Belenggu Cinta Mafia

Belenggu Cinta Mafia
Seandainya


__ADS_3

Jam sudah berganti, awan cerah sudah berganti menjadi awan gelap. Keysa masih setia menunggu di depan teras rumah. Angin pun berhembus cukup kencang menerpa tubuh dan menciptakan hawa dingin di sekujur tubuh.


Semua itu tak membuat Keysa mengurunkan niatnya untuk tetap menunggu Zain pulang.


"Kak Zian, dimana kamu kak, kenapa sampai gelap kak Zain belum juga pulang, apa kak Zain mendapat lembur?" pikir Keysa masih positif.


"Sabar Keysa mungkin sebentar lagi Kak Zain pulang." Keysa masih bersemangat. Hingga waktu menunjukkan pukul sepuluh malam orang yang Keysa tunggu tak kunjung pulang.


"Ini sudah sangat larut malam, apa Kak Zain ngak pulang ya, lalu kak Zain tidur dimana malam ini."


"Keysa jangan berpikir macam-macam percaya saja pada suamimu." Keysa bermonolog.


Akhirnya Keysa memilih menunggu di dalam, meski malam semakin larut tapi Keysa tetap menunggu, bahkan makanan yang dia siapkan untuk Zain masih terhidang dengan rapi di atas meja. Sudah hampir jam satu dini hari tapi Zain belum pulang juga, Mata yang tak bisa di ajak kompromi pun akhirnya terpejam, Keysa tertidur di sofa hingga pagi menjelang.


"Huaammm..." Keysa mulai mengerjap, membuka perlahan mata yang tertutup rapat, pertama kali yang Keysa ingin lihat saat bangun tidur adalah wajah tampan suaminya. Itu adalah impian Keysa semenjak Zain hadir di dalam mimpi indahnya, sebagai Pangeran yang akan membawa kebahagiaan dalam hidup Keysa. Tapi apalah daya semua hanya mimpi, nyatanya Zain tak membawa kebahagiaan melainkan luka.


Bukankah impian setiap orang yang menikah adalah mendapat kebahagiaan? tapi kenapa Keysa justru mendapatkan luka? apa Keysa tak berhak bahagia?


Keysa mencari lagi Kak Zain ke dalam kamar siapa tahu dia sudah pulang tapi tidak memberitahunya.


Dengan perlahan Keysa masuk ke kamar utama yang kini menjadi milik Zain seorang.


Cklekk


Perlahan tapi pasti Keysa melangkahkan kaki, masuk ke dalam.


"Nyaman...Seandainya ini juga kamarku." ucap Keysa singkat. Ya, kamar ini lebih nyaman di bandingkan tempat yang Keysa jadikan kamar. Awalnya Keysa hanya ingin memastikan Kaka Zain sudah pulang atau belum, tapi justru berlanjut ingin mengetahui semua tentang suaminya. Dipandangi Foto Zain yang menggantung di dinding.


"Tampan..., seandainya keluargaku tak memiliki salah padamu apakah kamu akan bersikap baik kepadaku kak?"


Keysa ingin menyalahkan Zain, namun mengingat jika ayahnya yang memulai duluan dengan menghancurkan keluarga kecil itu Keysa justru menyalahkan tindakan Ayahnya sendiri.


"Satu harapanku kak, di sisa hidupku aku ingin menghabiskan waktu ku bersamamu biarlah kamu tak mencintai ku bahkan memberiku luka, aku tak akan menyerah. Toh akhirnya aku juga akan pergi, tapi aku ingin selalu berada di sampingmu, menghembuskan nafas terakhirku bersamamu." tanpa diminta air mata jatuh membasahi pipi. Keysa merasa bahagia sekaligus sedih.


Cklekk


Pintu terbuka, menyadarkan Keysa dari lamunannya.


"Lancang kamu!! masuk ke kamarku tampa izin!" Zain terlihat marah dengan bola mata hampir keluar.

__ADS_1


"K-kak Zain, maaf kak aku_"


"Bukankah Aku sudah katakan kepadamu untuk tak meginjakkan kaki di kamarku tanpa seizin ku?"


"Aku tadi hanya ingin memeriksa apakah kak Zain sudah pulang." ucap Keysa lirih, bahkan hampir tak terdengar.


"Sekarang keluar dari kamarku, jangan pernah lagi kamu injakkan kaki di kamarku."


Tanpa banyak bertanya Keysa memilih pergi, keluar dari kamar menuju kamarnya sendiri.


Brak


Keysa membanting pintu, menjatuhkan tubuhnya di kasur yang tak empuk dan menumpahkan segala sesak yang dia tahan. Air mata tak dapat Keysa tahan kini tumpah sudah kesedihan dalam hatinya. Karena lelah menangis Keysa tertidur kembali. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh, Keysa bahkan melupakan semua tugasnya.


Byurr


Lagi-lagi Zain membangunkan Keysa dengan menyiram seember air, membuat Keysa tergagap bangun dengan basah kuyup. Sepertinya Zain memang tak mempunyai cara lain untuk membangunkan Keysa atau memang dia sengaja melakukannya.


"Enak ya tidur, sampai lupa tugas kamu disini, apa perlu aku ingatkan lagi, atau kamu memang suka di beri hukuman?" Zain tersenyum menyerigai terhadap Keysa.


Keysa sendiri tak mampu untuk membalas tatapan Zain, sedari tadi Keysa hanya menunduk, menatap lantai untuk mengalihkan pandangannya.


Kini hanya tinggal Zain sendiri, pandangan nya menelisik seisi kamar milik Keysa.


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช? ๐˜ˆ๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช.


Zain keluar dan bersiap-siap hendak berangkat kerja. Sekilas aktivitas Zain hanya bekerja, pulang, lalu bekerja lagi, sepertinya tak ada waktu untuk berlibur atau sekedar bersantai di rumah. Lalu bagaimana bisa Keysa mendekati suaminya, bahkan untuk berbicara baik pun Keysa tak memiliki kesempatan untuk itu.


Banyak hal yang tak Keysa ketahui mengenai kehidupan Zain, semua masih tersimpan rapat dari Keysa.


Apa yang akan Keysa lakukan jika dia mengetahui bahwa Zain bukanlah orang miskin seperti yang terlihat, melainkan pewaris tunggal dan merupakan seorang ketua mafia? Apa Keysa akan memilih pergi atau tetap bertahan bersama Zain?


Seperti sudah terbiasa Keysa mulai bisa melakukan pekerjaannya dengan cepat, dengan begitu waktu bersantai yang Keysa miliki juga cukup banyak.


"Aku yakin kak Zain pasti menyukai masakanku, ini sangat enak dan pastinya tidak keasinan." Keysa juga sudah bisa membuat masakan yang enak. Semua bahan makanan memang sudah Zain siapkan, bukan berbelanja sendiri melainkan memang di kirimkan boleh mommy Maya. Sebagai putra tinggal mommy Maya memang tak ingin putranya kekurangan apapun, terutama soal makanan.


Zain sudah siap dengan pakaian kerjanya, hanya memakai celana panjang serta kaos dan jaket kulit sudah mampu menambah ketampanan seorang Zain.


๐˜ˆ๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ!! ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜จ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข.

__ADS_1


Hingga Zain semakin mendekat Keysa masih terpaku memandang.


"Ekhemm."


Deheman Zain berhasil menarik Keysa pada kenyataannya.


"Tundukkan matamu, jangan memandangku seperti itu." Zain mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, melihat apakah sudah bersih atau belum.


๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜จ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ.


"Makanlah kak, kita makan bersama."


Keysa duduk berhadapan dengan Zain, dua piring nasi goreng seafood sudah terhidang tentunya dengan aroma yang menggoda. Sengaja Keysa hanya memasak itu, sebab hanya itu yang Keysa bisa.


"Bagaimana kak, apa masakanku enak?" Keysa penasaran apa kak Zain menyukai masakannya.


"Biasa saja, tidak terlalu enak." ucap Zain. Mulutnya berkata biasa tapi lidahya berkata lain. Zain sebenarnya menyukai masakan yang Keysa buat, tapi ego masih sangat tinggi hingga membuat Zain engan mengatakan enak.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Di ruangan yang tersembunyi, seorang anak buah terlihat sedang menelfon seseorang. Beberapa kali ia melihat keadaan sekitar, takut apa yang dia lakukan akan di ketahui oleh orang lain. Sedangkan yang lain sedang berlatih di ruangan khusus, dengan alasan ke kamar mandi dia melaporkan apa yang baru saja dia ketahui.


Niko merupakan seorang penyusup di markas Dragon black, baru saja bergabung, dia mencoba mencari informasi penting yang mungkin bisa menghancurkan organisasi mafia besar tersebut.


"Hallo bos...."


Katakan apa ada informasi penting yang kamu dapatkan?" tanya seseorang di balik telfon tersebut. Yang juga merupakan bos sesungguhnya dari mata-mata itu.


"Iya... bos." ucap Niko mantap.


๐˜‰๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜‹๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.


"Temui aku di caffe indah satu jam lagi."


Tut


Telfon di matikan oleh sang bos. "Bos ini suka sekali berbuat seenaknya, tapi bagaimana lagi bos tetaplah bos." gerutu Niko.


"Niko!" ucap Alex yang sudah berada di belakang Niko.

__ADS_1


๐˜”๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ.


__ADS_2