Belenggu Cinta Mafia

Belenggu Cinta Mafia
yang lalu biarlah berlalu


__ADS_3

"Bagaimanapun Zain berusaha, dia tidak akan pernah mengetahui tentang kita." ucap Viktor percaya diri. Percaya jika rencananya sudah benar-benar matang.


"Ya, kita akan hancurkan Zain dari dalam." Albert tersenyum lebar, seakan beban yang dia tanggung telah hilang.


"Bersulam... "


Keduanya merayakannya keberhasilan mengelabui Zain dan para anggota Dragon Black dengan mudah.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Sesuai perintah Zain, Keysa kini sudah siap untuk mencari pekerjaan. Keysa tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang Zain berikan, bukan hanya bisa bekerja, bukankah Keysa juga bisa sedikit menikmati bebasnya menghirup udara luar. Ya, meskipun tempatnya pulang tetaplah rumah Suaminya, Zain. Keysa tetap bersyukur.


"Apa aku sudah terlihat cantik? aku tak mau tidak di terima kerja hanya karena penampilanku yang seperti mayat hidup." Keysa bermonolog.


Sejak pagi Keysa sangat semangat untuk mencari pekerjaan, bukan full time melainkan hanya separuh waktu. Mengingat pekerjaan rumah yang harus Keysa dahulukan.


"Jika aku bekerja, lumayan uangnya bisa aku gunakan untuk membeli obat, jujur aku kasih ingin berada di samping kak Zain sampai waktu ku benar-benar habis." ucap Keysa masih menatap dirinya sendiri di depan cermin yang berukuran setinggi dirinya. Ekspresi wajahnya tak dapat di baca entah harus bahagia atau sedih.


"Tapi aku mau kerja dimana? aku nggak punya pengalaman kerja, apa aku minta bantuan Nisa saja ya? Nisa pasti punya kenalan yang bisa memberiku pekerjaan."


"Tapi bagaimana caranya menghubungi Nisa, ponsel saja aku tak punya!" Keysa baru saja mendapat secuil harapan tapi nyatanya harapan itu pun harus hancur sebelum terwujud.


"Sepertinya aku harus pergi ke rumah Nisa saja, sekalian silaturahmi. Sudah lama juga aku nggak main ke rumah Nisa."


Setelah merasa penampilannya sudah sempurna dengan riasan tipis yang terlihat natural. Keysa pada dasarnya sudah cantik maka tanpa berdandan pun akan tetap terlihat cantik. Setelah selesai, Keysa langsung saja pergi ke rumah Nisa dengan mengunakan taksi.


Tanpa sepengetahuan Keysa, anak buah Zain sudah bergerak mengikuti kemanapun istri bosnya pergi, semua informasi akan dia laporkan kepada Zain, tanpa terkecuali.

__ADS_1


"Apa aku jujur saja sama Nisa, ya. Siapa tahu aku bisa merasakan lega setelah bercerita, dan bukankah Nisa adalah sahabat terbaikku." ucap Keysa sempat berharap memiliki tempat berbagi cerita.


"Tidak....tidak... aku tidak bisa merepotkan Nisa dengan keadaanku sekarang. Nisa pasti akan cemas terlebih lagi aku sudah menikah dan aku terikat janji untuk tidak menceritakan pernikahanku pada siapapun." dengan hati yang bimbang Keysa tetap pergi ke rumah Nisa, Keysa berharap menemukan jalan keluar, meski bukan mengenai status yang di hadapi sekarang setidaknya Keysa bisa mendapatkan pekerjaan.


Tak membutuhkan waktu lama Keysa sudah sampai di rumah Nisa.


Kebetulan Nisa pun juga berada di rumah sedang membantu ibunya menyiram tanaman.


"Keysa!!"


Mengetahui sahabatnya berkunjung, Nisa segera membawanya masuk dan menjamunya. Perhatian sebagai sahabat membuat hubungan keduanya sangat dekat.


"Kemana saja kamu Keysa! udah kaya jin yang menghilang tanpa kabar aja, apa kamu lupa sama aku. Aku ini sahabat kamu kalau kamu punya masalah, ya kamu cerita sama aku pasti aku bantu, Keysa. Jangan kayak gini aku nggak suka, seolah aku ini bukan lagi sahabatmu." ucap Nisa melampiaskan kemarahannya pada Keysa, Nisa kecewa akan sikap Keysa.


Bukankah sahabat akan membagi segalanya? bercerita tanpa ada yang di tutupi bahkan hal yang bersifat pribadi pun bisa di jadikan topik?


"Awas kalau ngak ada kabar lagi, aku bakal putusin persahabatan kita ini."


"Jangan dong, kan cuma kamu sahabat yang aku punya, Nisa. Kalau kamu juga pergi nanti aku sendiri, emang kamu mau lihat aku sendiri?"


"Enggak lah! tapi jangan pernah kamu bohongi aku, Keysa. Aku tipe orang yang ngak akan memaafkan dengan mudah, apalagi kalau yang berbuat salah adalah orang terdekatku." sebuah peringatan Keysa dapatkan dari Nisa.


๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜•๐˜ช๐˜ด๐˜ข. ๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช. ๐˜•๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜•๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜“๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ข.


"Oh ya... kemarin kak letha juga datang kesini, tapi hanya sebentar cariin kamu, dia pikir aku tahu dimana kamu, Keysa."


"Kak letha datang kesini? apa ibuku juga ikut atau hanya kak letha sendiri yang cariin aku?" Keysa masih berharap ada kasih sayang yang di tunjukkan oleh Sinta, ibunya Keysa. Tapi nyatanya harapan itu pun pupus juga, ibunya bahkan tak mencoba mencarinya. Bukankah dengan kekuasaan ayahnya ibunya bisa menemukan keberadaannya? Atau mungkin memang ibunya sudah tak perduli lagi dengannya?

__ADS_1


"Kak letha datang sendiri, dia kira aku tahu keberadaan mu. Tapi kan aku juga nggak tahu kami dimana? Emang kamu selama ini kemana Keysa. Aku jadi kepo, jangan bilang kamu punya masalah dan kamu menghindar dari kami semua?" ucap Nisa sangat tepat dan membuat Keysa gugup.


๐˜”๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜•๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข? ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜•๐˜ช๐˜ด, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ถ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜œ๐˜ค๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜’๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ก๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ-๐˜ฎ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ.


"Kenapa diam, Keysa. Fiks... ini pasti ada masalah ya g kamu sembunyikan, jujur aja Keysa, dengan begitu kamu akan merasa lega!" Nisa masih mencoba untuk membuat Keysa menceritakan masalahnya.


Dengan susah payah akhirnya Keysa bisa berbicara jujur, itu pun setelah Nisa mengancam akan benar-benar mengakhiri persahabatan mereka. Ya, untuk apa persahabatan di pertahankan jika tak ada keterbukaan di dalamnya.


"Astaga!! itu bukan pangeran namanya Keysa. Lebih tepatnya itu pangeran yang kejam." mata Nisa sampai membola saat mendengar Keysa bercerita.


"Udah ya, gimanapun kak Zain dia sekarang udah jadi suamiku, aku harus nurut apa katanya."


"Bener-bener yang namanya Zain ini ya, awas aja kalau ketemu, bakal tak bejek-bejek aku jadiin rujak lontong baru tau rasa." Nisa sampai terengah-engah, merasa tak terima sahabatnya di perlakukan layaknya binatang.


Keysa memang bercerita tentang pernikahannya dengan Zain, tapi tak sepenuhnya hanya sebagian yang dapat Keysa ceritakan. Mengenai rahasia yang Keysa ketahui, Keysa masih menyimpan rapat. Karena itu menyangkut keselamatan suaminya sendiri.


"Sudahlah yang lalu biarlah berlalu, lagipula aku sudah menerima kak Zain sebagai suamiku sepenuhnya. Hanya satu keinginanku sekarang, yaitu menghabiskan sisa hidupku bersama orang yang aku cintai tak lebih. Nisa...aku akan berusaha sebaik mungkin untuk mengubah sudut pandang kak Zain terhadap keluargaku dan semoga aku bisa melakukannya." ucap Keysa panjang lebar. Ternyata benar bercerita dengan sahabat dekat dapat menumpahkan segala sesak di dada yang dia tanggung sendiri.


"Jangan bersedih Keysa, aku bersamamu."


"Astaga aku sampai lupa niat ku datang menemui mu, Nisa apa kamu punya kenalan yang bisa memberiku pekerjaan, please tolong aku, aku harus bekerja lagipula ini kesempatan aku untuk bisa menghirup udara segar di luar, ya meski tak sebebas dulu."


"Maksud kamu tak sebebas dulu, apa?"


Keysa kemudian menarik Nisa mendekat ke arah jendela, mereka saat ini sedang berada di dalam kamar Nisa.


"Lihatlah....!"

__ADS_1


"Astaga!! benar-benar Zain ini."


__ADS_2