
Dinda membuat satu mangkok bubur dan satu gelas teh hangat untuk Axel. Dia membawa menu sarapan itu ke kamar Axel dengan perasaaan sedikit khawatir. Dia khawatir demam dan rasa sakit yang sedang di derita oleh pria itu tidak kunjung sembuh.
Tok... Tok... Tok...
Dinda mengetuk pintu, setelah Axel mengatakan masuk Dinda baru berani membuka pintu kamar itu.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Sudah baikan,"
"Makanlah dulu, setelah itu minum obat. Meski sudah baikan, kamu masih membutuhkan banyak waktu untuk beristirahat,"
Dinda meletakan nampan berisi bubur dan teh hangat diatas meja. Saat Dinda ingin beranjak pergi, Axel menahannya.
"Ada apa?" Tanya Dinda.
Axel menarik lengan Dinda dan membuat wanita itu jatuh kedalam pelukannya. Kini keduanya saling bertumpuk diatas kasur seperti rengginang yang lengket dan menempel satu sama lain.
Dag... Dig... Dug...
Jantung Dinda berdetak lebih cepat dari biasanya, darahnya mengalir deras saat pandangan mereka berdua bertemu. Jika sedang seperti itu, Axel terlihat sangat tampan dan manis. Wajar jika banyak wanita menyukainya, termasuk Jesika.
"Aku mencintaimu," ucap Axel lirih. Kedua pipi Dinda merona mendengar kalimat mesra itu.
Cup...
Axel memberi ciuman kilat di bibir Dinda, kali ini wanita itu tidak memberikan perlawanan, dia juga tidak menunjukan tanda tanda penolakan. Alhasil, Axel semakin berani mencium Dinda dengan brutal dan rakus.
"Emh..." Dinda menahan segala sensasi yang menjalar dengan menggigit ujung bibirnya.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti jari jemari Axel mulai menggerayangi tiap titik sensitif tubuh Ibu sambungnya itu. Dia meremas, mencubit dan mengelus lembut hingga membuat Dinda semakin mabuk kepalang.
Sentuhan Axel dirasa berbeda oleh Dinda, pria itu bermain sangat kalem dan tidak terburu buru seperti Agus, sehingga Dinda lebih bisa menikmati dan meresapi tiap sesi permainan. Kadar kesadaran Dinda menurun, dia tak lagi mengingat kalau dirinya telah bersuami dan saat ini pria itu sedang tidak ada dirumah.
Kring... Kring... Kring...
Ponsel Axel berdering, hal itu membuat fokus Dinda kembali terkumpul dan otaknya kembali berjalan seperti semula. Dinda bangkit dan melepaskan diri dari cumbuan Axel dan membuat pria itu merasa kecewa. Padahal sedikit lagi Axel bisa menikmati tubuh indah nan molek milik Dinda, tapi keinginannya itu terganggu oleh suara telfon masuk.
"Jangan pergi," pinta Axel saat Dinda beranjak meninggalkan kamar itu. Tapi sayang, Dinda tidak menggubris permintaan Axel dan meninggalkan dia begitu saja dengan keadaan si burung unta miliknya yang telah terbangun.
"Telfon sialan! Itu pasti dari Jesika," umpat Axel kesal.
Di dalam kamarnya, Dinda menyentuh anggota tubuhnya yang tadi di sentuh oleh Axel. Rasanya masih terasa walaupun mereka sudah tak lagi bersama. Ciuman dan sentuhan itu seperti candu yang memabukkan, membuat Dinda menginginkan lagi dan lagi.
Andai saja tadi telfon Axel tidak berdering, mereka berdua pasti sudah melakukan sebuah dosa yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup.
***
"Apa yang sedang kamu pikirkan sayang?" Tanya Agus penasaran.
"Ah, tidak ada. Hanya saja aku sedang rindu kedua orangtuaku," Dinda berbohong.
"Kalau kamu mau, kamu boleh mengunjunginya. Minta antar saja pada salah satu penjaga rumah,"
"Benarkah? Kamu tidak keberatan?" Dinda tersenyum senang.
"Tentu saja tidak, apapun yang membuatmu senang aku akan mengabulkannya,"
"Terimakasih banyak."
__ADS_1
Selesai menelfon, Dinda ingin pergi ke ruang makan karena perutnya sudah keroncongan. Tapi Dinda tidak memiliki nyali untuk bertemu dengan Axel lagi. Apa yang sedang Axel pikirkan tentang Dinda sekarang? Dia masih mencintai Axel? Atau Dinda adalah wanita murahan?
Dinda memukul kepalanya pelan, bisa bisanya dia melakukan tindakan bodoh seperti tadi. Tidak menolak saat di cumbu oleh axel, malah terkesan menikmati.
Kruyuk.....
Perut Dinda berbunyi, rasa laparnya tidak bisa di tahan lagi. Dengan sangat amat terpaksa Dinda akhirnya memberanikan keluar kamar dan pergi keruang makan.
Dinda menarik nafas lega karena suasana rumah saat itu sedang sepi, tidak ada seorangpun disana termasuk Axel. Dia bisa makan dengan lahap dan bebas tanpa merasa grogi.
Dinda mengambil piring, dia menyendok nasi, sayur dan lauk hingga penuh. Kemudian dia memakan makanan itu dengan terburu buru hingga dia tersedak dan batuk.
"Uhuk... Uhuk..." Dinda memukul dadanya pelan. Seseorang menyodorkan segelas air putih padanya, Dinda menerima dan langsung meminumnya sampai habis.
"Makanlah pelan pelan, tidak akan ada yang mau mengambil makananmu," bisik Axel di telinga Dinda.
Bulu kuduk Dinda berdiri, karena ujung bibir Axel menyentuh cuping telinganya. Melihat ekspresi wajah Dinda yang salah tingkah, Axel semakin gencar menggoda wanita seksi berparas cantik itu.
"Hentikan! " Hardik Dinda saat tangan kanan Axel mengelus area pahanya.
"Kenapa memangnya? Kamu malu karena kita tidak sedang berada di dalam kamar?" Axel tersenyum kecil.
Plak...
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Axel dengan kuat. Mata Dinda berair, dia kecewa karena Axel terdengar seperti orang yang sedang melecehkannya.
Setitik rasa bersalah muncul di hati Axel, tapi rasa cinta dan hawa nafsu yang menyelimuti dirinya jauh lebih besar. Kalau mereka masih sama sama suka, tak bolehkah mereka saling menyatukan rasa dan menikmatinya?
Axel terus memandangi kepergian Dinda dengan ekspresi wajah kesal dan penuh dendam.
__ADS_1
Bersambung...