Belenggu Cinta Anak Tiri

Belenggu Cinta Anak Tiri
Bab 27


__ADS_3

Dinda pergi ke salon kecantikan, dia ingin melakukan perawatan untuk kulit tubuh dan kulit wajah agar terlihat cerah dan lembab. Dihari yang cerah itu dia pergi seorang diri ke salon dengan menaiki Taxi yang dia pesan secara online.


Bagi sebagian orang, melakukan perawatan kecantikan adalah hal yang wajib. Tapi bagi sebagian lagi, perawatan kecantikan adalah hal yang tidak perlu dilakukan karena hanya membuang uang dan waktu.


Total waktu yang diperlukan oleh Dinda untuk melakukan perawatan adalah dua jam lebih, setalah membayar biaya jasa sesuai tarif, Dinda memutuskan untuk keluar dari salon dan bergegas pulang ke rumah.


Tak disangka, didepan salon dia bertemu dengan Jesika. Pertengkaran antara keduanya pun terjadi.


"Jadi ini tujuanmu menikahi kakek kakek bau tanah? kamu hanya menginginkan uangnya saja bukan?" Tuduh Jesika.


"Jangan sembarangan bicara kamu wanita gatal!" Maki Dinda kesal.


"Kamu yang gatal, sudah punya suami anak tiri pun diembat juga," sindir Jesika ketus.


Terpancing emosi, Dinda mendorong Jesika hingga terhuyung. Jesika membalasnya dengan menarik rambut Dinda kuat kuat. Keduanya terlibat perkelahian sengit, beberapa orang yang ada disekitar mereka bukannya melerai malah menjadikan perkelahian itu sebagai tontonan menarik.


Mereka terlihat seperti kucing dan anjing, saling mencakar, menjambak, mencubit dan memukul. Keduanya memiliki tenaga yang sama kuat hingga tidak ada yang kalah atau mau mengalah.


Lama berkelahi, seorang petugas keamanan akhirnya datang melerai perkelahian dua wanita itu.


"Cukup mbak, cukup! Apa kalian berdua tidak malu menjadi tontonan orang banyak?" Ucap satpam bertubuh gendut itu.


"Dia yang memulainya duluan," tuduh Jesika.


"Mulutmu yang memancingku untuk memberi mu pelajaran!" Sanggah Dinda.

__ADS_1


Hanya karena seorang pria, dua wanita tidak takut saling menyakiti satu sama lain. Seperti tidak ada pria lain saja!"


Dimata keduanya, memang tidak ada pria lain yang mereka cintai selain Axel. Pria itu memiliki pesona luar biasa, sulit untuk diabaikan dan tidak diperhatikan oleh seorang wanita. Terlebih, keduanya telah merasakan kelihaian sentuhan dan servis cinta dari seorang Axel.


"Dasar pelakor!" Maki Jesika.


"Kamu perempuan j*lang." Balas Dinda.


Lelah bertengkar, Jesika pergi. Begitu juga dengan Dinda. Sorak sorai para penonton mengiri kepergian mereka berdua.


***


Tiba di rumah, Dinda langsung mengobati luka yang menempel di wajah dan lengannya. Dia terlihat kacau dengan rambut acak acakan dan kulit lecet karena bekas cakaran dimana mana.


"Awh..." Dinda meringis saat mengoleskan obat antiseptik kepada lukanya.


"Loh, Bapak sudah pulang?" Dinda mengalihkan pembicaraan.


"Aku tanya, kamu kenapa? Siapa yang telah melakukan hal itu padamu," Agus menatap dengan tatapan khawatir.


"Aku berkelahi dengan musuh lamaku, sudahlah jangan di bahas lagi. Lagi pula dia sudah kalah dariku," seloroh Dinda santai.


Musuh? Seorang Dinda punya musuh? Sejak kapan? Kenapa Agus baru diberi tau. Beberapa tanda tanya mengikat hati dan pikiran Agus. Meski merasa iba pada Dinda, entah kenapa ada rasa ragu di hatinya.


Dinda jarang sekali keluar rumah, dia bahkan tidak memiliki teman dekat. Bagaimana bisa Dinda punya musuh? Apa dia baru saja melakukan kesalahan dan memancing amarah seseorang? Agus penasaran dengan sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Dinda.

__ADS_1


Rasa penasaran Agus belum terjawab, Axel masuk kedalam rumah dengan langkah tergesa gesa dan menghampiri Dinda. Axel terlihat cemas, apa lagi saat melihat luka bekas cakaran dan lebam ditubuh Dinda.


"Axel, tumben sudah pulang sekolah?" Tanya Dinda.


"Apa karena wanita itu?" Tanya Axel.


"Iya," sahut Dinda singkat.


"Aku akan membuat perhitungan dengannya." Ancam Axel pada Jesika di dalam hati.


Melihat kedekatan antara Dinda dan Axel, Agus merasa bingung. Sejak kapan hubungan mereka membaik? Sepertinya mereka berdua lumayan dekat.


"Siapa yang kamu maksud dengan wanita itu?" Desak Agus.


"Jesika, mantan kekasihku. Dia kesurupan, mengamuk dan bersikap kasar pada Dinda di halaman salon kecantikan tadi," Axel sedikit berbohong. Dia berharap Ayahnya mau mempercayai kebohongannya.


"Bagaimana kamu bisa tau?" Dinda terkejut.


"Petugas keamanan di sana adalah Ayah dari temanku," sahut Axel.


"Axel, biar aku yang menyelesaikan masalah ini. Kamu jangan ikut ikutan ya!" Pinta Axel.


"Baiklah, terserah Ayah saja,"


"Tumben anak ini mau menurut?" Agus bertanya dalam hati.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2