Belenggu Cinta Anak Tiri

Belenggu Cinta Anak Tiri
Pesona Anak Tiri


__ADS_3

Dinda mematikan televisi yang sudah dia tonton sejak tadi, seharian rebahan tanpa melakukan aktifitas apapun sangatlah membosankan. Dinda bangkit dari atas kasur, dia berjalan keluar kamar menuju halaman belakang. Dia ingin menyirami tanaman dan memberi makan ikan hias yang ada di sana.


Orang kaya memang aneh, mereka hobi sekali menghamburkan uang untuk sesuatu yang sepertinya tidak penting. Misalnya dengan membeli tanaman dan ikan berharga yang mahal itu. Harganya bahkan lebih mahal dari pakaian yang sedang dia pakai saat ini, juga lebih mahal dari biaya hidup keluarganya selama setengah tahun.


Ada satu hal lagi yang aneh, Agus hanya memperkerjakan satu pekerja wanita. Sementara pekerja lainnya laki-laki, entah apa alasannya. Dinda sendiri juga merasa sungkan untuk bertanya.


Selesai menyiram tanaman dan memberi makan ikan, Dinda kembali naik ke lantai atas. Dia melihat Axel sedang sibuk mengangkat beban di ruang olah raga yang temboknya terbuat dari kaca.


Axel memakai kaos tanpa lengan dan celana pendek ketat. Tubuhnya terlihat sangat menggoda dengan kulit yang mengkilap karena keringat. Tanpa sadar, Dinda telah menghentikan langkah kakinya hanya untuk memandang tubuh seksi anak tirinya.


Air liur Dinda hampir saja menetes, andai Axel tidak berselingkuh Dinda mungkin tidak akan pernah meninggalkan pria bertubuh mantap itu.


"Apa yang sedang aku lakukan di sini?" Dinda bertanya pada dirinya sendiri. Dia mengelak kepalanya pelan.


Axel keluar ruangan, dia menghampiri Ibu tirinya dengan wajah sedikit tersenyum.


"Kenapa kamu mematung di tengah lorong seperti itu? Apa ada hal bagus yang membuat langkahmu jadi tertahan?" Ledek Axel. Axel tau Dinda sangat suka memandangi tubuhnya, kebiasaan yang sejak dulu sering Dinda lakukan.


"Aku...Em...Itu..." Dinda berubah jadi manusia gagap. Bukan hanya salah tingkah, Dinda juga bingung mau menyahut apa.


"Bukankah yang muda lebih menggoda di pandang mata?" Axel mengedipkan matanya sebelah.


"Apa maksudmu? Aku tidak tau," Dinda berpura pura bodoh.


Gemas, Axel menyentil kening Dinda pelan. Wanita itu melotot, dia tidak menyangka Axel berani melakukan hal itu pada Ibu tirinya sendiri.


"Axel, tolong jaga sikapmu! Aku ini Ibu sambung mu," bentak Dinda.


"Aku tidak pernah menganggap kamu sebagai Ibu sambung ku, sampai kapanpun itu." Ucap Axel dengan nada lantang dan mimik wajah serius.


Batin Dinda terasa sakit mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Axel. Pria menyebalkan itu seolah tidak menghargai dan menghormati keberadaan Nirina disana. Tak bisakah Axel berpura pura baik padanya? Bagaimanapun, Dinda adalah istri kesayangan dari Ayahnya sendiri.


Dinda melenggang pergi, dia meninggalkan Axel yang terus menatap dirinya hingga hilang ditelan pintu kamar.


***

__ADS_1


Di dalam kamar, Dinda terduduk sambil merenung. Sampai kapan pernikahannya dengan Agus akan bertahan tanpa restu dari Axel putra tirinya. Kata orang, sabar itu tidak ada batasnya, tapi jika terus seperti ini maka Dinda tidak akan bisa bersabar lagi.


Kring... Kring... Kring...


Ponsel Dinda berdering, dia bergegas mengambil ponselnya dan mengangkat telfon yang tak lain dari Laras Ibunya.


"Hallo, Ibu. Apa kabar?" Sapa Dinda.


"Hallo, nak. Kabarku baik, kabarmu dan suamimu bagaimana?" Tanya Laras.


"Kabar kami baik Bu," sahut Dinda dengan nada lemas.


"Kamu sedang apa? Sudah makan belum? Kenapa lama tidak menelfon Ibu?" Laras menghujani putrinya dengan beberapa pertanyaaan sekaligus.


"Aku sedang bersantai,aku sudah makan. Maaf kalau aku belum sempat menelfon Ibu,"


"Kapan ke sini? Ibu rindu padamu,"


"Entah lah, aku akan mendiskusikannya dengan suamiku nanti. Sama seperti Ibu, aku juga rindu pada Ayah dan Ibu,"


Dinda terdiam, mana mungkin dia bisa mengatakan segalanya dengan jujur pada Ibunya. Hal itu akan membuat kedua orangtuanya khawatir, mau tidak mau dia harus berbohong kepada sang Ibu.


"Dinda, kenapa kamu diam saja?" Desak Laras.


"Ah, aku betah kok tinggal di rumah ini,"


"Syukurlah kalau begitu, Ibu jadi tenang."


Obrolan keduanya berlangsung cukup lama, Dinda baru mau mengakhiri telfon saat melihat suaminya pulang dan masuk kedalam kamar. Wajah pria tua itu terlihat lelah, sepertinya dia memiliki banyak pekerjaan di kantor.


"Mau makan dulu apa mau mandi dulu?" Tanya Dinda.


"Aku mau mandi dulu,tolong siapkan air panas untukku," pinta Agus.


"Ya, tunggu sebentar."

__ADS_1


Inilah pekerjaan Dinda sehari hari, tidak jauh dari memasak, mengurus rumah dan suami. Apakah lelah? Tentu saja tidak, akan lebih melelahkan jika dia hanya makan tidur saja tanpa mengerjakan sesuatu di rumah besar itu.


***


Tengah malam, Agus minta dibuatkan minuman hangat oleh Dinda. Dinda pergi ke dapur untuk membuat secangkir teh tarik hangat. Tak disangka, disana ada Axel. Dia sedang membuat minuman hangat juga.


"Mau apa malam malam begi? Belum tidur?" tanya Axel.


"Bukan urusanmu!" Sahut Dinda ketus.


Kesal mendapat jawaban seperti itu, Axel merengkuh pundak Dinda dan menghimpit tubuhnya ke tembok. Jarak wajah keduanya sangat dekat, Dinda bisa merasakan hangat nafas dan detak jantung Axel yang keras.


Mata mereka saling beradu, perlahan tapi pasti rasa benci yang membeku di hati Dinda mencair, begitu juga dengan Axel. Dinda memalingkan wajahnya dengan segera, Axel melepas Dinda dari rengkuhan tubuhnya.


Axel bisa melihat dengan jelas masih ada cinta di mata wanita itu untuknya walaupun hanya sedikit.


"Maafkan aku, dulu aku pernah menyakiti hatimu. Tapi aku yang sekarang sudah berubah, kembalilah padaku," ucap Axel dengan raut wajah sedih.


"Pria gila! Kamu sedang mencoba merayu Ibu tiri mu sendiri?" Maki Dinda.


"Aku sudah pernah bilang padamu, selamanya aku tidak akan pernah menganggap kamu sebagai Ibu tiri ku!"


Axel emosi, dia meninggikan suara hingga menimbulkan keributan.


Agus tiba tiba muncul dari pintu dapur, Dinda bergerak mundur menjauhi Axel.


"Ada apa ini?" Tanya Agus. Dia menatap Axel dan Dinda secara bergantian.


"Tidak ada apa apa. Tehnya akan segera siap, anda tunggu saja di kamar," sahut Dinda.


Perasaan Dinda berkecamuk, ada rasa kesal, sedih berbaur menjadi satu. Dia benci pada Axel, tapi saat melihat matanya tadi dia merasa masih ada getaran didalam hatinya.


Sebenarnya, Dinda masih menyukai pria itu. Tapi rasa benci kepadanya sepertinya jauh lebih besar dari pada rasa sukanya. Dinda selalu berhasil mengabaikan perasaan sukanya itu, tapi sekarang mereka berdua tinggal satu atap. Dinda harus bekerja keras agar perasaanya tidak kembali kepermukaan dan menyebar kemana mana.


Tidak lucu jika seorang Ibu tiri menyukai anak tirinya sendiri. Dia bisa cemooh oleh banyak orang, juga dihajar habis habisan oleh suaminya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2