Belenggu Cinta Mafia

Belenggu Cinta Mafia
salah lagi


__ADS_3

"Apa kamu sengaja ingin membuatku memiliki penyakit darah tinggi?" Zain berucap dingin dangan tatapan menusuk.


"A-apa a-ada yang salah dalam masakanku, kak Zain?" tanya Keysa pelan dengan perasaan tak enak.


"Makanlah kamu akan tahu!"


Dengan cepat Keysa mencoba masakan yang dia buat sendiri, sebelumnya Keysa belum sempat untuk mencicipi rasa dari masakannya, sebab Zain sudah memanggilnya untuk menghidangkan makanan untuknya.


Huek!


Keysa mengeluarkan nasi goreng dari mulutnya, "Ini telalu asin kak, maaf!!"


"Tahu kesalahanmu di mana? sebagai hukuman, habiskan makanan yang kamu buat ini tanpa sisa, aku tak mau membuang-buang makanan, dan sebaiknya kamu ingat kita bukan orang kaya yang dengan mudah bisa menghasilkan uang. Dan satu lagi, jangan pergi kemana-mana sebelum aku pulang." ucap Zain datar.


Hari ini Zain berniat pulang ke rumah untuk mengambil beberapa potong baju ganti, selain menemui mommy nya tercinta juga agar perbuatannya tidak sampai pada kedua orang tuanya.


"Kak Zain, apa... apa aku boleh kuliah, sebenarnya hari ini aku ada ujian kelas, dan aku sudah tidak masuk dua hari kemarin, aku tak mau nilai ku turun kak?" Keysa berbicara sambil menunduk tak berani menatap wajah tampan suaminya.


Zain menghentikan langkahnya, tanpa berbalik, "Apa kuliahmu lebih penting dari tugasmu mematuhi perintah ku!"


Zain berlalu meninggalkan Keysa yang masih menunduk menatap nasi goreng buatannya yang tak tersentuh.


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฐ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ, ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ก๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข.


"Baiklah kak, akan aku turuti permintaanmu, sepertinya hidupku setelah menikah memang berada di bawah kendalimu kak." tak terasa air mata jatuh membasahi pipi mulus Keysa.


Dengan menatap dua piring nasi goreng yang belum tersentuh, Keysa meratapi nasib yang kini dijalaninya, Keysa mulai memakan masakan buatannya Dengan menahan sedikit mual akibat rasa asin yang mendominasi, Keysa tetap berusaha menghabiskan dua piring nasi goreng yang dia buat sesuai dengan perintah dari Zain.


"Akhirnya habis juga, sepertinya aku harus belajar memasak, agar aku tak membuat kesalahan seperti ini lagi." Keysa kemudian menyelesaikan seluruh pekerjaan yang sudah di tuliskan oleh Kak Zain di catatan dinding yang mungkin panjangnya sekitar setengah meter itu.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


"Mulai hari ini kamu tak perlu lagi melakukan pekerjaanmu sebagai mata-mata putriku, Keysa." ucap Dirga pada Dion.


"Kenapa tuan, bukankah nona Keysa masih berada di lingkungan bebas, yang artinya tugas saya tetap berlanjut sampai nona Keysa kembali ke rumah utama?"

__ADS_1


"Tidak! tugas itu cukup sampai disini saja, ini imbalanmu, terimakasih untuk yang kamu lakukan selama ini."


"Tapi tuan_"


"Tak perlu banyak tanya, dan sebaiknya kamu tak perlu banyak tahu, ini sudah di luar tugasmu sebagai mata-mata, pergilah! jika aku membutuhkanmu aku akan memanggilmu kembali."


๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ!! ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜’๐˜ฆ๐˜บ๐˜ด๐˜ข, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜›๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜‹๐˜ช๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฏ.


"Kamu tak mendengar ucapanku, Dion?"


Tanpa banyak bertanya lagi Dion pergi dari ruangan Dirga dengan menahan amarah yang sudah memuncak, keputusan Dirga tak dapat Dion Terima, memintanya berhenti mendekati pujaan hati sangat tidak mungkin Dion turuti.


Pyarrr


Vas bunga dan beberapa berkas jatuh berhamburan di lantai ruangan kerja Dirga kini sudah mirip seperti kapal pecah.


"Sialan kau Zain!! beraninya menggunakan putriku sebagai tameng, kau pengecut, aku akan menghancurkan dan membalas semua apa yang kamu lakukan kepadaku, ingat itu Zain." Dirga berteriak, melampiaskan kekesalan hati yang melandanya beberapa hari terakhir.


Babarapa bagian divisi yang mendengar teriakan dari sang bos, mencoba mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi pada bos mereka, tapi tak ada satupun yang berani memasuki ruangannya saat bos marah seperti itu.


Sesal memang datang terlambat, terkadang pilihan yang sudah kita anggap benar bahkan bisa menjadi pilihan yang salah. Pikiran yang tenang memang di butuhkan dalam mengambil keputusan yang besar, agar kita tahu ada atau tidaknya dampak yang akan di timbulkan dari keputusan tersebut.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Mobil mewah telah terpakir di depan rumah utama keluarga Miller, mommy Maya sudah menunggu kedatangan putranya, Zain.


"Kamu terlambat lima menit, Zain!" ucap mommy Maya dengan sedikit cemberut.


"Sorry, mom. Zain tadi mampir ke markas sebentar."


"Yasudah, sekarang kita masuk, mommy sudah siapkan makanan kesukaanmu, pokoknya kamu harus habiskan kalau perlu bawa pulang sekalian, jangan menolak, ini perintah."


"Iya mom, Zain juga kangen masakan mommy."


Zain menikmati suapan demi suapan masakan mommy Maya dengan lahap, kenikmatan masakan mommy Maya memang tak ada bandingannya. Hingga tak terasa makanan yang tersaji di atas meja sudah habis tak tersisa, Zain benar-benar menghabiskan makanan itu, bukan hanya rasanya enak tapi juga karena lapar.

__ADS_1


"Daddy kemana mom?"


"Daddy kamu ada meeting keluar negri, hanya dua hari kok, besok juga pulang."


"Mommy sendirian di rumah?"


"Kamu nginep ya disini malam ini, temani mommy, malam ini aja Zain."


"Baiklah mom, Zain tidur disini."


"Itu baru anak mommy."


Mommy Maya memang sengaja tidak ikut pergi dengan daddy Brian, Mommy Maya ingin membahas mengenai calon menantu yang cocok untuk Zain, beberapa foto sudah mommy Maya siapkan, tentunya setelah melakukan penyelidikan tentang bibit bebet bobotnya.


"Setelah ini temui mommy di taman belakang ya... mommy tunggu."


"Iya mom."


Sebelum menemui mommy nya, Zain membersihkan diri terlebih dahulu. Sinar mentari yang sudah menunjukkan warna jingga menerpa tanam mawar kesukaan mommy Maya. Mommy Maya sudah duduk santai menikmati hangatnya matahari sore di temani secangkir teh hangat kesukaannya.


"Mommy..."


Zain memeluk wanita paling berharga dalam hidupnya saat ini.


"Duduklah... suasana disini sangat nyaman, mommy menyukai tempat ini semenjak menikah dengan daddy kamu dulu."


"Disini, mommy dan daddy selalu menghabiskan waktu bersama, momen-momen itu selalu tersimpan indah di ingatan mommy."


"Kapan kamu bawa menantu mommy ke depan mommy, eh...maksud mommy calon menantu, kalau sudah ada kenalkan mommy, Zain."


Zain yang sempat terkejut dengan cepat mengubah ekspresinya biasa saja, "Zain belum ada yang cocok mom, semua wanita terlihat manis di luar tapi kita tak tahu apa yang ada di dalam hatinya, Zain akan tertarik jika wanita itu seperti mommy."


"Lalu bagaimana dengan ini?"


Sebuah map coklat mommy Maya berikan pada Zain.

__ADS_1


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ..., ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฎ๐˜บ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ?


__ADS_2