
Malam hari, sepulang kerja. Dinda dikagetkan dengan kedatangan Axel ke rumahnya. Dia ingin bersilaturahmi sekaligus mengantar pakaian yang Agus pesan untuk Dinda sebelum meninggal dunia.
"Axel, mau apa kamu ke sini?" Dinda lupa bagaimana caranya bersikap ramah pada pria itu.
"Aku kesini hanya mampir sebentar kok, mau mengantar baju pesanan mendiang Ayah buat kamu," ucap Axel.
Tak lama, Laras keluar dari dalam rumah membawa nampan berisi gelas minuman. Laras mungkin tak suka pada Axel, tapi dia tamu, dan tamu adalah raja yang perlu diperlakukan dengan baik.
"Minum dulu teh nya," Laras menaruh gelas itu ke atas meja.
"Bagaimana kabar kamu?" Laras basa basi.
"Baik Bu, Ibu dan keluarga bagaimana?"
"Kabar kami baik,"
"Ngomong ngomong, kamu dari mana Dinda?" Axel penasaran karena Dinda terlihat sangat rapih seperti baru saja pulang kerja.
"Aku baru dari tempat kerja," sahut Dinda malas.
"Oh, begitu,"
"Aku masuk ke dalam dulu ya, mau istirahat. Capek soalnya," Dinda langsung masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Ada yang berbeda dengan sikap Dinda setalah lama tidak bertemu dengan Axel, dia jadi dingin dan sedikit tidak ramah. Wajar saja, mereka saling los komunikasi dan menggantung perasaan mereka tanpa kejelasan.
Axel merasa mereka berdua harus bertemu dan berbicara dari hati ke hati, jika memang harus berakhir, semua harus berakhir dengan baik baik. Untuk itu, Axel harus mencari waktu yang tepat untuk menghubungi Dinda dan mengajaknya bertemu di suatu tempat.
***
Esok hari, diruang makan. Laras mewawancarai Dinda tentang hari harinya bekerja di butik.
"Apa bos kamu orang yang baik?" Tanya Laras.
"Iya, dia baik. Hanya saja sedikit cerewet," sahut Dinda.
"Cerewet itu wajar, namanya juga Bos. Pasti dia menuntut karyawannya untuk bekerja secara bagus dan rajin," sambung Arip.
"Loh, kenapa jadi bawa bawa Ayah? Bukannya kita sedang membahas tentang Bos Dinda tadi?" Arip merasa sedikit tersinggung.
"Sudah, jangan bertengkar di meja makan!" Dinda mulai tersulut emosi.
Pasangan suami istri itu memang sering bertengkar, tapi Dinda paling tidak suka jika mereka bertengkar di jam makan. Selain berisik, pertengkaran itu mengganggu selera makannya.
Wajar saja, Laras menyindir sang suami. Pasca bangkrut, pria itu malah memilih menganggur dan menggunakan uang tabungan masa tua mereka. Malah, Arip memperlakukan Dinda sebagai barang dagangan dengan cara menjodohkan dengan pria kaya dan memeras uangnya.
Sebenarnya Laras benci pada Arip, tapi mereka adalah pasangan suami istri. Laras berusaha untuk mengelola rasa marahnya agar tidak memperburuk hubungan rumah tangga mereka.
__ADS_1
***
Dinda turun dari angkutan umum, dia baru saja mau melangkah masuk ke dalam butik tempatnya bekerja dan tiba tiba Axel datang menahannya.
"Kamu kerja di sini?" Tanya Axel.
"iya," sahut Dinda pelit.
"Em...Aku mau bicara sebentar denganmu," ujar Axel.
"Soal apa?" Tanya Dinda.
"Soal kejelasan hubungan kita. Aku mau kita putus," Axel mengucapkan dengan hati hati.
"Bagus, aku juga ingin putus darimu. Mulai sekarang, berpura pura lah kita tak pernah kenal satu sama lain,"
"Kamu marah padaku?"
"Tidak,"
"Tapi kenapa kamu mau aku bersikap seperti itu padamu?"
"Itu yang terbaik untuk kita berdua. Maaf, aku mau masuk ke dalam dulu,"
__ADS_1
Dinda masuk kedalam butik, dia mengabaikan Axel yang masih ingin bicara banyak dengannya.