Belenggu Cinta Anak Tiri

Belenggu Cinta Anak Tiri
Bab 41


__ADS_3

Usai pemakaman Agus dilaksanakan, Dinda dijemput oleh kedua orang tuanya dan dibawa pulang oleh mereka. Tampang Dinda saat itu cukup memprihatinkan, wajahnya pucat dan tatapan matanya kosong. Jiwanya terguncang karena merasa telah menjadi penyebab meninggalnya Agus.


Untuk beberapa minggu, Dinda dan Axel putus komunikasi. Tak ada telfon, atau chat singkat via pesan singkat. Mereka tengah berduka dengan cara masing masing, hingga membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.


"Dinda, ayo makan dulu," ajak Laras pada putrinya yang sedang duduk termenung di teras rumah.


"Nanti saja Bu, Ibu dan Ayah duluan saja," sahut Dinda.


"Ya sudah kalau begitu, tapi nanti kamu makan ya," ucap Laras.


"Iya."


Dia jam berlalu, Dinda masuk ke dalam rumah. Dia pergi ke dapur untuk mengisi perutnya yang mulai terasa lapar. Sebenarnya Dinda tidak sedang nafsu makan, tapi dia harus tetap makan agar kesehatan tubuhnya tetap terjaga.


Melihat putrinya sudah masuk ke dalam rumah, Laras menghampiri Dinda dan mulai mewawancarainya dengan beberapa pertanyaan ringan.


"Din, setelah ini apa yang mau kamu lakukan? Kamu mau bekerja lagi atau kuliah lagi?" Tanya Laras. Dia menyeret kursi di sisi Dinda dan duduk di sebelahnya.


"Sepertinya aku ingin kerja lagi Bu," sahut Dinda.


"Apapun pilihan kamu Ibu akan mendukung kamu, yang penting kamu bahagia," Laras menepuk pundak Dinda.


"Terimakasih ya Bu." Dinda mengukir senyum kecil.

__ADS_1


***


Dinda mengirim pesan pada Irene, dia bertanya soal lowongan pekerjaan untuknya. Tak berselang lama, Irene menelfon Dinda. Wanita itu terlihat sangat penasaran kenapa tiba tiba Dinda menanyakan tentang lowongan pekerjaan.


"Bagaimana kabarmu Irene?" Tanya Dinda.


"Kabarku baik, kamu sendiri bagaimana?" Tanya Irene balik.


"Kabarku baik. Bagaimana? Ada lowongan kerja untukku tidak?" Tanya Dinda lagi.


"Kamu mau kerja? Memang di izinkan oleh suami kamu?" Irene sedikit heran.


"Dia sudah meninggal," celetuk Dinda.


"Meninggal? Kamu sekarang jadi janda dong?" Irene keceplosan.


Tidak ada yang salah dengan status janda, semua wanita juga tidak mau menjadi janda. Kenapa sebagian orang memandang janda sebelah mata?


"Meninggal kapan? Aku turut berduka cita ya," ucap Irene.


"Dia meninggal beberapa minggu lalu. Iya, terimakasih,"


"Di tempatku tidak ada lowongan, tapi ditempat temanku ada. Kalau kamu mau aku akan mengantarnya ke sana besok,"

__ADS_1


"Aku mau. Kita bertemu dimana?" Dinda terlihat begitu sangat bersemangat.


"Aku besok libur, aku akan datang menjemputmu ke rumah pukul sembilan pagi. Bagaimana?"


"Oke, aku tunggu ya!"


Selesai mengobrol, Dinda mematikan telfon. Dia merebahkan tubuhnya diatas kasur dan bersiap untuk tidur siang. Tiba tiba, pikirannya teringat pada Axel. Dia ingin tau kabar pria itu tapi dia sungkan untuk bertanya terlebih dahulu.


Ah, sudahlah. Lebih baik dia tidur dan mengistirahatkan otaknya sejenak, agar besok dia bisa melewati hari dengan pikiran lebih tenang dan damai lagi.


***


"Aku sudah bertanya pada pengacara pribadi keluarga Agus, mendiang Agus tidak memberikan sepersen pun warisan untuk Dinda. Alasannya karena Dinda tidak melakukan tugasnya dengan baik selagi menjadi seorang istri," tutur Arip pada Laras.


"Ayah memalukan sekali, untuk apa Ayah bertanya soal warisan pada orang itu," Laras sewot.


"Siapa tau Dinda dapat, Agus kan orang kaya. Tapi ternyata pelitnya bukan main," Arip kesal.


"Jangan bahas soal Agus lagi, terutama di depan Dinda. Biarkan anak kita menjalani harinya dengan baik, jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang sama."


Laras menyesal karena telah mengizinkan suaminya untuk menikahkan Dinda dengan Agus, kini anaknya telah menjadi janda diusia muda. Masa depan yang harusnya cerah malah berubah suram.


Memang tidak ada yang tau tentang nasib seseorang, tapi orang itu bisa mengupayakan yang terbaik untuk hidup mereka.

__ADS_1


Laras sangat berharap Dinda bisa bertemu jodohnya lagi, dan pria itu bukanlah Alex. Laras sangat tidak suka pada Alex, dia menilai Alex tidak bisa menjadi kepala keluarga yang baik untuk wanita manapun.


Bersambung....


__ADS_2