Belenggu Cinta Mafia

Belenggu Cinta Mafia
kerja sama


__ADS_3

Kehancuran kembali Dirga rasakan, bukan Hanya Zain, Dion pun sama liciknya, menjerat dengan surat kontrak yang tentunya sangat merugikan baginya.


"Aaakkhhh..." pekik Dirga.


"Apa yang harus aku lakukan, aku sudah kehilangan segalanya." ucap Dirga frustasi.


Sekuat apapun Dirga mempertahankan kekuasaan yang dimiliki, nyatanya itu pun tak dapat membuatnya merasa bahagia. Kali ini Dirga akan benar-benar hancur, sebagai kepala keluarga dia telah gagal menjalankan tugasnya dan sebagai seorang ayah Dirga pun telah gagal dalam melakukan tanggung jawabnya sebagai ayah yang baik.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Selepas dari pertemuan dengan Dirga Dion kini sibuk untuk menyambut kedatangan sekutu barunya yang dulunya merupakan teman lama Papanya.


"Selamat datang tuan Viktor." sapa Dion dengan ramah, tentu, Albert sudah mengingatkan Dion agar tak membuat kesalahan sekecil apapun, sebab Viktor adalah orang yang mudah tersinggung. Sekali egonya terluka maka dia akan menjadi musuhnya saat itu juga. Bahkan sahabat ataupun saudara sendiri bisa dia jadikan musuh.


"Di mana Digoza? oh ya nama ayahmu berubah menjadi Albert ya." ucap Viktor dengan senyum menyerigai.


"Papa ada di dalam, silahkan anda masuk." Dion mempersilahkan Viktor masuk ke dalam markas.


Sengaja Albert meminta pertemuan di markas miliknya sendiri, Albert ingin menunjukkan betapa berkuasanya dirinya meskipun kekuasaannya masih di bawah Brian, musuh bebuyutannya.


"Temanku Viktor...!" Albert berjalan mendekat ke arah Viktor tentunya masih menggunakan kursi roda.


"Bagaimana keadaanmu, apa kau akan selamanya seperti ini?" tanya Viktor sedikit mengejek.


"Tidak, ini hanya sementara. Aku akan sembuh dan akan membalaskan dendam ku, Maukah kau menjadi Sekutu ku Viktor? bantu aku menghabisi Zain Miller, sebagai gantinya akan ku bantu kau menjadi penguasa dunia gelap yang tertinggi di kota ini." Albert mencoba membuat kesepakatan dengan Viktor.


Albert sangat tahu teman lamanya ini sangat haus akan kekuasaan, dan hanya akan melakukan kesepakatan jika itu sangat menarik terlebih menguntungkan baginya.


Mendapat penawaran menarik, Viktor langsung saja terbawa suasana, angan-angan menjadi yang terkuat sudah tercapai jelas di kepalanya, dengan cepat Viktor menyetujui kerja sama itu.


"Tapi bukankah dia adalah ketua mafia yang paling kuat, bagaiman bisa kita menggulingkannya dari kekuasaannya itu?"


"Tentu bisa, kita bentuk Sekutu yang kuat dan menyerangnya dari dalam, aku punya seseorang yang bisa kita andalkan untuk itu."


"Kau sungguh licik Digoza! aku menyukai cara kerjamu."


"Deal!! akan ku kabari jika kita akan menyerang, untuk sekarang biarkanlah mereka merasa lengah, saat itulah kita akan meluncurkan serangan." ucap Albert mantap, senyum menyerupai menghiasi wajah yang sudah nampak tua itu.


"Viktor perkenalkan dia adalah putraku, Dion."

__ADS_1


"Senang berkenalan dengan anda tuan Viktor."


"Hemmm, aku tahu dari pertama melihatnya, dia sangat mirip dengan mu Digoza."


Pertemuan Albert dengan sahabat lama tersebut berjalan sangat lancar, berbagai acara Albert suguhkan untuk menyambut Viktor seorang.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Keysa kali ini sedikit bebas, pekerjaan yang seharusnya dia kerjakan hari ini sudah dia lakukan tadi malam.


"Akhirnya aku punya waktu luang, setidaknya sampai kak Zain pulang bekerja, selepas itu aku tak tahu tugas apa yang akan kak Zain berikan padaku. Sepertinya tugas dari kak Zain tak pernah ada habisnya." gerutu Keysa.


"Oh ya, bukankah di gudang ada sebuah piano mungkin masih bisa di gunakan, lumayan kan aku bisa memperdalam belajar bermain piano, siapa tahu aku bisa terkenal suatu saat nanti, ya meskipun itu hanya akan menjadi angan-agan saja." dengan semangat Keysa berjalan memasuki kamarnya dan membongkar barang-barang yang sudah Keysa pindahkan di sudut ruangan kamarnya.


"Ini dia... " Keysa sangat senang setidaknya hidupnya akan sedikit berwarna setelah ini.


Perlahan tapi pasti Keysa mulai memainkan jari-jemari lentiknya di atas plot piano yang akhirnya menciptakan nada merdu dari piano tersebut.


Sudah hampir satu jam Keysa bermain piano di kamarnya. Keysa bahkan tak menyadari jika waktu telah berlalu begitu cepat, "Astaga aku lupa belum masak, mana kak Zain sebentar lagi akan pulang." dengan cepat Keysa mengembalikan piano ke tempat semula, tak lupa menutupinya. Keysa tak mau Zain sampai mengetahui kalau Keysa suka bermain piano, besar kemungkinan Zain akan menghancurkan apa yang Keysa sukai saat ini. Bukankah Zain akan merasa sangat senang jika melihat Keysa menderita?


Kebahagiaan kecil yang Keysa rasakan cukup mampu membuatnya melupakan sejenak kesedihan yang dia alami selama beberapa hari terakhir. Tak lupa senyuman menghiasi wajah cantiknya saat ini, meskipun wajah Keysa tak tersentuh make up tapi tetap terlihat cantik, bahkan sebenarnya kecantikannya melebihi kakak kandungnya, letha. Kepribadian mereka memang berbeda, namun kakak beradik itu tetap saling menyayangi satu sama lain.


Dengan mengandalkan ilmu yang minim, Keysa mulai membuatkan masakan sederhana untuk Kak Zain. Nasi goreng dengan toping seafood telah tersaji di atas meja.


"Perfect..."


Keysa menunggu di depan teras rumah, berharap suaminya segera pulang.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Zain sedang mengendarai motor bututnya, jalan yang Zain lalui berlawanan dengan arah pulang. Zain memutuskan untuk singgah ke markas terlebih dahulu menemui Alex serta yang lain.


"Apa ada kabar terbaru?"


"Sampai saat ini keadaan masih aman tuan." lapor Alex.


"Aish! bukan itu, maksudku tugas mencari informasi mengenai pemain piano bertopeng di pesta lalu, apa sudah ada kabar?" Zain cukup geram dengan Alex. Alex bukan hanya tangan kanannya Zain tapi juga sahabat dekat Zain, semua rahasia yang Zain miliki Alex pun mengetahuinya.


"Oh itu..., ini tuan." Alex menyerahkan mao berisi informasi yang Zain minta.

__ADS_1


Zain membuka dan membaca dengan teliti apa yang Alex temukan.


"Apa hanya ini?"


"Iya tuan, sepertinya ada yang menutup rapat semua informasi mengenai dirinya, tuan." jelas Alex.


"Sial! kenapa sulit sekali menemukan informasi mengenai gadis itu, sebenarnya siapa dia?" gurat kekesalan terlihat jelas di waja tampan Zain.


Dalam map tersebut hanya tertulis KA sebagai nama panggilan Piano bertopeng, mengenai alamat dan identitas lainnya tak berhasil Alex dapatkan.


"Terus cari informasi mengenai gadis bertopeng itu, aku menginginkannya, sungguh, suaranya dan setiap nada yang dia mainkan seakan menarik ku untuk mendekat, aku rasa aku menyukai gadis itu." ungkap Zain berterus terang.


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข? ๐˜ด๐˜บ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ถ?


"Alex!"


"Eh....iya tuan."


"Ingat jaga markas baik-baik, jika ada yang mencurigakan kamu bisa mengambil tindakan, aku percayakan Markam ini di tanganmu selama aku berada di luar." Zain berlalu pergi keluar dari markas.


Alex mengangguk, Zain sudah dia anggap sebagai keluarga sendiri, apa yang di minta oleh Zain akan Alex lakukan, bahkan mengorbankan nyawanya pun akan Alex lakukan.


Tujuan Zain saat ini adalah pulang ke rumah utama, hari ini daddy Brian telah kembali dari luar negri dan mommy Maya meminta Zain untuk hadir di rumah.


"Mom..."


"Zain, baru ulang sayang? bersihin diri dulu gih, setelah itu makan."


"Iya mom."


Setelah selesai, Zain ikut bergabung dengan mommy Maya. Di ruang tamu sudah ada daddy Brian yang baru saja sampai beberapa saat lalu. Keluarga Miller merupakan keluarga yang kompak dan hangat, kasih sayang yang mereka berikan mampu menciptakan kenyamanan bagi siapapun yang berada di dalam rumah itu.


"Malam ini kamu nginap ya Zain, bukankah kamu kemarin mau menginap tapi ngak jadi sebab harus pergi ke markas." mommy Maya cemberut.


"Menginap lah Zain, lagipula kamu kan hanya tinggal sendiri apa salahnya tidur di sini. Daddy tidak melarang kamu untuk mandiri hanya saja kamu masih punya keluarga dan disini adalah tobat kamu pulang. Beda lagi kalau kamu sudah punya istri." ucap daddy Brian yang juga ingin Zain menginap.


"Itu bukan permintaan tapi perintah!"


Melihat mommy nya cemberut, Zain akhirnya menuruti keinginan mommy Maya.

__ADS_1


"Iya, mom, dad, Zain akan menginap di sini."


๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜จ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช.


__ADS_2