Belenggu Cinta Anak Tiri

Belenggu Cinta Anak Tiri
Bab 39


__ADS_3

"Jangan selalu berburuk sangka pada putramu," pesan Dinda pada Agus. Pria itu mendongak kesal saat sang istri membela putranya.


"Dia memang berpura pura baik padaku, jika dia memang benar benar baik, dia tidak akan berusaha mencuri kamu dari ayahnya sendiri," ceplos Agus.


Dinda tersentak, benar dugaannya kalau Agus telah mengetahui perselingkuhan mereka berdua. Rasa malu menyelimuti wajah Dinda, tapi bukan hanya dia yang bersalah, Axel juga ikut andil dalam hal ini.


"Aku sudah mengetahui semuanya sejak lama Dinda, tapi aku masih berbaik hati pada kalian berdua," lanjut Agus.


"Kenapa anda masih berbaik hati pada kami?" Tanya Dinda penasaran.


"Pertama, karena Axel adalah putra semata wayang ku. Kedua, karena aku masih membutuhkan tenaga mu," sahut Agus santai.


Jadi, Dinda kini hanya diperlakukan layaknya seorang asisten pribadi oleh Agus? Pantas saja Agus tak pernah menjamahnya lagi. Tapi, siapa pria didunia ini yang sudi menjamah bekas putranya sendiri?


Dinda merasa terhina, tapi hinaan itu memang perlu Dinda dapatkan agar isi kepalanya bisa berubah menjadi lurus, tidak bengkok seperti sekarang ini.


Meski kesal dengan ocehan Agus, Dinda masih dengan setia membantu pria itu beranjak dari kursi roda dan membaringkannya diatas kasur. Dinda melirik kearah Agus yang membuang wajah darinya, nampak dengan jelas aura kecewa disana.


Dinda menyesal, tapi penyesalan itu tidak ada gunanya sekarang. Dia begitu menikmati peran ganda-nya kemarin, menjadi istri Agus sekaligus menjadi pacar anak tiri sendiri.


Apa yang harus Dinda lakukan saat ini? Kepalanya benar benar pusing. Dinda keluar kamar, dia pergi ke dapur untuk membuat secangkir kopi susu. Setelah itu dia duduk sendirian di kursi halaman belakang rumah, untuk merenungi kesalahan yang telah dilakukannya.

__ADS_1


Kedua orang tua Dinda sama sekali tidak akan bangga memiliki anak perempuan seperti Dinda, meski hidup mereka terjamin karena pernikahannya dengan Agus. Cepat atau lambat Agus pasti akan mengadukan hal itu pada kedua orang tuanya.


Sudahlah, nasi telah menjadi bubur. Tidak akan ada yang bisa merubah sesuatu yang telah diperbuat oleh seseorang. Dia yang menanam, dia juga yang harus menuai.


***


Malam harinya, Agus meminta pisah kamar dari Dinda. Dinda tidur di kamar tamu, sendirian, tanpa ada yang menemani. Beberapa pekerja di rumah itu menatap Dinda dengan tatapan iba, tapi Axel segera muncul dan menghalau tatapan mereka.


"Pergi dari sini!" Hardik Axel.


Para pegawai itu pergi, tinggallah Dinda dan Axel berdua. Suasana berubah hening, Axel tak tau mau mulai bicara dari mana.


"Aku sedang ingin sendiri," ucap Dinda.


"Tolong mengertilah Axel, aku benar benar sedang ingin sendiri. Jadi, jangan ganggu aku malam ini. Oke?" Pinta Dinda.


"Ya, oke." Axel menyerah.


***


Tok... Tok... Tok...

__ADS_1


Axel mengetuk kamar Ayahnya dan mendekati pria tua itu.


"Mau apa kamu kesini?" Tanya Agus sinis.


"Maaf mengganggu, aku hanya sedang ingin bicara sebentar saja," Axel merendah suara.


"Bicara soal apa?"


"Soal Dinda. Ayah sudah mengetahui segalanya tentang kami dan Ayah sudah pisah ranjang dengan Dinda. Jadi bolehkan aku memilikinya?"


"Dasar anak durhaka! Tidak tahu diri! Baru aku ajak dia pisah ranjang semalam, kamu sudah berani memintanya dariku?" Agus murka.


"Ayah sudah tidak menginginkannya lagi bukan? Jadi untuk apa Ayah masih mempertahankan dia sebagai istri? Biarkan dia menjadi milikku, toh kami sama sama saling mencintai," Axel ngotot dengan keinginannya yang konyol itu.


Agus tidak ada niatan untuk memberikan istrinya sendiri pada Axel, apa lagi selama dirinya masih hidup. Apa nanti kata orang tentang dirinya? Bisa hilang wibawanya dimata rekan dan tetangganya.


"Pergi dari sini!" Usir Agus.


"Ayah, kita belum selesai bicara," Axel tak jua berputus asa. Dia mencoba merayu Ayahnya untuk menyerahkan Dinda secara baik baik padanya.


"Aku bilang pergi dari sini!" Agus mendelik. Axel mengkerut dan segera beranjak keluar dari kamar berukuran besar itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2