
Dua hari pasca insiden penamparan itu, Axel tidak pulang ke rumah. Dinda merasa cemas dan khawatir takut terjadi apa apa pada dirinya.
Ingin rasanya Dinda menelfon Axel, tapi dia tidak memiliki nomor ponsel pria itu. Mungkinkah Axel merasa sakit hati padanya karena dia telah menamparnya waktu itu? Kepala Dinda diserang rasa pening dan bingung mau melakukan apa.
Malam semakin larut, Dinda masih saja terjaga sambil mondar mandir seperti setrikaan di depan ruang tv. Dia menunggu kepulangan Axel, siapa tau malam ini dia pulang ke rumah.
Tebakan Dinda benar, suara sepeda motor parkir di halaman rumah terdengar menderu deru. Dinda langsung membuka pintu rumahnya lebar lebar.
"Dari mana saja kamu?" Dinda menghadang Axel yang hendak masuk ke dalam rumah.
"Bukan urusanmu!" Axel mendorong Dinda hingga terjatuh dan kepalanya membentur tembok.
"Awh..." Dinda menjerit kesakitan dan menangis. Mendengar hal itu, Axel menoleh kebelakang dan terkejut.
"Dinda, maafkan aku. Aku tidak bermaksud melukai kamu," Axel panik saat melihat kening Dinda terluka.
Segera, Axel membopong Dinda ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam kamarnya. Axel mencari kotak obat, mengobati dan menutup luka di kepala Dinda dengan plester.
Axel memasang wajah bersalah, dia mengelus pipi Dinda dan mencium keningnya dengan lembut. Tanpa sengaja, Dinda melihat ada luka di ujung bibir Axel, luka itu adalah karena tamparan dari Dinda dua hari lalu.
"Kita seri, kemarin aku melukaimu dan hari ini kamu melukai aku,"
"Sungguh, aku tidak bermaksud melukai kamu sayang,"
"Jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu, aku ini Ibumu,"
"Kamu bukan Ibuku, selamanya kamu adalah Dinda wanita yang paling aku cintai di dunia ini,"
__ADS_1
Hati Dinda tersentuh, dia merasa begitu sangat dicintai oleh pria yang pernah melukai jiwa dan raganya itu. Reflek Dinda mencium ujung bibir Axel yang terluka, dia melupakan harga diri yang kemarin masih di junjung dengan tinggi.
Axel menyambut dengan baik ciuman dari Dinda, dia langsung meraih tengkuk Dinda dan melahap habis bibir manis wanita itu. Keduanya terbuai dalam balutan dosa yang indah, dosa yang mungkin akan mereka sesali suatu saat nanti.
Satu persatu pakaian mereka terlepas, jatuh berhamburan di lantai. Mereka saling mencium, memeluk dan meremas satu sama lain, hingga akhirnya sampai ke titik penyatuan.
Suara ******* dan erangan Dinda malam itu menghiasai penjuru kamar, terdengar merdu dan begitu sangat menggoda. Memompa semangat Axel untuk terus bergerilya diatas sana, memuaskan hasrat pasangannya yang sedang menggebu-gebu.
Malam itu, dunia seolah menjadi milik mereka berdua. Mereka tak peduli dengan keberadaan pengawal dan seorang Art di rumah itu, toh mereka terlalu takut dengan Agus dan tidak akan mungkin berani mengadukan hal itu kepadanya.
***
Pagi hari, pasangan mesum itu terbangun dengan kondisi mengenaskan. Tubuh lelah, rambut acak acakan, dan kulit yang lengket karena keringat. Keduanya saling menatap sesaat, lalu tersenyum satu sama lain.
Entah berapa kali mereka melakukan penyatuan semalam, yang jelas, keduanya sama sama bringas dan puas. Meski lelah, keduanya tidak menolak jika harus mengulangi aktifitas menyenangkan itu lagi.
"Selamat pagi cantik," sapa Axel.
"Terimakasih, karena malam ini kamu telah membuat aku puas," Axel tersenyum nakal.
"Aku tidak memakai pengaman apapun, bagaimana kalau nanti aku...?" Ucapan Dinda terputus.
"Hamil Maksud kamu? Tidak apa, aku akan bertanggung jawab,"
"Jangan bohong ya?"
Iya. Ngomong ngomong, aku ingin lagi,"
__ADS_1
"Kita bahkan belum mandi," tolak Dinda.
"Kalau begitu ayo kita lakukan di kamar mandi sambil mandi,"
Lagi, Axel membopong Dinda ala bridal style. Tapi kali ini dia membawa istri dari Ayahnya itu pergi ke kamar mandi.
Ceklek....
Pintu kamar mandi tertutup dan terkunci rapat, Dinda menyalakan shower lalu berdiri tepat diatasnya. Kucuran air dingin membasahi tiap inci kulit tubuh dan wajahnya, tanpa terkecuali rambut panjang nan hitam legam. Membuat dia terlihat begitu sangat seksi dan menggoda.
Glek...
Axel menelan ludah, dia memeluk wanita itu dari belakang sambil menghujani bagian bahu Dinda dengan kecupan kecupan kecil.
"Hentikan!" Ucap Dinda yang kesal karena merasa geli.
"Aku tidak bisa berhenti mencumbu mu, kamu seperti segelas wine yang begitu manis dan membuatku ketagihan,"
Axel kembali melancarkan aksi nakalnya, dia meraba, meremas, area sensitif Ibu tirinya. Membuat wanita berumur dua puluh tahun itu menggelinjang seperti cacing kepanasan.
Sentuhan Axel terasa begitu berbeda, sangat hangat dan lembut. Dalam beberapa menit saja Axel mampu membangkitkan gairah bercinta seorang Dinda yang telah meredup.
"Kamu benar benar tidak memberiku waktu untuk beristirahat," Dinda membalik tubuhnya dan mengalungkan tangannya ke leher Axel.
"Salah sendiri kamu memiliki wajah yang cantik, tubuh yang montok dan begitu sangat menggoda." Ucap Axel tanpa memalingkan tatapan matanya ke bibir Dinda.
Ada sensasi berbeda Dinda rasakan ketika bermain dengan Axel, dia merasa lebih bergairah dan bersemangat. Mungkin karena Axel jauh lebih muda daripada Agus.
__ADS_1
Sepertinya Dinda akan kecanduan Axel, begitu juga sebaliknya. Dan mulai hari itu hubungan mereka berdua tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Bersambung...