Belenggu Cinta Anak Tiri

Belenggu Cinta Anak Tiri
Ciuman Axel


__ADS_3

Agus kembali dari tempat kerja, Dinda menyambutnya dengan hati senang. Dia sudah tidak sabar mengadukan perbuatan Axel padanya hari ini, pria itu pasti akan langsung murka dan marah pada Axel.


"Pak, ada yang mau aku katakan padamu," ucap Dinda pada Agus.


"Soal apa?" Agus melonggarkan dasinya.


"Hari ini pacar Axel datang ke rumah, Axel langsung membawanya ke dalam kamar dan berbuat mesum. Parahnya, mereka berdua juga tidak malu untuk berciuman di depanku," tutur Dinda panjang lebar. Sangat melaporkan semua kenakalan anaknya itu wajahnya terlihat merah dan berapi api.


"Anak itu memang keterlaluan, sekolah saja belum becus sudah berani bermain wanita. Tenang saja, aku akan memberinya pelajaran nanti," Agus menyeringai kesal.


Dinda tersenyum, dia senang karena apa yang dia inginkan akan segera terwujud. Sebentar lagi, Axel akan habis di marahi oleh Ayahnya dan tidak akan berani membawa masuk wanita ke rumah itu lagi.


Berani mengajak Ibu tiri bermain? Axel lupa kalau sang Ibu tiri adalah pasang dari Ayahnya.


***


Jam makan malam tiba, seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang makan. Agus memperhatikan bekas cakaran dan gigitan yang nampak jelas di tubuh putranya, cukup banyak dan bertebaran di mana mana.


Kepala Agus mendadak diserang migrain, bagaimana bisa seorang pelajar memiliki bekas bercinta sebegitu banyak? Belajar dari mana dia? Apa di kampusnya ada mapel khusus bercinta? Ah, pasti bocah itu rajin menonton film biru.


"Aku dengar dari Ibumu, hari ini pacarmu datang ke rumah," celetuk Agus.


"Iya, benar. Kenapa memangnya?" Tanya Axel sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.


"Kamu masih muda, belajar dulu yang betul baru memikirkan pacaran. Kamu belum bisa cari uang sendiri sudah berani membawa perempuan ke dalam kamar, tidak tau malu!" Sindir Agus pedas.


Benar dugaan Axel, Dinda pasti akan mengadu kepada Ayahnya. Dia seperti cctv berjalan yang selalu mengawasi gerak geriknya di setiap sudut rumah. Benar benar wanita menyebalkan!


"Kalau cemburu bilang saja terus terang, jangan berusaha menggunakan Ayah sebagai alat untuk mengekang ku," gerutu Axel dalam hati.


"Waktu kecil, kamu memiliki cita cita tinggi. Kemana perginya cita cita tinggi mu itu? Aku menaruh harapan begitu banyak padamu, jadi jangan kecewakan aku," lanjut Agus.


Dinda membisu, dia terus saja melakukan aktifitasnya tanpa memperdulikan suami dan anak sambungnya yang sedang ribut. Seolah dia tidak ikut andil dalam penyebab terjadinya pertengkaran dua manusia itu.


Sementara itu Axel terus menatap Dinda dengan tatapan kesal. Sikap cuek dan santai wanita itu terasa seperti dua bilah mata pisau yang menyayat hatinya secara bergantian.

__ADS_1


"Sebagai orang tua, kami tidak melarang kami berpacaran. Asalkan kamu tidak berbuat di luar batas," sambung Dinda.


"Iya, benar kata Ibumu. Bagaimana kalau nanti wanita itu hamil dan meminta dinikahi? Kuliahmu akan terputus, hidupmu akan susah karena tidak memiliki pekerjaan yang menjanjikan," timpal Agus.


"Kalian berdua, berhentilah menceramahi aku. Telingaku panas mendengar ocehan tidak jelas kalian!" Ucap Axel ketus.


Brakkkkk...


Axel menggebrak meja, Dinda dan Agus tersentak dibuatnya. Setelah itu dia pergi begitu saja dan membiarkan makanan diatas piringnya utuh.


Axel benar benar tidak bisa dikendalikan, Agus bingung bagaimana cara untuk menjinakkan anak liar itu. Sama seperti Agus, Dinda juga kebingungan. Dia bingung mencari cara untuk menjauhkan Axel dari wanita itu jika nasehat Agus tidak mempan padanya.


Membiarkan Axel terus menjalin kasih dengan Jesika sama halnya dengan bunuh diri secara perlahan. Terlebih jika Jesika sering berkunjung ke rumah dan memamerkan kemesraan mereka berdua. Bisa bisa Dinda mati terpanggang api cemburu.


"Maafkan aku, karena Axel belum juga mau menerima kamu sebagai Ibunya," keluh Agus. Dia meraih wajah Dinda dan mengelus pipinya.


"Tidak apa apa, memang butuh waktu cukup lama bagi seseorang untuk menerima orang baru dalam hidup mereka," Dinda mengukir senyum simpul.


Dalam hati, ada rasa kecewa sekaligus penasaran. Sebaik apa Jesika dimata Axel? Sampai sampai dia enggan untuk menjauhi wanita itu dan mengakhiri hubungan mereka.


"Sayang? Apa yang sedang kamu lakukan?" Kata Agus.


"Aku sedang mencuci piring,"


"Kamu tidak perlu melakukan itu, biarkan Ningrum yang melakukannya,"


"Ah, hanya mencuci piring tiga saja harus Ningrum. Manja sekali aku," Dinda tersenyum kecil.


"Aku tidak salah pilih istri, selain cantik ternyata kamu sangat rajin," puji Agus.


"Jangan terlalu tinggi memuji, aku takut kamu kecewa." Dinda memberi sebuah peringatan kepada Agus.


***


Dinda mengangkat pakaian bersih di balkon, sementara Agus tengah sibuk menonton acara televisi favoritnya. Diam diam Axel menyusul Dinda, dia ingin membuat perhitungan dengan mantan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Ada apa kamu mencari ku?" Tanya Dinda. Dia sedikit kaget saat melihat sosok mantan kekasihnya menyusulnya ke balkon.


"Apa kamu cemburu pada kedekatan ku dengan Jesika? Oleh karena itu kamu mengadukan aku pada Ayah, agar aku dan Jesika bisa putus, apa betul begitu?" Tuduh Axel.


"Tuduhan mu itu tidak mendasar Axel, bagaimana mungkin seorang Ibu tiri cemburu pada anak tirinya sendiri?" Dinda berusaha keras membantah. Meski dia tau usahanya tidak akan membuahkan hasil.


Axel menarik tangan Dinda, memasukannya kedalam pelukannya. Dinda tersentak kaget karena Axel berani berbuat semacam itu padanya. Pandangan keduanya beradu, untuk beberapa saat mereka saling memperhatikan satu sama lain.


"Lepaskan aku!" Dinda berontak.


"Katakan padaku kalau kamu sudah tidak mencintai aku,"


"Aku tidak mencintaimu," Dinda memalingkan pandangannya dari Axel.


"Tatap mataku!"


"Tidak mau,"


Tanpa ba... Bi... Bu... Axel langsung menyambar bibir Dinda dan melahapnya dengan rakus. Awalnya Dinda menolak dan berontak, tapi lama kelamaan dia menikmati permainan bibir pria tampan itu.


Axel tersenyum sinis, dia mulai berani meraba bagian sensitif tubuh Dinda dan meremasnya dengan kuat.


"Ah..." Sebuah leguhan kecil keluar dari tenggorokan Dinda.


Axel merasa ada yang berbeda dengan tubuhnya. Kenapa dia merasa nyaman dan nikmat saat bercumbu dengan Dinda? Sementara saat bercumbu dengan Jesika dia merasa sangat hambar walau bisa mencapai pelepasan.


Kesadaran Dinda kembali, dia mendorong tubuh Axel dan bergerak menjauh darinya. Beberapa detik kemudian Agus tiba tiba muncul di tempat itu.


"Axel, sedang apa kamu di sini?" Agus menatap curiga.


"Dia... Dia sedang membantuku mengangkat jemuran kering," Dinda memberikan beberapa potong pakaian kepada Axel dan Axel pun menerimanya.


Jantung Dinda serasa mau copot, dia khawatir kalau Agus menyaksikan perbuatan nakal mereka tadi.


"Kenapa Ayah bersikap biasa saja? Apa dia tidak melihat apa yang kami lakukan tadi?" Axel bertanya tanya dalam hati.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2