
Pagi itu, seperti biasa. Dinda bangun lebih awal, dia mengambil air hangat untuk menyeka keringat yang menempel di tubuh dan wajah Agus.
Kali ini dia menjadi wanita yang pendiam, tidak seperti biasanya. Tapi Agus juga tidak menanyakan perihal itu, dia bersikap cuek seolah tidak merasakan perubahan istrinya.
"Ingatlah Dinda, kamu hanya seorang asisten pribadi di rumah ini. Bukan seorang Nona lagi, " Dinda mengucapkan berulang ulang dalam hati.
Selesai membersihkan Agus, Dinda menyiapkan makan untuk pria itu, kemudian dia berlalu pergi tanpa menyuapinya. Agus tidak menahannya, dia membiarkan Dinda melakukan apapun yang dia mau.
Tidak ada rasa bersalah di hati Agus karena telah mengasingkan istrinya di kamar sebelah. Memberikan hukuman kepada orang yang bersalah adalah hal yang lumrah.
Dinda duduk termangu di teras rumah, isi kepalanya terus berpikir ingin pulang ke rumah orang tuanya dan tinggal bersama mereka. Dia ingin mengakhiri hubungan terlarangnya dengan Axel, dia juga ingin bercerai dari Agus.
Dia ingin menjadi wanita yang bebas menikmati waktunya dengan bekerja dan bermain bersama teman teman seperti dulu. Tidak ada hubungan asmara dengan siapapun, pikiran pun damai dan tenang.
"Sedang apa kamu disini?" Tanya Axel.
"Sedang merenung," sahut Dinda sekenanya.
"Apa yang sedang kamu renungi?" Axel penasaran.
"Aku ingin mengakhiri semuanya dan kembali ke rumah orang tuaku," celoteh Dinda.
"Lalu aku bagaimana?" Axel menaikan alisnya sebelah.
__ADS_1
"Kamu sudah besar, kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau," sahut Dinda.
"Kamu boleh meninggalkan rumah ini dan meninggalkan Ayahku, tapi kamu tidak boleh meninggalkan aku." Axel meninggi suara, dia tidak terima akan ditinggalkan begitu saja oleh kekasih hatinya itu.
Dinda menarik nafas berat, dia tak menyangka kalau bermain api cinta dengan Axel akhirnya akan membakar dirinya sendiri. Kini dirinya benar benar terjebak di dalam pilihan yang membingungkan. Bertahan sakit, beranjak pergi sulit.
***
Jam makan siang, hanya ada Axel dan Dinda di meja makan. Sementara Agus ada di kamarnya, duduk sendiri sambil menatap piring nasi yang sejak pagi belum dia sentuh.
Axel menyantap makanannya sambil menatap Dinda tajam, dia tak terima jika hubungannya dengan Dinda akan berakhir begitu saja. Banyak hal yang telah dia korbankan untuk hubungan itu, akan sangat sia sia jika segalanya berakhir.
"Maaf, soal tadi. Aku tidak bermaksud membuat kamu kesal," ucap Dinda sambil mengaduk aduk makanannya.
"Tolong jangan bicarakan soal perpisahan denganku," ujar Axel lirih.
"Dari dulu kemana? Kenapa baru hari ini kamu merasa kalau hubungan kita tabu?" Axel kembali kesal. Dia merasa Dinda mencari cari alasan untuk menjauh darinya.
Sedang seru serunya berdebat, tiba tiba Ningrum datang sambil berlari dan memasang wajah pucat.
"Non, Den, " Ningrum menatap Dinda dan Axel secara bergantian.
"Ada apa Ning? Kenapa wajahmu seperti itu?" Tanya Axel cemas.
__ADS_1
"Tuan," Ningrum menahan ucapannya.
"Ada apa dengan suamiku?" Sambung Dinda.
"Tuan sudah tidak bernafas di kursi roda," tutur Ningrum sambil menangis tersedu sedu.
Prak....!
Dinda menjatuhkan gelas yang sedang di pegang-nya. Dia mematung, seperti baru saja kehilangan setengah jiwa dalam hidupnya. Sementara itu Axel langsung meninggalkan meja makan, dia berlari menuju kamar sang Ayah diikuti oleh Ningrum.
"Ayah, buka matamu!" perintah Axel pada Ayahnya yang sudah bertubuh dingin dan kaku.
"Den, yang sabar Den," ucap Ningrum berulang ulang.
Tangis Axel pecah, kini dia hanya sebatang kara di dunia. Tidak ada lagi yang memarahinya setiap hari, tidak ada yang memukulnya lagi.
"Maafkan aku Ayah," Axel sesenggukan.
Bruk....!
Dinda jatuh dari kursi, dia ingin berjalan tapi tidak sanggup berdiri. Seluruh otot otot kakinya terasa lemas dan kendur seperti tak bertenaga lagi.
"Axel, Ningrum, siapapun, tolong aku..." Panggil Dinda lirih.
__ADS_1
Dinda menangis, dia menempelkan wajahnya ke keramik. Percuma Dinda merasa bersalah saat ini, karena hal itu tidak merubah kenyataan kalau Agus suaminya telah meninggal dunia dalam balutan luka batin yang begitu dalam.
Bersambung...