
Dinda dan Irene bertemu, mereka langsung pergi ke sebuah butik yang membuka lowongan pekerjaan. Salah seorang teman dekat Irene bekerja disana, dengan bantuan anak dalam Dinda bisa lolos interview dengan mudah di butik itu.
Gaji kerja di butik memang tidak UMR, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadi Dinda sehari hari. Dia tidak mau merepotkan kedua orang tuanya lagi, karena hidup mereka juga tergolong pas pasan.
"Besok, kamu sudah bisa bekerja di tempat ini. Senang sekali, bisa langsung mendapatkan pekerjaan saat kamu butuh," ucap Irene.
"Iya, aku senang sekali. Terimakasih atas bantuan kamu, berkat kamu juga aku bisa di terima kerja di tempat ini," Dinda memeluk tubuh temannya.
"Sebagai bentuk terimakasih ku padamu, aku ingin mentraktir kamu makan siang hari ini. Mau tidak?" Tanya Dinda.
"Ya jelas mau, siapa yang tidak mau diajak makan gratis?" Irene tertawa.
Dua sahabat itu melangkah masuk ke dalam sebuah restoran cepat saji. Dinda memesan dua paket fried chicken dan dua gelas minuman bersoda. Mereka menyantap makanan itu dengan lahap, sambil mengobrol tentang kehidupan masing masing selama mereka tidak bertemu.
Dinda mencoba menutupi kehidupan rumah tangganya yang penuh aib dan drama, membuat pernikahannya seolah olah berjalan mulus tanpa kendali dan masalah apapun.
"Ngomong ngomong, kenapa suamimu bisa meninggal?" Irene penasaran.
"Dia terkena sakit jantung," sahut Dinda bohong.
__ADS_1
"Penyakit jantung memang biasa dimiliki oleh pria tua dari keluarga kaya, biasanya karena gaya hidup mereka kurang sehat dan kurang olahraga," cicit Irene.
"Iya, kamu benar. Jadi mulai sekarang, jagalah pola makan kita dengan baik, agar kita panjang umur." Celetuk Dinda sekenanya.
***
Sore menjelang, Dinda tiba dirumahnya. Orang tuanya sudah menanti kabar baik dari putrinya tersebut, berharap Dinda mendapatkan pekerjaan seperti yang dia inginkan.
"Bagaimana Nak? Kamu sudah mendapatkan pekerjaan?" Tanya Laras.
"Sudah Bu, besok aku sudah bisa mulai bekerja," sahut Dinda.
"Syukurlah, semoga kamu betah kerja di sana," ucap Laras penuh harap.
"Di butik pakaian pengantin Ayah," sahut Dinda.
"Butik? Sepertinya tempat itu akan sering di kunjungi oleh orang orang kaya. Semoga saja kamu bertemu jodoh di sana," celetuk Arip.
Dinda terdiam, dia tak merespon ucapan Ayahnya. Laras tau betul kalau Dinda tengah marah, dia langsung mengajak Dinda masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Bayang bayang Agus dan Axel masih terlihat nyata di matanya, bagaimana bisa Dinda membuka hati untuk pria baru? Rasa bersalah itu masih ada, entah kapan bisa hilangnya.
"Jangan terlalu dipikirkan omongan Ayahmu tadi ya, abaikan saja. Sekarang ini yang penting kamu fokus pada karir mu, raihlah cita citamu untuk menjadi pengusaha sukses yang sempat tertunda itu," Laras memberi semangat.
Dinda tersenyum, Ibunya adalah orang yang paling mengerti bagaimana Dinda. Dia selalu mendukung Dinda dalam hal apapun, kecuali untuk menjalin hubungan dengan Axel.
Dinda memeluk tubuh Ibunya, rasa hangat langsung menjalar di tubuhnya. Tidak ada tempat bersandar dan bernaung lebih nyaman didunia ini dibanding pundak Ibunya.
"Bu, terimakasih atas segalanya. Terimakasih karena telah mau memaafkan kesalahan yang pernah aku perbuat dan selalu mendukungku dalam keadaan apapun," Dinda mendadak di serang rasa bersalah berlebih.
"Iya nak, untukmu apa sih yang tidak Ibu lakukan?" Laras melepas pelukan putrinya. Dia mengelus rambut panjang Dinda dan menarik hidung mancungnya pelan.
"Oh iya. Kamu sudah benar benar putus dari Axel kan?" Laras penasaran.
"Sudah," Dinda terpaksa berbohong. Mereka memang telah lama tak berkomunikasi tapi mereka belum putus sama sekali.
"Syukurlah kalau begitu. Ibu tidak suka kamu dekat dekat dengan Axel lagi. Cari saja pria baru, lupakan pria yang akan membawa dampak buruk dalam hidupmu seperti Axel itu," lanjut Laras.
Dia mencoba meracuni pikiran dan hati Dinda agar mau menjauh dari Axel dan melupakannya. Karena godaan pria itu, Dinda jadi terjerat dosa besar dan terjerumus dalam perbuatan yang tidak baik.
__ADS_1
Laras lupa, kalau Dinda telah dewasa dan dia sudah bisa membedakan mana baik dan mana yang benar. Kesalahan yang Dinda lakukan tidak murni karena bujukan Axel semata, tapi karena hasrat dan ego yang tumbuh di sisi lain seorang Dinda.
Bersambung...