Belenggu Cinta Mafia

Belenggu Cinta Mafia
Chap 34


__ADS_3

"Aliyah? Kenapa kamu melepas ini?" tanya Devan dengan wajah tak senang keluar dari kamar mandi. Manunjukan sebuah gelang ditangannya.


"Aku mandi tadi. Jadi aku lepas dulu. Lupa pakai lagi." Jawab Aliyah ringan duduk dimeja rias mengeringkan rambutnya. "Lagi pula itu untuk Janin bukan? Aku nggak hamil jadi tak membutuhkannya."


Devan mendekat. menarik tangan Aliyah dan memasangkan kembali gelang itu.


"Jangan pernah melepas gelang ini lagi tanpa seijinku." ucap Devan tajam memperingatkan.


"Kenapa?" selidik Aliyah membiarkan Devan memasang gelang itu. Aliyah melihat gelang ditangannya. Lalu beralih menatap Devan.


"Kenapa?"


Devan masih terdiam tanpa jawaban.


"Kalau kau melarangku tanpa alasan mungkin aku akan melepasnya lagi lain waktu." ucap Aliyah lagi berharap Devan akan menuntaskan rasa penasarannya.


"Itu, barang berharga." ucap Devan pelan.


"Apa?"


"Barang berharga yang bahkan lebih dari pada nyawaku." lanjut Devan menatap yakin pada Aliyah.


"Dan aku mempercayakannya padamu. Jadi, jagalah gelang itu. Apapun yang terjadi. Heemmm?" pinta Devan serius.


"Ini terlihat hanya seperti sebuah gelang." gumam Aliyah pelan menatap dan memegang gelang di tanganya.


"Jangan terlalu dipikirkan." Devan mengangkat tubuh Aliyah dan menempatkannya di pangkuannya.


"Ingatlah, jangan melepaskan apapun yang terjadi."pesan Devan.


"Baiklah."


Devan menatap wajah Aliyah dengan rasa sayang. Devan menautkan bibirnya, mengecup bibir lembut Aliyah. Hingga bertahan seperti itu beberapa saat. Saling menggulum lidah. Devan menjadi tak sabar. Mendorong jatuh tubuh mungil istrinya Memgukung dibawah tubuhnya sendiri.


*****


Devan tersenyum puas melihat wajah lelah Aliyah yang terlelap didepannya.


"Kenapa menatapku selama itu?" lirih Aliyah berucap. Tubuhnya serasa sangat lelah dan pegal.


"Sepertinya sarapan kita berbeda pagi ini." kekeh Devan, membuat wajah aliyah memerah.


"Aku suka."lanjutnya. Devan bangkit dari tidurnya, dan turun dari ranjang. Devan melangkah kemaar mandi. Beberapa saat kemudian dia sudah keluar dengan wajah yang lebih segar.


"Tuan Suami."

__ADS_1


"Heemmm" Dehem Devan mengeringkan rambutnya.


"Aku sangat lelah."ucap Aliyah pelan. menatap Devan dengan ragu."Bolehkan hari ini kita libur latihan dulu?"


Devan menghentikan aktifitasnya mengeringkan rambut.


"Kamu mau libur latihan?" tanya Devan melanjutkan lagi mengeringkan rambutnya.


"Heemmm.. boleh ya?" tanya Aliyah manja, menatap Devan penuh harap.


"Baiklah."


"Benarkah?" tanya Aliyah dengan mata berbinar.


"Heeemmm.." Devan meletakan handuknya. dan datang mendekat."Tapi ada syaratnya."


"Baiklah. Apa?" Aliyah bersemangat.


"Seharian ini, dikamar." ucap Devan tersenyum mesum.


"Apa?"


Aliyah tersentak kaget.


"Mau ngapain seharian dikamar?"


"Hiiisshh..." kesal Aliyah memukul ruang disampingnya.


"Mandilah, aku mau ganti baju dulu. Kita sarapan. Aku tunggu dibawah." tegas Devan mendominasi melangkah keruang ganti.


Aliyah menatap punggung Devan dengan cemberut.


"Capek. pegel. Rasanya badanku remuk semua." rengeknya berjalan lemas ke kamar mandi.


Devan yang belum sempat sampai ke ruang ganti menoleh, melihat Aliyah yang memasuki kamar mandi.


****


Di meja makan, Aliyah memakan sarapannya dengan tidak bersemangat. Sarapan yang terlambat. Karena aktifitas pagi yang menyita cukup waktu mereka tadi. Tubuh Aliyah serasa remuk, ingin rasanya dia tidur saja siang itu.


Namun Devan seolah tak mau tau hanya menyuruhnya untuk latihan.


Haaaaahhh... Aliyah menghela nafasnya.


Devan beberapa kali melirik istrinya itu. Dia berusaha untuk tidak goyah. Walau bagaimanapun hatinya tak tega jika melihat istrinya begitu kelelahan dan berwajah begitu. Namun disisi lain Devan juga harus menempa Aliyah menjadi wanita yang lebih kuat. Sebentat lagi waktunya untuk kembali ke perkumpulan para gangster.

__ADS_1


Tentu saja Aliyah akan menjadi incaran yang empuk bagi mereka. Karena itu Devan harus melatih Aliyah untuk pertahan dirinya sendiri.


Seusai sarapan, Devan membawa Aliyah ke tempat latihan menembak. Setelah membantu Aliyah memasang pemutup telinga dan beberapa perangkat lainnya.


"Coba sekarang tembak titik itu." ucap Devan menunjuk titik target.


Dengan malas Aliyah mengangkat tangannya. Lalu menyipitkan matanya. Aliyah mulai menarik pelatuknya.


DOOORRR!


"Sekali lagi."


Aliyah membidik lagi, dan menembak.


DOOORRR!


Devan tersenyum puas.


"Kamu memang punya bakat alami sayang."puji Devan Menjentikkan jarinya. Target bergerak mendekat. Alangkah terkejutnya Aliyah melihat tembakannya tepat sasaran.


"Ayo kita coba lagi."


Setelah mencoba beberapa kali tembakan. Hanya dua yang melenceng dari sasaran. Devan tersenyum puas, sedangkan Aliyah melongo. Tak percaya dengan yang dilihatnya.


"Benarkah ini targetku. Hasil tembakanku tadi?" tanya nya tak percaya menatap suaminya.


"Tentu saja.Kamu luar biasa Aliyah. Sepertinya kamu memang terlahir menjadi penembak jitu." Devan mengusap sayang kepala Aliyah.


"Baiklah lanjutkan latihan berikutnya."Cetus Devan. melangkah mendahului.


"Apa masih ada berikutnya?" sahut Aliyah lemas tak percaya. Tubuhnya merosot kebawah. Hingga terduduk diatas tanah.


"Aku sudah lelah sekali.." rengeknya.


Devan mendekat lalu berjongkok didepannya.


"ini latihan. yang lain." hibur Devan. "Kamu mungkin akan suka."


____€€€____


Reader kuuh , kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.


like dan komen ya


Terima kasih.

__ADS_1


Salam___


😊


__ADS_2