Belenggu Cinta Anak Tiri

Belenggu Cinta Anak Tiri
Godaan Anak Tiri


__ADS_3

Esok hari, Agus pamit pergi kepada istri dan anaknya. Jelas sekali pria tua itu merasa sedikit sedih karena harus meninggalkan Dinda dalam waktu yang cukup lama, andai saja dia boleh membawa Dinda, dia pasti sudah mengajak istrinya itu bersamanya.


Sementara Dinda hanya diam membisu, bukan karena merasa sedih akan ditinggal oleh suaminya. Tapi karena dia melihat ada banyak bekas tanda cinta di leher dan dada Axel. Pagi itu Axel mengenakan kaos singlet super tipis seolah ingin menunjukan kepada Dinda tentang permainannya yang begitu seru dengan Jesika kemarin.


Ternyata omelan dan ancaman Agus tidak mempan pada Axel, dia terus saja menemui wanita gatal itu dan melakukan hubungan terlarang. Dinda harus mencari cara untuk merusak keharmonisan hubungan mereka, bagaimanapun dia tidak rela jika Axel terus menerus menjalin kasih dengan wanita lain.


"Tolong awasi bocah tengik itu, jika dia melakukan tindakan bodoh lagi segera laporkan padaku," ucap Agus sembari melirik kearah Axel.


Mendengar ucapan Ayahnya, Axel mendelik. Dia merasa sikap Ayahnya padanya terlalu berlebih lebihan.


"Sudah sewajarnya anak muda melakukan kenakalan, seolah dia tidak pernah melakukannya saja!" Umpat Axel dalam hati.


"Kamu tenang saja Pak, aku akan mengawasinya dengan baik dan benar," Dinda tersenyum sinis.


Usai memeluk dan mencium kening istrinya, Agus masuk ke dalam mobil. Kemudian melesat pergi menuju kota sebelah untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya di sana.


Dinda masuk ke dalam rumah, dia menaiki anak tangga menuju kamarnya. Tiba tiba Axel menarik lengannya dan mengunci tubuh Dinda dengan dua tangannya yang kekar.


"Apa apaan kamu?" Sentak Dinda.


"Kamu yang apa apaan? Apa maksud omongan mu pada Ayah tadi? Kamu mau menjadi cctv berjalannya?" Ucap Axel.


"Iya, kenapa memang?" Tantang Dinda.


Saat sedang asyik ribut, Art pribadi dirumah itu memergoki aksi mereka berdua. Panik, Axel melepas cengkraman tangannya pada Dinda dan membuat wanita itu terhuyung hingga hampir terjatuh.


"Aaaaaa..." Dinda berpegangan pada sisi tangga.


"Anak sial! Tidak bisakah kamu sedikit bersikap sopan pada Ibu sambung mu ini?"

__ADS_1


Teriak Dinda kesal.


Bukannya menolong Dinda, Axel malah bersikap tidak peduli dan berlalu pergi seolah tidak memiliki beban dosa.


***


Suasana makan malam kali itu terasa sunyi tanpa kehadiran Agus, tidak ada yang bisa diajak mengobrol dan ribut. Meskipun ada Axel, pria itu lebih terlihat seperti bongkahan gunung es di kutub Utara. Jangankan bicara, melirik saja tidak.


Dinda buru buru menyantap makanannya sampai habis, dia tidak mau terlalu lama berduaan saja dengan Axel di ruang makan. Selesai menyantap makanannya, Dinda menaruh piring kotor ke tempat cuci piring dan berniat kembali ke dalam kamarnya.


"Maafkan aku," tiba tiba kata itu keluar dari mulut Axel. Dinda menghentikan langkah kakinya dan menoleh kearah Axel.


"Dia bilang apa? Minta maaf? Apa isi kepalanya sudah bergeser?" Batin Dinda. Dia seolah tak percaya Axel mau mengatakan kata ajaib yang bisa menghapus segala luka itu.


"Aku tidak bermaksud ingin membahayakan kamu tadi, aku kaget karena tiba tiba Art itu muncul di sisi kita," lanjut Axel.


"Oke,"


***


Malam semakin larut, Dinda bersiap menarik selimut dan berbaring diatas kasurnya yang empuk. Hatinya merasa sedikit aneh, mungkin karena Agus tidak ada di sisinya saat ini.


Pria itu belum mengirim pesan padanya seharian ini, Dinda sedikit khawatir. Otaknya terus berpikir apakah Agus baik baik saja di sana? Apakah dia sudah sampai di tempat tujuan?


Tok... Tok... Tok...


Terdengar seseorang mengetuk pintu, Dinda bangkit dari atas kasur dan membuka pintu. Terlihat Axel sedang berdiri didepan kamarnya, wajahnya pucat dan tubuhnya sedikit menggigil.


"Ada apa?" Tanya Dinda.

__ADS_1


"Bisa tolong kerok punggungku dengan minyak gosok dan koin? Sepertinya aku masuk angin," sahut Axel lemas.


Merasa iba, Dinda langsung mempersilahkan Axel masuk ke dalam kamarnya. Dia mencari minyak gosok dan koin untuk mengerok punggung putra tirinya itu.


Axel berbaring duduk diatas sofa, diam diam dia memperhatikan bentuk tubuh Dinda yang terbalut baju tidur super tipis dan seksi. Adik kesayangannya berdiri, terlebih saat matanya menatap bagian depan dan belakang milik Dinda yang berukuran super juga kencang.


"Lepas kaos mu," pinta Dinda. Axel mencopot kaosnya dan tengkurap diatas sofa.


Perlahan, Dinda mengoles minyak gosok diatas punggung Axel dengan lembut lalu mengerok dengan koin secara perlahan. Rasa perih dan sakit mulai terasa, karena meskipun pelan ternyata Dinda menggosoknya dengan kuat.


"Uh..." Suara sakral keluar dari mulut Axel. Terdengar menggoda dan seksi di telinga Dinda.


Pikiran kotor mulai menyelimuti otak Dinda, terlebih saat dia melihat bekas cakaran sedikit memanjang di tengah punggung Axel. Rasa penasaran muncul seketika. Sehebat itu kah permainan Axel pada Jesika? Apa dia lebih jago dan lihai dari Ayahnya?


Dinda menggeleng gelengkan kepalanya, mencoba menghempaskan pikiran kotor dari kepalanya. Dia harus bisa menahan diri, jangan sampai dia tergoda untuk melakukan sesuatu diluar nalar dan akal sehatnya.


"Sudah selesai, pakailah kaos mu," Dinda menaruh minyak gosok dan koin bekas pakai di atas meja.


"Terimakasih," ucap Axel.


Dinda membuka laci meja, dia mengambil sebuah obat herbal dan memberikannya kepada Axel.


"Minum ini dan cepat tidur, besok pagi kamu akan baikan," Dinda memberikan obat itu pada Axel.


"Ya, semoga saja. Tapi kalau belum juga sembuh bagaimana?"


"Pergi ke Dokter lah. Masalah seperti itu saja harus bertanya dulu kepadaku." Cicit Dinda sinis.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2