Belenggu Cinta Mafia

Belenggu Cinta Mafia
Keysa yang apes


__ADS_3

Matahari telah menunjukkan sinar hangatnya, menembus kaca langsung memantul pada seorang gadis yang tengah tertidur pulas dengan gaya yang aneh, guling yang menjadi sandaran gadis itu telah jatuh ke bawah ranjang, selimut pun sudah terbang entah kemana, keadaan di kamar gadis itu sudah seperti kapal pecah.


"Uuaahhmmm..." gadis itu menguap, menandakan dirinya baru saja terbangun dari tidur panjangnya.


Netra yang telah terpejam lama kini mulai membuka, mencari benda bulat yang menggantung di dinding.


"Astaga...!" Gadis itu terlihat kaget saat melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi.


"Mati aku, kenapa bisa bangun siang, bodoh, bodoh, kalau begini waktuku berangkat kuliah hanya tiga puluh menit," Keysa mulai mengomel merutuki kesalahannya sendiri.


Keysa segera masuk ke kamar mandi melakukan aktivitasnya secara singkat, tak lama Keysa keluar dan langsung memoles diri secepat yang ia bisa tak perduli entah cantik atau tidak yang terpenting baginya adalah sampai sebelum kelas di mulai. Meskipun Keysa memutuskan untuk hidup bebas dari orang tuanya bukan berarti Keysa melupakan kuliahnya, Keysa tetap belajar dengan semangat. Selain kuliah Keysa memiliki cita-cita menjadi seorang pemain piano yang sukses.


Sebenarnya sebelum Keysa memutuskan keluar rumah dia sudah menjalani les piano, bahkan sudah bisa di katakan cukup mahir memainkan alat musik piano. Tapi baik Dirga ataupun Sinta tak ada yang mengetahui bakat terpendam putrinya itu, hanya Letha yang mengetahui, sebab saat Keysa memainkan alat musik itu tak jarang letha mendengarkan dari jauh adiknya memainkan dengan sangat merdu.


Keysa kini tengah berusaha menghentikan taksi namun dari tadi taksi tak mau berhenti terus melaju meninggalkan Keysa, sedangkan waktu yang dia miliki semakin berjalan mundur.


"Sial!, kurang lima belas menit lagi, kenapa hari ini aku sial sekali, oh dewa keberuntungan tolonglah berpihak kepadaku jangan biarkan aku telat masuk kampus, bisa kena hukuman aku ini, apalagi kalau sampai di suruh lari puterin halaman kampus bisa mati duluan gadis cantik seperti ku ini, aku masih ingin hidup Tuhan, kasihanilah hidupku ini." Keysa terus saja mengomel sepanjang menunggu taksi berhenti.


Tak lama usaha keysa membuahkan hasil, sebuah taksi berhenti di depannya, "Terimakasih Tuhan, engkau mengasihani ku." Keysa masuk ke dalam taksi dan meminta pak supir untuk tancap gas menuju kampus tempatnya kuliah.


Keysa kuliah di universitas Indonesia yang terkenal di kota jakarta, selain menjadi mahasiswa teladan keysa juga sering kali mendapat beasiswa dalam universitas tersebut.


Brak...

__ADS_1


Keysa membanting pintu taksi dan berlari kecil masuk ke dalam halaman kampus, waktunya tinggal tiga menit sebelum kelas di mulai.


"Keysa, kamu hampir saja terlambat, tau gitu tadi aku mampir ke kontrakan kamu kita berangkat bersama." jelas Nisa yang tengah duduk santai di dalam kelas. Sedangkan Keysa kini tengah berhenti mencoba mengatur nafasnya agar tak memicu jantungnya bekerja lebih keras. Keysa memang berlari kecil tapi dia sering berhenti hanya untuk menyetabilkan pernafasan nya.


"Terus kenapa nggak mampir ke kontrakan aku, kalau ku mampir kan aku pasti nggak akan terlambat bangun dan berakhir seperti ini!" keysa tengah memonyongkan bibirnya tanda merajuk pada Nisa.


"Ya mana aku tahu, kamu aku telfon nggak aktif jadi ya aku pikir kamu sudah berangkat ke kampus, sampai sini aku cari kamu ternyata nggak ada." "Huft.." Keysa membuang nafas kasar, dia juga menyadari semua itu bukan kesalahan sahabatnya melainkan kesalahannya sendiri kenapa tidak memasang alarm untuk bangun pagi.


"Yasudah jangan marah yang terpenting kan kamu nggak terlambat hari ini." Nisa memasang wajah tanpa dosa pada Keysa.


๐˜ ๐˜ข ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ. Keysa berucap dalam hati.


Kelas Keysa kini sudah selesai, semua mahasiswa berhamburan pulang, sebab tak ada kelas lagi, jam di pergelangan tangan keysa saat ini menunjukkan pukul sebelas siang.


"Nisa gimana soal mobil kamu yang ada di bengkel apa sudah bisa di ambil?" Keysa berharap jika mobil Nisa belom bisa di ambil dengan begitu dia bisa datang ke bengkel itu sewaktu-waktu hanya untuk melihat pengeran nya.


"Bukankah aku sudah bilang kalau di bengkel itu ada pangeranku yang selalu aku ceritakan ke kamu, hari ini aku ikut kamu ke bengkel ya, siapa tahu aku bisa ketemu dia lagi, sekalian ucapin Terima kasih buat yang kemarin."


"Boleh juga, sekalian aku mau lihat seberapa tampan pengeranmu, soalnya kemarin aku nggak fokus sama orang itu yang aku fokusin cuma kamu."


"Tapi awas jangan main tikung dia hanya milikku seorang!" Tatapan tajam Keysa berikan kepada Nisa.


"Ih... takut aku, nggak mungkin juga Keysa, masak aku tikung sahabat sendiri, gini-gini aku juga nggak kalah cantik sama kamu banyak yang ngantri mau jadi pacar aku."

__ADS_1


"Iya aku percaya, tapi kenapa enggak ada yang kamu terima, mereka kan kaya dan sepertinya orang baik, tapi entahlah hati orang mana tahu." Keysa mengakhiri obrolannya dan memilih masuk ke dalam taksi yang sempat di berhentikan oleh mereka berdua.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Zain kini sedang berada di ruang pelatihan khusus samping rumahnya, tidak hanya Zain melainkan ada beberapa bawahan Zain yang ikut berlatih, sesuai dengan pilihan daddy Brian mereka lah yang akan ikut Zain pergi ke Dubai untuk menyelesaikan masalah di sana, mereka di antaranya adalah Alex, Andre, Jeff, Smith ke empat orang tersebut merupakan tangan kanan daddy Brian dan Zain, namun yang paling dekat dengan Zain adalah Alex. Alex sudah seperti bayangan Zain, kemanapun Zain pergi Alex slalu bersamanya kecuali ke bengkel, Alex tak ikut bekerja di bengkel sebab dia di perintahkan Zain untuk menjaga markas saat Zain sedang bekerja sebagai karyawan bengkel.


Sedangkan Andre, Jeff dan Smith masih bekerja pada Daddy Brian, mereka baru bergerak jika mendapat perintah dari daddy Brian sendiri, Zain sebenarnya juga bisa memberi perintah namun hanya pada saat terdesak saja jika tidak maka mereka tak akan turun tangan membantu Zain. Andre, Jeff dan Smith mereka tidak bekerja langsung pada markas mafia melainkan bekerja pada perusahaan daddy Brian sebagai orang kepercayaan daddy Brian.


"Kalian sudah siap untuk berangkat besok?" Seseorang datang membawa nampan berisi sandwich dan beberapa jus kesukaan mereka.


"Mommy... " beo Zain.


"Kenapa Zain, apa kamu terkejut, mommy sudah tahu rencana daddy kamu yang memintamu untuk turun tangan secara langsung, mommy hanya bisa berdoa dan memintamu untuk kembali pulang ke pelukan kami apapun yang terjadi. Bisakah kamu berjanji untuk itu Zain." mommy Maya menatap putranya serius, ada gurat khawatir dalam diri Maya meskipun maya tahu selama ini tak ada yang bisa mengalahkan putranya Zain dalam dunia gelap, namun hati seorang ibu pasti akan tetap cemas memikirkannya.


"Zain janji, Zain akan pulang membawa kemenangan di tangan Zain!" ucap Zain mantap.


Mommy Maya tersenyum mendengar penuturan Zain, "Sekarang kalian makan, mommy sudah bawakan makanan untuk kalian semua, jangan hanya berlatih terus, kalian juga butuh tenaga agar otak kalian tetap bekerja dengan baik." gurau mommy Maya mencairkan suasana.


"Iya mommy, mommy memang yang terbaik." Zain memeluk mommy Maya dengan penuh kasih sayang.


Setelah berlatih Zain mengajak beberapa bawahannya yang di pilih oleh daddy Brian untuk berunding.


"Ikuti aku kita ke ruangan bawah tanah." perintah Zain lalu di ikuti mereka berempat. Tibalah mereka berlima di depan pintu yang persis sama rata dengan dinding, Zain kemudian menekan sesuatu yang berada di rak buku yang berdiri di samping pintu, sekejap siapa pun yang melihatnya tak akan menyangka jika itu adalah sebuah pintu rahasia milik keluarga Miller. Tak lama setelah tombol itu di tekan pintu itu sedikit maju dan bergeser ke kanan.

__ADS_1


Zain mengajak Alex, Andra, Jeff dan Smith untuk masuk ke dalam. Kini di dalam ruangan tersebut tampak segala jenis senjata baik itu senjata laras pendek dan laras panjang dari mulai yang biasa, semi otomatis sampai yang otomatis keluaran terbaru pun ada, berbagai jenis pedang pun dimiliki oleh Daddy Brian dan Zain. Ruangan itu merupakan tempat berunding dan mengatur strategi dalam berperang, tak ada yang bisa memasuki ruangan itu selain Daddy Brian dan Zain.


"Apakah senjata yang ada di sini bisa untuk meratakan Dubai?" tanya Zain serius, sebuah senyuman mengerikan tampak di wajah tampan Zain.


__ADS_2