Belenggu Cinta Anak Tiri

Belenggu Cinta Anak Tiri
Jesika Marah


__ADS_3

Sarapan pagi hari itu terasa canggung bagi Dinda dan Axel, setelah semalam mereka melakukan aksi ciuman panas di balkon rumah. Meski Dinda berusaha bersikap cuek dan santai seolah tidak terjadi apa apa, tapi di dalam hatinya masih ada rasa takut, Axel mengadukan hal itu pada Ayahnya.


Sementara axel terus memperhatikan wajah Dinda dari jauh, sesekali dia tersenyum karena teringat pada ciuman balasan dari Dinda. Karena kejadian itu Axel sangat yakin kalau Dinda masih memiliki rasa kepadanya.


"Beberapa hari lagi aku akan pergi ke luar kota, kalian berdua baik baik di rumah ya, jangan bertengkar," pesan Agus.


Seketika Axel berjingkrak kegirangan, akhirnya dia bisa menghabiskan waktu berdua saja di rumah itu tanpa ada yang mengganggu. Tapi, masih ada seorang ART disana, Axel harus mengatur rencana untuk ART-nya itu.


Sementara Dinda cemberut, dia tidak suka di rumah hanya berdua dengan Axel. Mantan pacarnya itu pasti akan mencari cara untuk merayu dan menggoda dirinya, semalam adalah contohnya.


"Tapi kamu tidak pergi terlalu lama kan?" Tanya Dinda. Dia menunjukan wajah tidak sukanya dan memancing kekesalan Axel.


"Kenapa memangnya? Takut di serang rasa kangen ya?" Goda Agus sambil tertawa.


Melihat sang Ayah dan Dinda bermesraan seperti pasangan normal lainya, Axel terbakar cemburu. Dia memasang wajah masam dan menyudahi sarapan paginya.


Dia berlalu pergi, daripada melihat pemandangan itu lebih baik dia masuk ke dalam kamar lagi dan bersiap untuk berangkat ke kampus.


"Axel, mau kemana kamu?" Tanya Dinda saat melihat Axel mau beranjak dari kursi.


"Aku mau ke kampus," sahut Axel pelit.


"Ingat ya, jangan berhubungan dengan wanita genit itu lagi. Aku khawatir dia akan membawa pengaruh buruk padamu," celetuk Dinda.


"Jangan ikut campur dengan urusan pribadiku!" Bentak Axel.


"Axel, bersikaplah sopan pada Ibumu!" Bentak Agus. Axel tidak peduli dengan omelan Ayahnya, dia pergi begitu saja tanpa berkata sepatah katapun kepada kedua orang tuanya.


Axel seperti memiliki dua kepribadian, terkadang dia terlihat lembut, tapi terkadang pula dia terlihat begitu kasar. Dinda dibuat pusing olehnya, kewalahan menghadapi sikap anehnya.

__ADS_1


"Yang sabar ya, aku yakin suatu saat nanti dia akan berubah," ucap Agus pada Dinda. Saat itu, Dinda hanya menjawab dengan anggukan kepala.


***


Axel bolos kuliah, dia pergi ke rumah Jesika hari ini. Menghabiskan waktu berdua seharian di rumah itu, bersenang senang dan bermesraan. Jesika seperti obat stres bagi Axel, meski pesona dan posisinya dihati Axel kalah oleh Dinda.


Bicara soal Dinda, Axel benar benar yakin kalau dia masih menyukai dirinya. Terlihat dengan jelas dari sorot mata wanita itu yang terlihat tajam dan sikap protektifnya yang menginginkan dirinya menjauh dari Jesika.


Ambisi dalam diri Axel untuk merebut Dinda dari sang Ayah semakin membuncah, dia harus memanfaatkan momen kepergian Ayahnya keluar kota esok hari dengan baik.


"Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?" Jesika membelai lembut rambut Axel yang sedari tadi duduk melamun diatas ranjang.


"Tidak ada," Axel menyunggingkan senyum.


"Bagaimana kalau nanti malam kamu menginap di sini? Orang tuaku baru akan kembali dari luar kota Minggu depan," pinta Axel.


"Buatkan aku makanan penyembuh lapar, jika masakan mu rasanya enak aku akan menginap. Tapi jika tidak, aku akan menginap lain kali saja," sahut Axel.


Jesika beranjak dari tempat tidur, dia memakai kembali pakaiannya yang berserakan di lantai dan berjalan lambat menuju dapur. Memasak bukanlah keahlian Jesika, tapi bukan berarti dia tidak bisa memasak sama sekali.


Jesika mencoba membuat dua porsi mi nyemek, berbekal resep masakan dari google. Berbagai bahan baku yang digunakan adalah kualitas premium, Jesika yakin rasa masakan yang dibuatnya rasanya akan enak.


Setelah hampir satu jam dia berkutat di dapur, akhirnya dua porsi mi nyemek ekstra pedas telah siap. Jesika kembali ke kamar dan memanggil axel untuk makan siang bersama.


Sekilas, masakan Jesika terlihat enak di mata Axel. Tapi dari aroma Axel bisa tau kalau rasa masakan itu tidak lebih enak dari masakan Dinda. Dinda adalah jagonya memasak, koki bintang lima pun kalah olehnya.


Satu suap, dua suap, Axel memasukan mi itu ke dalam mulut dan merasakan rasanya.


"Bagaimana? Enak tidak?" Tanya Jesika. Dia tidak sabar mendengar jawaban dari kekasihnya.

__ADS_1


"Enak, tapi belum bisa menandingi rasa masakan Ibu sambung ku. Masakan dia jauh lebih enak dari masakan mu," celetuk Axel tanpa mimik rasa bersalah.


Jesika menekuk wajahnya, dia kesal karena Axel membandingkan dirinya dengan Dinda. Jesika curiga kalau Axel memiliki perasaan pada wanita itu, jika benar begitu, apa arti posisinya dihati Axel saat ini? Hanya sekedar pelipur lara saja kah? Atau sekedar penghibur disaat gundah gulana? Menyebalkan!


"Tolong jangan bandingkan aku dengan wanita manapun, apa lagi dengan Ibu sambung mu," celoteh Jesika.


"Kenapa memangnya?" Axel memasang tampang polos.


"Karena aku paling tidak suka dibanding bandingkan dengan wanita lain," jelas Jesika.


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk membandingkan dirimu dengannya," tapi Axel tidak memasang ekspresi wajah menyesal sedikitpun.


"Baiklah, lain kali jangan diulangi!"


Tidak ada yang bisa menjadi Dinda didunia ini, baik itu Jesika atau wanita manapun. Axel merasa hanya Dinda lah yang cocok untuknya, dulu, sekarang, atau nanti.


Meski Axel memiliki hubungan dengan Jesika, pria itu tidak akan pernah bisa menghapus Dinda dari hatinya. Karena sebenarnya, Dinda telah mengambil semua perasaan yang ada di sana.


Hari itu, Axel tidak pergi ke kampus. Dia lebih memilih bersenang senang dengan Jesika dan menggempurnya hingga beberapa kali. Ya, tubuh seorang wanita memang bisa dijadikan hiburan oleh seorang pria, Axel sedang merasakan hal itu.


Selesai bermain yang ke sekian kalinya dengan Axel, Jesika membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Dia kelelahan, tapi otaknya masih bisa berpikir dengan keras.


Jelas sekali kalau Axel menyukai Ibu tirinya, tapi kalau dia suka pada Dinda kenapa dia mengajak Jesika berpacaran? Apa dia sedang menjadikan Jesika sebagai pelampiasan hasrat liarnya saja?


Jesika mulai ketakutan, dia telah memberikan segalanya untuk Axel. Untuk bisa mendapatkan pria itu dan menjadi kekasihnya. Bagaimana jika dia tidak serius padanya dan pergi meninggalkannya? Sungguh, Jesika sedikit menyesal.


Laki laki setelah merebut mahkota perempuan tidak akan meninggalkan bekas, tapi kalau perempuan sudah direbut mahkotanya oleh laki laki akan meninggalkan bekas seumur hidup. Jadi, bagi kaum perempuan. Ada baiknya kalian menjaga diri dari buaian omongan manis dan janji manis seorang laki laki.😀✌️


Jangan lupa like, vote dan komennya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2