Pantas saja Axel begitu murka dan benci padanya, ternyata rasanya memang sesakit ini.


Diam diam, Dinda mengikuti kemana Axel mengajak wanita itu pergi. Ternyata Axel membawa kekasihnya masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya dari luar? Dinda geram, dia berniat mengetuk pintu dan mengganggu pasangan kekasih itu. Tapi tiba tiba, telinganya mendengar suara yang begitu sensual dan sakral.


"Ahh... Sayang, aku selalu suka sentuhan mu," Jesika mendayu suaranya.


Butiran air mata jatuh menetes di pipi Dinda, dia menangis mengetahui kenyataan Axel telah berhubungan intim dengan wanita lain. Rasanya seperti baru saja jatuh dari lantai tujuh sebuah gedung, tubuh Dinda terasa lemas dan sulit untuk di gerakan.


***


Jam makan siang tiba, Axel mengajak Jesika keluar dari dalam kamarnya. Mereka pergi ke dapur, Axel berniat memasak sesuatu untuk makan siang bersama Jesika.


Merasa tersentuh, Jesika memeluk tubuh Axel dari belakang dan menghujani pipinya dengan ciuman. Sungguh pemandangan yang sangat menyesakkan dada Dinda, saking sesaknya, dada Dinda seperti mau meledak.


"Kamu tidak perlu repot repot melakukan itu, kita kan bisa makan di luar," ucap Jesika manja.


"Tidak perlu sungkan seperti itu, aku melakukan ini sebagai ucapan terimakasih karena kamu telah membuat aku puas dengan pelayanan mu tadi,"


Dinda menyenggol vas bunga berukuran besar yang ada di sisi lemari. Axel dan Jesika menoleh ke tempat Dinda berada, Dinda panik karena telah ketahuan menguping perbincangan mereka berdua.


"Dinda, sedang apa kamu di situ? Apa kamu sedang mengintip kemesraan kami?" Axel menyindir dengan bibir setengah menahan tawa.


"Jangan berprasangka buruk padaku, aku hanya sedang bersih bersih dan tak sengaja menyenggol vas bunga ini," Dinda membela diri. Tak mau di interogasi terlalu banyak, Dinda memilih kabur melarikan diri.


Dinda menduga kalau Axel sengaja melakukan hal itu padanya untuk mengetahui apakah Dinda masih memiliki perasaan kepada Axel. Usaha keras Axel berhasil, nyatanya Dinda memang benar masih memiliki setitik rasa suka pada Axel.


Di dalam kamarnya, Dinda mencoba menenangkan diri. Dia mencoba mengendalikan emosi dan rasa sedih yang menyelimuti hatinya.


"Sadarlah Dinda, kamu seorang wanita yang telah bersuami. Sangat tidak layak bagimu untuk cemburu pada putra sambung sendiri," ucap Dinda sambil menepuk nepuk dadanya yang terasa sesak.

__ADS_1


Dinda harus bisa mengelola perasaanya dengan baik, jika Agus tau dia masih memiliki cinta untuk Axel dia pasti akan marah besar. Tak hanya marah, dia mungkin juga akan menendang Dinda keluar dari rumah itu.


Merasa risih dengan kelakuan mesum pasangan kekasih itu, Dinda berencana untuk melaporkan perbuatan keduanya kepada Agus. Tentunya agar Agus menceramahi Axel dan melarangnya membawa sembarang wanita masuk ke dalam rumah. Apa lagi ke dalam kamar pribadi.


Dinda adalah Ibu sambung Axel, mau tidak mau Axel harus patuh padanya. Dinda akan membuat peraturan baru untuk membatasi Axel berdekatan dengan wanita genit itu.


Dinda akan mencari dukungan dari Agus dan memanfaatkan kekuasaan Agus untuk membuat Alex patuh padanya. Bagaimanapun caranya, Axel harus menjauh dari wanita itu. Dinda merasa wanita itu hanya akan membawa pengaruh buruk dalam hidup Axel.


***


Sore menjelang, Axel masih saja asyik bercengkrama dengan kekasihnya. Kali ini dia mengajak wanita berbodi sintal itu untuk berenang bersama.


Jesika benar benar terlihat menggoda saat hanya memakai bikini berwarna merah muda. Terlebih saat kulit mulusnya dan rambut lurusnya basah terkena air, adik kecil Axel dibuat meronta-ronta olehnya.


Didalam air, Jesika sempat sempatnya menggoda Axel. Dia merogoh dan meremas biji ketumbar kekasihnya lalu berenang menjauh sambil tertawa terbahak bahak.


"Mau menggodaku ya? Apa kamu tidak takut dengan akibatnya?" Axel berenang mengejar Jesika.


Tawa dan canda keduanya terdengar sampai ke lantai dua, lewat kaca jendela kamarnya Dinda mengintip keharmonisan hubungan kekasih itu. Dinda merasa iri, hatinya terasa pedih dan terluka.


Dia mungkin sudah memiliki pendamping hidup, tapi Agus terlalu kaku dan selalu melakukan sesuatu dengan serius. Mungkin karena usianya yang jauh lebih tua daripada Dinda, jadi Dinda kesulitan untuk mengimbanginya.


Tak terasa, air mata Dinda kembali menetes. Dia meratapi nasib percintaannya yang tak sesuai dengan harapan. Percuma kalau kebutuhan finansial terpenuhi tapi batinnya jauh dari kata bahagia.


"Axel, tak bisakah kamu menjaga tingkah mu didepan ku? Apa kamu sedang membalas dendam padaku?" Gerutu Dinda lirih.


Dengan tidak melihat situasi dan kondisi, Axel dan Jesika mencuri waktu untuk melakukan pergulatan di kolam renang. Ningrum dan beberapa petugas keamanan mengintip dari jauh kelakuan konyol anak majikan mereka.


"Kalau pak Agus tau, tamatlah riwayat dia," gerutu Ningrum.

__ADS_1


"Sering sering saja seperti itu, agar kita punya hiburan gratis di rumah," ucap salah seorang penjaga keamanan.


Bersambung...


__ADS_2