Belenggu Cinta Anak Tiri

Belenggu Cinta Anak Tiri
Godaan Jesika


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju rumah Jesika, Axel tersenyum senang melihat ekspresi wajah Dinda yang sedikit berubah tadi. Mulut bisa berkata bohong, tapi tatapan mata tidak bisa.


Jelas sekali kalau wanita itu cemburu, masih ada cinta dihatinya untuk Axel walaupun hanya sedikit. Ternyata mendekati Jesika ada gunanya juga. kapan kapan dia ingin mengundang Jesika kerumahnya, untuk melihat reaksi yang lebih heboh dari seorang Dinda Kanya Dewi.


Satu jam kemudian, Axel tiba di depan rumah yang dia tuju. Bangunan sederhana bercat biru dengan ukuran 7x 9 meter. Axel memarkirkan sepeda motornya dan mengetuk pintu tersebut.


Tok... Tok... Tok...


Bunyi suara pintu di ketuk, tak lama seorang wanita berpakaian serba mini muncul membuka pintu.


Glek,,,,


Axel menelan ludah, dia tak habis pikir karena Jesika berani tampi sangat terbuka di hadapannya, seolah tengah sengaja menggodanya. Apa dia sedang merencanakan sesuatu untuk Axel? Dia tidak akan bisa mengetahuinya sebelum masuk ke dalam rumah.


"Rumah kamu sepi sekali seperti kuburan, apa tidak ada orang lain dirumah itu?" Tanya Axel. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri mengamati situasi dan kondisi saat itu.


"Tidak ada orang di sini, kita bisa melakukan apapun yang kita mau tanpa takut terganggu," bisik Jesika di telinga Axel.


Sekujur tubuh Axel merinding, terlebih Saat lidah Jesika menjilat sedikit cuping telinganya. Sensasi hangat dan geli bercampur menjadi satu, berhasil membuat Axel merem melek.


sudah lama Jesika menantikan saat seperti ini, menghabiskan waktu berdua dengan Axel disebuah tempat tanpa ada yang mengganggu. Seolah dunia hanya milik berdua, mereka mengadu kasih tanpa rasa jemu.


"Apa dia menginginkan sesuatu dariku? Bolehkah kalau aku memanfaatkan keadaan seperti ini? " Damian bertanya tanya di dalam hati.


Hasrat seorang Axel kembali meninggi saat Jesika menggerayangi tubuh bagian depannya. Brengs*eknya, Axel membayangkan jika saat itu Dinda yang tengah bersamanya.


Pikiran kotor menyelimuti otak Axel, ada dorongan dalam dirinya untuk melakukan sesuatu pada gadis cantik yang sedang ada dihadapannya itu. Terlebih, dia sudah sangat penasaran dengan rasa orang b*rcinta gara gara permainan seru kedua orang tuanya semalam.


Merasa di pancing, Axel mengambil inisiatif untuk memeluk Jesika, menciumnya dan meraba setiap inchi dari tubuh wanita itu. Pemanasan berlangsung selama beberapa menit di atas sofa, hingga akhirnya Jesika mengajak Axel masuk ke dalam kamarnya.


Jujur saja, ini adalah kali pertama Axel mencumbu seorang wanita. Bisa dibilang, dia adalah pemain amatiran yang mengandalkan insting atau naluri laki-lakinya.

__ADS_1


"Apa kamu yakin soal ini Jesika?" Axel menatap Jesika yang sedang asik memainkan Ucok yang masih terkurung di dalam sangkarnya.


"Ya, aku yakin. Akan aku serahkan segalanya untukmu hari ini," sahut Jesika.


"Baiklah kalau begitu, bersiaplah menerima serangan ku yang bertubi tubi ini," Axel menyeringai.


Keduanya melepas penutup tubuh mereka masing masing. Setelah itu, mereka saling memeluk, meraba, mencium untuk berbagi kehangatan.


Sekarang Axel tau, kenapa Dinda dan Agus sangat berisik. Karena memang sensasi yang ditimbulkan saat saling menggesek sangatlah luar biasa. Bisa membuat siapa saja lupa pada beban hidup yang ada didunia.


"Oh..." leguh Axel saat miliknya berhasil masuk ke dalam milik Jesika yang masih rapat.


Jesika menahan tangis, dia menggigit bibir bawahnya hingga sedikit mengeluarkan darah. Ini adalah pengalaman pertama bagi Jesika, dia tidak menyesal karena bisa melakukannya dengan pria yang dia cintai.


***


Axel membuka matanya setelah tertidur karena kelelahan, dia melihat Jesika sedang berbaring di sisinya tanpa memakai pelindung sedikitpun. Ternyata bermain dengan seorang gadis itu sangat menyenangkan, pantas saja Ayahnya sangat menyukai Dinda.


Jesika tidak tau, kalau saat mencampuri dirinya Axel membayangkan sosok Dinda wanita yang dicintainya. Andai saja jesika tau, dia pasti akan sangat murka. Karena dia telah rela memberikan kesuciannya secara cuma cuma untuk seorang Axel.


Axel mendaratkan ciuman di kening Jesika dan menutupi tubuh wanita itu dengan selimut. Jesika menggeliat lalu membuka mata.


"Bangun, ini sudah sore," ucap Axel.


"Iya, ini aku sudah bangun. Ngomong ngomong, bagaimana perasaanmu saat ini?" Tanya Jesika. Dia memasang wajah polos di hadapan Axel dan membuat pria itu salah tingkah.


"Aku merasa senang, sekaligus puas," Axel meringis.


"Jesika, apa kamu mau menjadi kekasihku?" Lanjut Axel.


"Tentu saja aku mau, aku sudah rela melakukan segalanya untukmu," sahut Dinda penuh semangat.

__ADS_1


"Iya, terimakasih."


Baru pertama kali Axel merasa begitu sangat dicintai oleh seorang wanita hingga dia berani memberanikan diri memberikan segalanya untuk Axel. Axel tersanjung, saat ini dialah pria tertampan yang ada di dunia.


Jesika menghamburkan tubuhnya ke pelukan Axel. Rasanya tubuh Axel lebih hangat daripada selimut bulu yang sedang dia kenakan.


Jesika meraba raba tubuh bagian atas milik Axel dan membuat pria tampan itu On lagi. Tanpa banyak bicara, Axel langsung meminta jatah dari Jesika lagi untuk memuaskan hasratnya yang sedang meninggi.


Pergulatan antara keduanya berlangsung lumayan lama, seolah tidak memiliki rasa lelah. Bagaimana bisa lelah? Aktifitas yang sedang mereka lakukan adalah aktivitas yang sangat menyenangkan.


***


Di teras rumah, Dinda mondar mandir seperti setrikaan rusak. Dia mencemaskan Axel yang belum juga pulang ke rumah, padahal jam baru menunjukan pukul 17.30 menit.


Axel sering pulang telat, bahkan pulang larut. Tapi Dinda tidak pernah cemas seperti itu karena biasanya Axel pergi dengan teman laki lakinya. Kali ini berbeda, dia pergi ke rumah seorang wanita sejak pagi dan belum juga kembali.


Apa yang sedang mereka berdua lakukan di sana? Mereka tidak berbuat macam macam bukan?


Agus menghampiri Dinda, dia penasaran ada hal apa yang membuat istrinya uring uringan.


"Kamu sedang menghawatirkan apa?" Tanya Agus.


"Aku sedang mengkhawatirkan putramu, ini sudah mau gelap tapi dia belum juga pulang ke rumah. Perasaanku tidak enak, aku takut telah terjadi sesuatu padanya,"


"Jangan terlalu mencemaskan dia, dia sudah besar bukan anak anak lagi. Aku yakin dia baik baik saja."


Ada sedikit rasa nyeri di hati Agus saat melihat ekspresi wajah Dinda yang berlebihan karena menghawatirkan putranya. Mungkinkah wanita itu masih menyukainya?


Dinda berencana untuk mengintrogasi Axel saat kembali, dia akan melarang pria itu untuk mendekati sembarang wanita. Wewenangnya sebagai Ibu tiri akan dia kenakan, kalau perlu dia akan mengajak Agus untuk menceramahi Axel bersama.


Seorang pria dan seorang wanita dewasa bertemu hanya berdua mana mungkin tidak melakukan apapun, pikiran kotor mulai menyelimuti otak Dinda.

__ADS_1


Sungguh Dinda tidak rela jika Axel dan wanita itu sampai menyentuh satu sama lain dan bercumbu. Baru membayangkan saja darah dalam tubuh Dinda terasa mendidih, bagaimana jika hal itu benar benar terjadi?


Bersambung...


__ADS_2