
Hari Minggu, Agus menyempatkan diri untuk lari pagi di taman dekat komplek rumahnya. Nafasnya tersengal-sengal, menjadi pertanda kalau di umurnya yang tak lagi muda Agus tidak bisa melakukan aktifitas melelahkan.
Agus duduk di kursi taman, mengelap keringat yang mengucur deras di keningnya karena lelah berlari memutari taman sebanyak tujuh kali. Tiba tiba saja, tak jauh darinya sekelompok Ibu Ibu menggibah tentang Agus dan keluarganya.
"Itu bukannya tetangga Bu RT yang istrinya selingkuh dengan anak tiri sendiri?"
"Iya, benar. Dia joging sendirian, istrinya tidak diajak,"
"Mungkin karena malu, gosip perselingkuhan anak dan istrinya sudah sampai ke ranah publik. Bahkan beritanya sampai ke medsos,"
Deg...!
Batin Agus seperti dihujam ribuan anak panah. Berita perselingkuhan Axel dan Dinda ternyata sudah menyebar kemana mana, sedangkan Agus sendiri belum bisa menemukan bukti apakah gosip itu benar adanya.
Agus malu bukan main, nama baiknya telah tercemar dimata masyarakat. Apa lagi kalau rekan bisnis dan pegawainya tau, bisa mati berdiri dia.
Tak mau terus mendengar perkataan yang menyayat hati itu, Agus kembali kerumah. Disana, dia melihat Dinda tengah sibuk menyirami tanaman bunga dan Axel sedang mengutak atik sepeda motornya.
"Kalian berdua, ikut aku," perintah Agus. Dinda dan Axel saling melempar pandangan mata, kemudian mengikuti kemana Agus pergi.
Diruang pribadinya, Agus berencana untuk mewawancarai Dinda dan Axel. Apapun jawaban dari dua manusia itu Agus sudah siap mendengarnya, termasuk telah siap juga untuk menghukum mereka.
"Apa benar kalian berdua berselingkuh?" Tukas Agus.
__ADS_1
"Selingkuh? Dengar dari mana kamu soal berita bohong itu? Bagaimana bisa aku selingkuh dengan anak tiri ku sendiri?" Dinda mencoba berkilah. Dia belum siap untuk mengakui segala kesalahannya pada Agus.
Sementara Axel diam membisu, dia kesal karena Dinda menutupi kebenaran tentang hubungan mereka.
"Cih, kenapa dia berbohong? Tinggal akui saja, cerai dengan si tua itu dan menikah denganku," omel Axel dalam hati.
"Jadi maksudmu, berita itu tidak benar?" Agus menatap Dinda dan Axel secara bergantian.
"Itu tidak benar," sahut Dinda. Axel hanya diam dan tak mau mengeluarkan kata kata.
"Baiklah, aku akan mencoba untuk percaya pada perkataan mu. Tapi jangan senang dulu, aku akan terus mengawasi kalian berdua." Ancam Agus.
***
Agus pergi, wajahnya terlihat merah menahan marah. Sementara Dinda mengikutinya dari belakang, mengekor seperti anak bebek kehilangan induknya.
Saat ini hati Agus merasa hancur dan kecewa, impiannya untuk hidup menua dengan bahagia bersama istri mudanya sirna. Jika perselingkuhan itu benar adanya, semua tidak murni karena kesalahan Dinda tapi juga salah dirinya. Dia sendiri yang tidak tahu diri, sudah tua masih suka daun muda.
"Pak Agus, Bapak masih marah padaku?" Dinda duduk di sisi suaminya dan menyentuh pundak kekar pria itu.
"Tentu saja aku marah, pria mana yang tidak marah mendengar gosip istrinya selingkuh dengan anak sendiri?" Agus meninggikan suara.
Dinda menangis, itu adalah jalan terakhir Dinda untuk meraih simpati suaminya. Dia menundukkan wajahnya, menunjukan rasa kecewa sekaligus sedih karena Agus tidak mempercayai ucapannya.
__ADS_1
Dia harus pandai bersandiwara dan mengeluarkan air mata buaya jika mau selamat dari amarah dan amukan suaminya. Meski sejauh ini, Agus belum menunjukan tanda tanda akan melakukan kekerasan padanya.
"Baiklah kalau Bapak tidak percaya padaku, itu hak Bapak. Aku akan menerima semua yang kalian semua tuduhkan kepadaku dengan lapang dada," Dinda bangkit dari posisi duduknya. Dia membuka lemari pakaian, mengambil koper dan memasukan pakaiannya ke dalamnya.
Agus gusar, istri kecilnya ngambek dan mau pergi dari rumah. Harusnya Agus yang marah, ini kenapa jadi Dinda yang marah? Wanita memang sulit di pahami, Agus menatap sambil geleng geleng kepala.
"Kamu mau kemana?" Tanya Agus.
"Aku mau pulang ke rumah orangtuaku,"
"Aku tidak mengizinkannya!"
"Untuk apa aku terus berada disini, suami sendiri saja tidak percaya padaku?" Dinda menatap Agus tajam.
Agus menyerah, dia menghentikan marahnya dan mulai melunak pada Dinda. Dia terlalu takut ditinggal pergi oleh Dinda, karena dia sangat amar menyayangi Dinda.
"Aku percaya padamu," ucap Agus lirih.
Dinda mengukir senyum, dia merasa senang karena aktingnya di depan Agus berhasil. Sungguh, Dinda belum mau kehilangan Agus dalam waktu dekat. Karena kenyamanan dan kesejahteraan hidupnya begitu terjamin semenjak menyandang gelar istri Agus.
***
Hallo,
__ADS_1
Author ingin mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Terimakasih sudah mau berkunjung ke karya ini, jangan lupa untuk like, vote dan komen sebanyak banyaknya. Trim's😘🙏
Bersambung...