
Zain seperti biasa terlambat datang bekerja, awal niat pergi pagi-pagi justru terlambat hanya karena masalah yang ada di klan Mafianya. Zain harus mendisiplinkan semua bawahannya agar tak ada satu pun yang berani berhianat, sekecil apapun penghianatan itu Zain pasti akan menemukannya. Mata elang Zain mampu menangkap sekecil apapun pergerakan yang di lakukan oleh penghianat dalam klan mafianya.
"Zain, hari ini kamu terlambat lagi, aku dengar dari karyawan yang lain kamu sering datang terlambat, apa itu benar?" tanya orang berbadan gemuk dengan kacamata hitam kini sedang menampakkan wajah geramnya, mengintimidasi setiap karyawan yang melanggar peraturan bengkel.
"Maafkan aku Zain, aku harus jujur, orang ini adalah manager bengkel, dan di mengancam kami untuk mengaku siapa yang tidak mengikuti peraturan, jika kami tidak berkata jujur dia akan memberikan kami skors!" ungkap Doni lirih.
"Emmm..." Zain yang mendengarnya hanya berdehem dengan nada datar.
"Kamu tak marah kan? Kami terpaksa Zain!"
"Tak, tenanglah aku mengerti keadaanmu."
"Hei kalian kenapa bisik-bisik?"
"Kau Zain, kau akan di skors selama satu minggu sebagai hukuman mu, ini hukuman ringan untukmu, setelah ini jangan pernah kamu melanggar aturan yang sudah di tetapkan, mengerti!" bentak Pak Bambang selalu manager Bengkel.
๐๐ข๐ต๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ, ๐ต๐ถ๐ข๐ฏ ๐ก๐ข๐ช๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฎ ๐ฃ๐ข๐ญ๐ช๐ฌ, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ข๐ฑ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ข๐บ๐ข ๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ต๐ข๐ด ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ฉ ๐ต๐ถ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ด๐ข๐ณ ๐๐ณ๐ช๐ข๐ฏ, ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ณ๐ถ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐ฉ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข, ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฉ๐ข๐ฃ๐ช๐ด ๐ช๐ฏ๐ช ๐ต๐ถ๐ข๐ฏ ๐ก๐ข๐ช๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ด๐ข๐ณ. Pak Bambang merasa ketakutan dalam hati namun dia berhasil menyembunyikan itu, bisa jatuh wibawanya sebagai manager jika sampai mereka tahu saat ini dia hanya berpura-pura.
Zain sendiri cukup geram, pasalnya Zain mendapat omelan plus mendapat hukuman dari manager yang dia pilih sendiri untuk menjadi wakil pemilik bengkel untuk memantau perkembangan bengkel miliknya, itu pun karena teman-temannya penasaran siapa pemilik dari tempat mereka bekerja.
Bos mafia yang biasanya suka marah, membentak dan membunuh kini hanya diam membisu, menerima setiap omelan dari pak Bambang, tanpa menundukan kepalanya, pantang bagi Zain untuk menunduk di depan siapapun kecuali kedua orang tuanya.
Dapat di lihat dari sorot mata, meski dia hanya diam tapi Zain sudah memberikan isyarat pada Bambang bahwa ia akan segera mendapat hukuman dari Zain, kesepakatan yang Zain minta hanya sebagai manager yang akan memantau perkembangan bengkel bukan memberikan hukuman padanya.
๐๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ๐ถ๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช, ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ด๐ฐ๐ณ๐ฐ๐ต ๐ฎ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฐ๐จ๐ข ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฏ๐บ๐ข๐ธ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ต. Pak Bambang memilih tidak menatap mata Zain yang terus memandangnya tajam.
"Untuk kalian semua, saya sebagai wakil dari bos, meminta pada kalian untuk bekerja dengan disiplin, saya tidak selalu bisa datang kemari untuk memantau perkembangan bengkel, saya minta jangan gunakan kesempatan itu untuk berbuat semena-mena, kalian harus tetap bertanggung jawab pada pekerjaan kalian di sini jika memang kalian masih ingin bekerja di sini." jelas Pak Bambang memberikan peringatan.
Setelah di rasa tugasnya selesai Pak Bambang kini pergi meninggalkan bengkel, rasanya kakinya tak akan bisa menompang tubuh gendutnya jika dia terus berlama-lama di hadapan Zain.
"Huft... akhirnya aku bisa lepas juga dari tatapan maut itu, aku harus segera melapor pada tuan Besar, sepertinya hanya beliau yang bisa menyelamatkan aku dari amarah Zain."
Tak lama handphone Brian berbunyi, "Bagaimana Bambang kamu sudah lakukan tugas dari saya sesuai dengan apa yang saya katakan?" tanya Brian antusias, Brian ingin mengetahui apa reaksi putranya itu, ini semua ulah Brian yang ingin sekali menjahili putranya, "Selagi ada kesempatan kenapa tidak." ucap Brian lirih.
__ADS_1
"Su-sudah tuan besar, tapi sepertinya setelah ini tuan Zain akan marah besar kepada saya, saya minta perlindungannya tuan besar, saya tak mau nyawa saya melayang di tangan tuan Zain, saya masih belum menikah dan memiliki anak tuan!" jelas Pak Bambang ketakutan.
"Tenang saja, Zain akan aku urus sekarang kembalilah ke kantor dan lakukan pekerjaanmu."
"Baik tuan besar."
Zain memang sudah menjadi ketua mafia selama lima tahun terakhir, namun keputusan tetap ada pada tuan besar Brian, tanpa seizin Brian, Zain tidak memiliki wewenang utuh untuk memberikan perintah, namun Brian hanya akan turun tangan jika memang masalah yang di hadapi sudah di ambang batas, jika tidak maka Brian memberikan wewenang kepada Zain untuk mengambil sikap pada klan mafia Dragon Black dan sikap apapun akan di benarkan selama tidak melanggar aturan yang daddy Brian buat serta tidak membuat nyawa Zain dalam bahaya.
Brian sangat menyayangi Zain, meskipun bukan anak kandung, Brian yang sudah jatuh hati peda Zain sejak pandangan pertama sangat menjunjung tinggi nama putra angkatnya itu, kasih sayang Brian curahkan hanya untuk Zain, begitupun dengan Maya.
Zain sendiri seperti mendapat keluarga yang utuh, namun Zain juga tak memungkiri keluarga kandungnya tak akan tergantikan oleh siapapun meskipun mereka tak lagi bersama.
๐น๐น๐น๐น๐น
"Nisa aku masuk dulu ya, makasih untuk semua bantuan mu, aku sangat menghargai itu." Kesya kini sudah siap hendak menempati kontrakan baru yang mulai sekarang akan menjadi tepat tinggalnya selama enam bulan.
"Iya, aku juga nggak bisa mampir, kalau butuh apapun kamu telfon saja, aku akan langsung tancap gas datang kemari, bagaimanapun sahabat harus saling membantu." Nisa kini mulai menyalakan mesin mobilnya, siap untuk membelah jalanan yang sudah mulai sepi sebab panas matahari yang sangat menyengat itu.
Kesya membuka pintu lemari dan mulai memasukkan beberapa barang pribadinya ke dalam lemari, setelah pekerjaannya selesai ia memilih untuk memesan makanan online, Keysa belum sempat makan apapun sejak pagi, niat ingin makan bersama Nisa gagal sebab Keysa ingin segera pindah ke kontrakan.
Tok...
Tok...
Seorang driver pengantar makanan telah berdiri tegap di depan pintu, mengetuk berulang, berharap pemesan segera keluar menerima barang yang di minta dan melakukan pembayaran atas tugas mulianya.
Ckleeek...
Keysa memberikan upah yang pantas orang itu dapatkan atas pekerjaannya dan kembali masuk dengan hati bahagia membawa sebungkus kotak besar ukuran Jumbo.
"Pizza ini sungguh terlihat sangat menggoda, tak sabar aku ingin menghabiskannya." dengan lahap Keysa mulai memakan pizza kesukaannya itu.
๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ
__ADS_1
Waktu istirahat bagi karyawan bengkel adalah satu jam, Zain memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi menemui Daddy Brian di kantornya. Dengan mengubah penampilan Zain datang ke Holding commpany, tak ada yang menyangka pria yang datang dengan menggunakan topeng itu adalah Zain putra dari Brian. Zain masuki lift khusus yang langsung menuju ke ruangan Daddy nya.
Tok...
Tok....
"Masuk..." suara dari dalam ruangan mempersilahkan tamunya masuk.
Ckleeek...
"Daddy... " kata Zain acuh, rasa kesal masih menguasai dirinya, ingin rasanya Zain menghukum orang yang membuatnya kesal hari ini, tapi Zain tahu tak akan bisa melakukan itu sebab yang melakukannya adalah Daddy nya sendiri.
"Kemarilah Zain, ada yang ingin daddy sampaikan kepadamu." pinta Zain.
Zain dengan malas menghampiri daddy Brian dan menjatuhkan bobotnya di sofa dalam ruangan kerja Brian.
Daddy Brian bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri putranya yang sedang menahan amarah, mensejajarkan duduknya dan mulai menjelaskan apa alasannya melakukan itu.
"Maafkan daddy, Zain. Jika kamu tersinggung dengan apa yang daddy lakukan, hukum lah daddy tapi jangan berhenti bicara sama daddy." ucap Daddy Brian lembut.
Zain yang mendengarnya langsung melunak, bagaimanapun amarah seorang anak, jika orang tua menjelaskan secara lembut apalagi ada alasan yang menompang ia malakukan itu, pasti kemarahan itu akan menghilang sendirinya.
"Kenapa daddy meminta pak bambang buat meng skors Zain selama satu minggu? itu tidak adil dad?" Zain mulai bicara dengan nada lembut dengan menatap netra Brian lekat berharap jawaban yang di berikan tak mengecewakannya.
"Ada masalah yang harus kamu tangani di Dubai, ini hal yang sangat serius, Daddy memilihku karena kamu memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah itu." daddy Brian berharap Zain menyetujuinya.
"Katakan saja dad, ada apa, jika itu memang serius akan aku lakukan sesuai perintah daddy!" ucap Zain tegas, kini Zain mulai serius menyimak apa yang di jelaskan oleh daddy Brian.
"Klan mafia yang kita kuasai di Dubai mulai melakukan pemberontakan, mereka mendapat dukungan dari pihak asing bagi masuk dan ingin menguasai klan mafia milik kita, daddy memang tak mengizinkan organisasi kita melakukan perdagangan manusia, tapi ada yang berhianat dan menggunakan nama kita seolah pihak kita lah yang melakukan itu, bukan itu saja, banyak pihak penduduk yang mengaku telah di serang oleh sekawanan organisasi dari pihak kita, coba kamu lihat ini!" Brian memperlihatkan kejadian Di salah satu penduduk Dubai yang mendapat serangan mendadak melalui CCTV yang tak jauh dari lokasi penyerangan, "Kamu lihat kan, bahkan orang-orang ini mengunakan seragam yang hampir mirip dengan milik kita, sebab itu Daddy meminta mu untuk turun tangan menyelesaikan masalah di sana, apakah putra daddy sanggup melakukannya?" tanya Daddy Brian penuh harap.
Zain yang melihatnya saja sudah ikut geram, kejadian itu mengingatkannya akan keluarganya yang di bantai secara sadis.
"Zain akan pergi dad, siapkan saja keberangkatan Zain ke sana!" jawab Zain tegas.
__ADS_1
Senyuman muncul di wajah Daddy Brian, ia yakin putranya akan mampu melakukan tugas itu, dengan penuh keyakinan Daddy Brian memilih Zain untuk pergi ke Dubai, tentunya dengan beberapa kepercayaan daddy Brian yang akan menjaga keselamatan Zain disana.
"Daddy bangga padamu Zian!"