Belenggu Cinta Mafia

Belenggu Cinta Mafia
taktik vs taktik


__ADS_3

Waktu di Dubai telah menunjukkan pukul enam pagi, Zain kini sudah duduk termenung menghadap jendela yang menampakkan sinar matahari berwarna jingga.


"Apa tuan mau saya pesanan makanan, sebelum kita ke markas?" Alex sudah berada di belakang Zain tanpa sepengetahuannya.


"Tak perlu, kita makan setelah membahas pekerjaan kita, cepat kumpulkan mereka di markas, kalian berangkat lebih dulu, aku akan menghubungi daddy!" ucap Zain datar.


"Baiklah tuan, saya permisi." Alex berlalu pergi dari hadapan Zain.


Drerttt...


"Zain, bagaimana perjalananmu lancar?"


"Lancar Dad."


"Zain, Daddy tahu kamu mau menanyakan apa, yang papi minta lakukanlah sesuai dengan kata hatimu, dan apapun yang kamu lakukan selalu ingat pesan-pesan daddy, kamu pasti bisa Zain, daddy percaya dengan kemampuanmu itu." Daddy Brian memberikan semangat pada putranya, sebagai seseorang yang sudah merasakan pahit manisnya dalam dunia gelap, Brian pasti tahu apa yang sedang putranya pikirkan, Zain memang tak ragu membunuh orang jika orang tersebut melakukan kesalahan, namun sepertinya misi kali ini akan melibatkan banyak korban sebab para pelaku masih membuat onar di berbagai wilayah, dan Zain harus benar-benar memutar otak untuk mengurangi jatuhnya banyak korban.


"Baiklah, Dad. Kepercayaan daddy tak akan ku sia-siakan, dalam waktu tujuh hari aku akan memberantas pelaku yang sudah mengunakan nama kita sebagai dalang dari kekacauan yang ada di sini." ungkap Zain tegas.


"Berhati-hatilah, dan jangan anggap remeh musuh!"


"Baik dad." Zain matikan telfon dan menyusul Alex berserta yang lain di markas.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Kampus tempat dimana Keysa kuliah kini telah di hebohkan dengan kedatangan mahasiswa baru, semua mahasiswa berdiri mengerubunginya seperti melihat aktor tampan, meskipun tak di pungkiri mahasiswa baru itu memang tampan.


Tet


Tet


Tet


Bel menandakan kelas akan segera di mulai, mahasiswa yang berdiri membentuk barisan rak beraturan itu kini mulai membubarkan diri.


"Syukurlah, bel itu menyelamatkanku, kalau tidak bagaimana jadinya aku, sepertinya apa yang akan aku lakukan di sini akan cukup merepotkan aku." gumam pemuda tampan yang kini masih berdiri di samping mobilnya.


Pemuda itu beralih mencari tata letak ruang kuliah yang akan di masuki karena mulai hari ini dia akan belajar.


"Kamu mahasiswa baru." suara dari belakang mengagetkan pemuda itu.


"Iya, saya yang akan melanjutkan kuliah saya di sini."


"Mari ikut saya, kebetulan kelas yang akan kamu tuju merupakan bagian saya saat ini."


Pemuda itu mengikuti di belakang Dosen wanita yang akan mengajar di kelasnya.


Ceklek

__ADS_1


Suara sepatu yang beradu dengan keramik mengalihkan perhatian mereka, para mahasiswa terbengong melihat siapa yang datang, bulan dosen yang menjadi pusat perhatian mereka melainkan pemuda tampan yang berdiri di belakang dosen tersebut.


"Perkenalkan dirimu setelah itu duduklah, pelajaran akan di mulai." pinta dosen tersebut.


"Baik, saya Dion Wiliam, saya murid baru di sini. Semoga kita bisa berteman dengan baik di sini." sebutan singkat dari pemuda yang diketahui namanya Dion. Setelah itu Dion memilih duduk di sebelah Keysa, ya semua itu memang sudah di rencanakan.


Dion yang merupakan anak kenalan dari ayahnya Keysa, Dirga memintanya untuk menjadi teman sekaligus mata-mata yang akan melaporkan apapun yang di lakukan oleh putri bungsunya di luar sana.


Dion sendiri sebenarnya adalah putra dari keluarga Wiliam, seorang penerus dari keluarga Wiliam. Dion jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang gadis cantik saat di mall. Dengan segala upaya Dion lakukan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, data diri dari gadis tersebut sudah Dion pelajari dan saat mengetahui jika ayah dari gadis yang dia suka mencari seorang mata-mata yang dapat di percaya, Dion memutuskan akan mendekatinya dengan cara apapun, termasuk bersedia menjadi mata-mata untuk Dirga.


Dirga sendiri tak tahu siapa Dion sebenarnya, yang Dirga tahu Dion bekerja sebagai mata-mata dan itu semua atas rekomendasi dari kenalannya.


"Hai, cantik, kenalan yuk." Dion ingin lebih dekat dengan Keysa.


"Keysa," jawab Keysa singkat.


"Nama yang cantik, seperti orangnya!"


"Makasih."


Kelas hari ini berjalan dengan lancar, Keysa yang memang sangat pandai tak memiliki kesulitan dalam bidang yang di ambil saat ini. Berbeda dari sebelum Keysa keluar dari rumah, Keysa saat ini tak lagi membuat ulah baik di kampus maupun di luar kampus dia benar-benar mengurangi keisengan nya itu, semua itu hanya karena tak mau ayahnya mencabut kembali janji yang sudah di buat. Dirga mengatakan jika Keysa berbuat ulah lagi maka Keysa kehilangan kebebasannya.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Di ruang tertutup, kelima pemuda yang masih sama-sama jomblo sedang mengadakan diskusi penting terkait rencana yang akan di lakukan kedepannya.


Mata dari keempat kawannya pun tak lepas dari monitor yang menunjukkan beberapa angka dan kata yang mungkin menimbulkan tanda tanya besar di otak mereka.


Zain menghentikan aktivitasnya dan menunggu beberapa menit, ketegangan cukup terlihat dari wajahnya mereka semua.


"Yes!" seru Zain saat layar monitor kini sudah menampilkan rentetan informasi yang Zian butuhkan.


"Kamu memang hebat Zain, bisa meretas apapun yang kamu mau." seru Alex. Ke tiga rekannya juga merasa kagum akan kehebatan Tuannya Zain.


"Ya, sepertinya itu bakat yang di turunkan oleh ayah kepadaku." puji Zain pada diri sendiri.


Ayah kandungnya, Deon Atharrayhan memang mengajari putra semata wayangnya untuk bisa memilih bakat meretas, itu semua hanya sekedar hobby yang Deon salurkan pada putranya, dengan harapan bisa membantunya kemudian hari, dan siapa sangka kini Zain bahkan lebih mahir di bandingkan dengan ayahnya. Ayah angkatnya Brian pun sudah mengetahui bakat terpendam Zain dan mendukung apapun yang di lakukan oleh putra kesayangannya itu.


"Apa kita akan langsung menyerang lawan tuan," ucap Alex menghentikan senyum yang sempat mengembang berganti tatapan tajam diiringi senyuman mengerikan yang kini telinga jelas di wajah Zain.


"Kita tidak akan menyerang, biarkan mereka bertindak lebih dulu, itu akan memudahkan kita menemukan mereka, terlebih saat mereka membuat onar semuanya telah berkumpul dan kita tak perlu repot-repot mencarinya."


"Aku minta Andra, Jeff dan Smith untuk berada di kerumunan, tempat yang akan mereka ratakan kali ini, kalian lihat tepat yang bergaris merah!" Zain menunjuk peta yang berhasil di retas olehnya.


"Membaur lah disana, laporkan apapun yang kalian curigai di sana, aku dan Alex akan turun ke sana untuk menyusul kalian, ingat kalian harus menyamarkan penampilan kalian, meskipun orang -orang ini tak ada yang mengetahui wajah kita, kita harus tetap mencari aman."


"Pergilah, dan berhati-hati!" jelas Zain.

__ADS_1


"Baik tuan, saya permisi." ketiganya serentak berangkat menuju lokasi yang sebentar lagi akan mandi darah.


"Kamu Alex, minta seluruh anak buah untuk berkumpul di markas sekarang!"


Tanpa bertanya lagi Alex menjalankan perintah Zain.


Tak butuh waktu lama seluruh anak buah Zain yang berada di Dubai telah berkumpul, layaknya barisan siap tempur.


"Kalian bagi regu menjadi tiga!" perintah Zain dengan suara keras.


Dengan sigap nan cepat bawahan Zain sudah membentuk tiga regu, pasukan yang kini berjumlah seribu orang kini sudah pecah menjadi tiga.


"Kalian semua pasti bertanya kenapa aku memecah kalian menjadi tiga, kenapa aku tidak meminta kalian bersatu karena dengan bersatu lawan akan cepat tumbang, aku akan menjawab pertanyaan kalian itu."


"Yang pertama, aku telah mendapatkan informasi terkait penyerangan yang akan terjadi sekitar satu jam lagi, dan disana sudah ada Andra, Jeff dan Smith yang akan memimpin pasukan satu. Yang kedua, setelah mendapat berita tersebut, aku menyadari ada yang jangal dari apa yang aku lihat dan ternyata benar, musuh melakukan serangan ganda kali ini, untuk itu aku minta pasukan dua segera bersiap dan akan di pimpin oleh Alex."


Alex yang mendengarnya cukup terkejut, tapi tetap diam dan menahan keinginan untuk bertanya.


"Yang ketiga, aku mengetahui kalau bos besar dari mereka tak akan ikut bergabung dalam penyerangan ini, yang artinya bos dari mafia ini akan bermain di balik layar, dan itu akan menjadi bagianku saat ini. Aku sudah mengetahui tempat persembunyian bos besar itu, Kita akan menyerang secara bersamaan seperti apa yang mereka lakukan, untuk kalian berhati-hatilah, dan segera kabari aku jika terjadi apa-apa."


Zain hendak pergi namun sebuh tangan menghentikannya, "Bagaimana tuan bisa melakukannya sendiri, bukankah kita selalu bersama dalam setiap hal." Alex menatap Zain intens.


"Untuk saat ini, inilah yang terbaik, aku tak akan melewatkan kesempatan ini untuk memberantas musuh, kesempatan tak datang dua kali, lagipula bos Mafia itu tak akan mengunakan penjagaan ketat ini kesempatan ku, tenanglah aku akan baik-baik saja tak akan ada yang bisa mengalahkan Zian termasuk mafia pecundang ini, sudah lakukanlah bagianmu dan katakan pada Andra, Jeff dan Smith mereka harus pulang dengan membawa kemenangan aku yakin kalian bisa." ucap Zain penuh penekanan.


"Baiklah tuan, setelah selsai kami akan datang membantu tuan." Alex mencoba percaya dengan apa yang di katakan Zain kepadanya.


Dengan gerak cepat semua pasukan telah berangkat, Kota Dubai yang awalnya tenaga kini berubah menjadi tempat mengerikan, beberapa orang yang berada di sana sudah berlalu berhamburan menyelamatkan diri, seperti sebelumya penyerangan di lakukan menggunakan klan mafia Milik Zain. Berbagai sosial media juga kini tak luput dari berita mengerikan itu.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Keysa dan Nisa sedang berada di sebuah caffe, di dalam sana suasana menjadi mencengkam kala menyaksikan penyerangan yang diliput secara live dari Dubai.


"Gila, pelakunya sadis banget, mereka kan nggak salah apa-apa tapi menjadi korban perang antar mafia." celetuk Nisa.


Keysa sendiri masih terpaku dengan berita di layar TV tersebut.


"Kamu benar Nisa, kenapa juga harus ada organisasi mafia segala, kalau ujung-ujungnya hanya buat onar seperti itu. Semoga saja aku nggak ketemu sama Mafia kayak gitu." Keysa mengalihkan tatapannya menghadap Nisa meninggalkan berita yang sedang heboh saat ini, menurutnya Mafia hanya membawa bencana.


"Emang kalau ketemu sama Mafia sungguhan gimana, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Nisa kepo akan jawaban Keysa.


"Kalau mafia itu ada di sini, bakalan aku kasih pelajaran dia, bisa-bisanya buat organisasi yang hanya bisa meresahkan, nggak akan aku kasih ampun deh pokoknya." jawab Keysa geram, sifat jahilnya mulai keluar, ya sepertinya Keysa akan melakukan kekacauan sama seperti yang sering dia lakukan.


"Berani sama Mafia?"


"Beranikah, seorang Keysa kan nggak pernah takut sama siapa-siapa!"


"Iya aku percaya, biang pembuat onar hanya untuk menarik perhatian Ayahnya adalah kamu seorang Keysa. Dan aku percaya kamu akan membuat onar dengan si Mafia itu." keduanya kini tertawa sambil memakan makanan kesukaannya.

__ADS_1


__ADS_2