
Kring... Kring... Kring...
Ponsel Dinda berdering, suaranya terdengar begitu menekankan gendang telinga.
Dinda terpaksa harus menyudahi aktifitas panasnya dengan Axel untuk mengangkat telfon tersebut. Hingga membuat Axel merasa kesal dan kecewa.
"Hallo, Pak. Apa kabar?" Sapa Dinda manis pada suaminya.
"Baik, kamu sendiri bagaimana?" Sapa Agus balik.
"Kabarku baik,"
"Kenapa lama sekali angkat telfonya?"
"Maaf, aku sedang di kamar mandi tadi," Dinda berbohong. Dia melirik kearah Axel dan memberi kode padanya agar menutup mulut.
"Kunci pintu dan jendela kamarmu, aku ingin Vidio call," pinta Agus.
"Hanya Vidio call saja harus tutup pintu dan jendela segala,"
"Aku rindu padamu, aku ingin melihat dirimu yang polos tanpa penutup apapun," ujar Agus.
Dinda mendelik, dia tak menyangka pria tua itu memiliki keinginan yang liar. Mungkin jiwa fantasinya dalam bercinta juga lebih liar dari anak muda.
Sementara itu, Emosi dalam diri Axel bergejolak. Dia cemburu karena pria itu meminta jatahnya sebagai seorang suami kepada Dinda. Dinda kebingungan, di dalam kamar sedang ada Axel. Jika dia mengusir Axel, pasti Axel akan marah. Tapi kalau tidak, Dinda akan terkena masalah.
"Tunggu sebentar ya, aku bersih bersih dulu. Nanti aku telfon lagi," Dinda mencari cara untuk menenangkan kekasihnya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Oke sayang, jangan lama lama ya!"
"Iya."
Klak...
Dinda menutup telfon, dia menaruh ponselnya diatas meja dan berjalan mendekati Axel. Axel membuang wajah, jelas sekali dia tidak suka kalau Dinda menuruti kemauan suaminya.
"Sekian dulu untuk hari ini ya, nanti kita lanjut lagi," Dinda meraih dagu Axel dan mencium pipinya.
"Tak bisakah kamu menolak keinginan Ayahku?"
"Tidak bisa, dia suamiku. Aku harus selalu patuh padanya, terutama soal itu,"
"Aku tidak rela dia menikmati lekuk tubuhmu yang indah itu, harusnya semua itu hanya boleh menjadi milikku!" Axel meninggikan suara. Dinda hanya bisa menatapnya tanpa bisa berkata apa apa.
Dinda merapihkan kamarnya, dia mengunci semua pintu dan jendela seperti yang di inginkan oleh Agus. Segera, dia mengganti pakaiannya dengan seragam dinas super seksi untuk menghibur dan menyenangkan suaminya yang jauh disana.
***
Berpura pura itu melelahkan, seperti yang baru saja Dinda lakukan tadi. Dia harus berpura pura ikut menikmati permainan suaminya secara virtual, agar pria itu tidak marah kepadanya.
"Apa yang sedang Axel lakukan sekarang? Aku harus segera menemuinya," gumam Dinda lirih.
Dinda memakai kembali pakaiannya lalu melangkah pergi menuju kamar Axel.
Tok... Tok... Tok...
__ADS_1
Dinda mengetuk pintu, tak ada jawaban dari dalam kamar itu. Dinda merangsak masuk ke dalam kamar, tapi sosok Axel tidak ada disana.
"Kemana dia?" Dinda bertanya tanya.
Dinda mencoba mencari keberadaan Axel di setiap sudut rumah, akhirnya dia bisa menemukan pria itu. Axel terlihat sedang duduk di halaman belakang sambil memberi makan ikan ikan hias yang hidup sehat di kolam.
"Untuk apa kamu mencari ku?" Tanya Axel ketus.
Dinda tak menjawab pertanyaan Axel, dia memeluk tubuh pria itu dari belakang sambil memberi ciuman diarea leher. Ciuman itu berhasil membuat Axel merem melek hingga kehilangan hasratnya untuk marah pada Dinda.
Axel menarik Dinda dan memintanya duduk diatas pangkuannya. Keduanya bermain perang lidah dan melakukan pemanasan super heboh, mereka sampai lupa kalau saat ini sedang berada di tempat terbuka.
"Emh..." Leguh Dinda saat Axel meraba area sensitifnya. Suara manja nan menggoda wanita itu membuat jiwa kelakian Axel bangkit.
"Kita pindah ke dalam saja yuk," bisik Axel di telinga Dinda.
"Tidak mau, aku ingin kita bermain out door. Selain lebih seru dan menantang, kita juga bisa melihat bintang bintang di langit," ucap Dinda sembari mengulum senyum.
"Baiklah, aku turuti kemauan mu. Lagi pula tidak ada cctv di sini."
Penyatuan pasangan selingkuh itu terjadi lagi. Tanpa ragu, keduanya saling melucuti pakaian masing masing. Mereka bercumbu layaknya pasangan muda mudi yang tengah di mabuk asmara.
Tidak ada yang berani datang ke halaman belakang malam itu, entah itu para penjaga atau ART rumah tangga. Mereka akan menutup mulut dan telinga, bersikap seolah olah tidak mendengar atau melihat perselingkuhan yang terpampang nyata dihadapan mereka.
Para pekerja itu takut kalau buka suara, takut di pecat oleh Pak Agus, takut keluarganya di teror oleh Axel dan gengnya. Kalau diam bisa membuat pekerjaan dan keluarga mereka aman, maka mereka akan lebih memilih diam daripada buka suara.
Bersambung...
__ADS_1