
Laras, Arip dan Agus tengah bercengkrama sambil menonton televisi. Selain mengobrol tentang kesibukan masing masing, tiga orang tua itu juga membahas tentang Dinda yang telah menikah cukup lama tapi tidak kunjung hamil.
Laras menaruh curiga kalau Dinda secara diam diam mengkonsumsi obat pencegah kehamilan. Terlebih, Dinda memang tidak memiliki perasaan pada Agus sejak awal.
Agus tidak mempermasalahkan soal kehamilan, asal Dinda mau melayaninya dengan baik dan setia kepadanya. Lagi pula, Agus juga sudah memiliki anak dari almarhumah istrinya yang terdahulu.
Tapi berbeda dengan Laras dan Arip, mereka sangat menginginkan seorang cucu. Satu pun tidak mengapa, yang penting mereka memiliki penerus keluarga.
"Coba kamu tanyakan pada Dinda, apa dia mengkonsumsi obat pencegah kehamilan? Masa sudah lama menikah tidak kunjung hamil," celoteh Laras.
Arip mencubit pinggang istrinya, dia merasa tidak enak pada Agus karena istrinya terlalu agresif membahas tentang keturunan. Arip takut Agus tersinggung, begitu juga dengan Dinda nantinya.
"Nanti aku tanyakan padanya. Tapi, kenapa tidak kalian saja yang bertanya secara langsung?" Tanya Agus balik.
"Emhm... Kami tidak enak hati, takut dia tersinggung," Arip menggaruk kepalanya.
__ADS_1
Tak lama, Dinda masuk ke ruangan itu. Dia membawa minuman dan makanan ringan. Melihat eskpresi orangtuanya yang berbeda, Dinda merasa ada sesuatu yang sedang mereka bicarakan dan sembunyikan di belakangnya.
"Ada apa?" Dinda bertanya terus terang.
"Itu, Ibumu. Katanya apa kamu minum obat kontrasepsi? Kenapa kamu tidak hamil hamil," sahut Agus.
Dinda panik, akhirnya hari yang dia takutkan tiba juga. Hari dimana kedua orang tuanya meminta cucu kepadanya, cucu yang sangat dirindukan oleh setiap orang tua.
Dinda memang diam diam meminum obat kontrasepsi, dia tidak mau hamil anak Agus. Terlebih dia juga selingkuh dengan Axel, akan lebih aman kalau dia meminum pil anti kehamilan.
"Doakan saja agar aku bisa segera hamil," ucap Dinda. Dia tidak menepis tuduhan sang Ibu secara langsung. Dia berharap Ibunya tidak menaruh curiga kepadanya.
"Mau kemana kamu malam malam begini? Mall juga sebentar lagi mau tutup," seloroh Arip.
"Biasa anak muda Pak, malam begadang cari kegiatan, siang tidur," sahut Axel sambil tersenyum kecil.
__ADS_1
Malam itu, Axel sengaja pergi dari rumah. Dia berniat untuk menginap dirumah temannya karena tidak suka pada kehadiran Laras dan Arip dirumahnya. Tatapan Laras yang seolah olah mencurigainya sebagai seorang penjahat benar benar membuatnya risih.
Walaupun kecurigaan Laras benar, kalau Axel dan Dinda ada main di belakang. Tapi Axel tidak mau di salahkan, dia juga tidak merasa bersalah karena mereka berdua sama sama saling mencintai.
Mendengar perkataan konyol putranya, sebenarnya Agus ingin marah dan melarang pria muda itu pergi. Tapi Agus merasa malu kalau harus ribut dengan anak di depan mertuanya, apa lagi anaknya sudah dewasa, sudah bukan anak kecil lagi.
"Kamu mau kemana? Ini sudah malam. Apa tidak bisa pergi besok saja? Kalau ada apa apa di jalan bagaimana?" Dinda menatap khawatir.
"Aku mau menginap di rumah teman. Kamu tenang saja, tidak ada yang akan berani menculik aku." Axel mengedipkan matanya sebelah.
Laras terhenyak, bisa bisanya seorang anak tiri bersikap genit pada Ibu tirinya. Apa dia sudah biasa melakukan hal itu? Laras bertanya tanya dalam hati.
"Maafkan anakku, dia memang kurang sopan pada orang lain. Jangankan pada orang lain, pada orang tua sendiri juga begitu," Agus meringis menahan malu.
Sementara itu di dalam hati Dinda sedang beradu berbagai dugaan yang membuatnya takut. Bagaimana kalau teman Axel yang dikunjungi ternyata seorang perempuan? Dinda sungguh takut Axel memiliki wanita lain selain dirinya di luar sana.
__ADS_1
Hubungannya dan Axel memang rumit, tapi sangat sayang jika hubungan manis itu harus kandas karena orang ke tiga. Walaupun Dinda hanya menjadikan Axel pelabuhan hatinya yang ke dua, Dinda malah lebih mencintai Axel daripada suaminya sendiri.
Bersambung...