
Andra, Jeff dan Smith kini sudah mulai berperang melawan kelompok Mafia yang menyerang kota Dubai sebelah utara, jumlah pasukan musuh memang tak seberapa di tambah mereka juga tak mengetahui Jika pasukan Zain sudah berada di tempat kejadian, hal itu membuat pasukan musuh tampak tidak siap akan serangan balasan dari Zain. perkelahian pun akhirnya terjadi, Andra, Jeff dan Smith berusaha membawa pasukan musuh menuju tempat yang lebih aman, ya mereka lakukan itu hanya untuk menghindari banyak jatuhnya korban, meskipun terkesan pecundang yang lari, mereka bertiga tak memiliki sedikit pun rasa takut di hati, setelah cukup lama berlari, akhirnya mereka tiba pada tempat yang sudah di rencanakan untuk membantai musuh.
"Kita lakukan sekarang!" Jeff mulai bersuara.
Prang
Prang
Dugk
Ketiganya berperang mengunakan pedang, Andra berhasil memberantas ketua dari musuh yang baru saja melakukan aksi bahayanya dengan membunuh warga Dubai secara brutal, sedangkan Jeff dan Smith berperang mengunakan pistol, Polisi sendiri tak bisa menjangkau tempat itu sendiri sebab pengaturan sudah di lakukan sedemikian rupa.
"Kita bereskan bedebah ini, setelah itu kita telfon tuan Zain."
Sedangkan di tepat kedua, yaitu kelompok yang di pimpin oleh Alex, juga tengah terjadi perkelahian, Alex yang memang cukup ahli dalam perpedangan tak butuh waktu lama untuk bisa melumpuhkan musuh, sebab musuh yang turun hanyalah anak buah bukan bos besarnya.
Di tempat berbeda pula Zain kini sudah melakukan penyamaran menggunakan topeng, dia tak mungkin mengungkapkan jati diri di depan musuhnya. Zain dan pasukannya menuju gudang yang kini tengah kosong, tempat itu di jadikan sebagai markas musuh.
"Kalian berpencar, sepertinya tempat ini tak banyak penjagaan kira bisa masuk dengan mudah."
Tanpa Zain sadari dari dalam gudang seseorang dengan pakaian serba hitam kini tengah memainkan sebuah benda tajam nan runcing sambil melihat ke arah layar monitor dimana terdapat gambar Zain dan pasukannya yang sedang masuk kedalam gudang.
"Masuklah, aku menunggumu, ternyata dugaanku salah kau sepertinya cukup pintar dalam mengatur strategi melawan ku kali ini aku pastikan kau benar-benar mati anak ingusan! hahahaha." tawa seseorang berpakaian hitam tersebut.
Sring
Sring
Sring
Suara pedang yang sedang di asah agar lebih tajam, bahkan pedang itu bisa memecahkan batu sekalipun.
Di lantai bawah, Zain kini merasa ada tangan aneh semenjak dia menginjakkan kaki di gudang itu, instingnya mengatakan jika lawannya kali ini tak semudah yang di bayangkan, namun apa motif dari perbuatan musuh akhir-akhir ini masih belum Zain ketahui.
Brak
Zain mendobrak pintu yang di yakini tempat musuhnya bersembunyi, namun kosong tak ada apapun di dalamnya.
"๐๐ฆ๐ณ๐จ๐ช๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ ๐ฃ๐ข๐ธ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ฅ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฉ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ข๐ถ๐ญ๐ข ๐จ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ช๐ฏ๐ช. ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐ช ๐ญ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ, ๐ด๐ข๐ต๐ถ ๐ญ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ต๐ถ ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ถ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฌ๐ถ๐ต๐ช๐ฎ๐ถ." sebuah ancaman di dengar Zain menggunakan pengeras suara dalam gudang.
"Bos akan pergi ke sana sendiri, itu terlalu berbahaya bos." ungkap salah satu bawahan Zain.
"Tenanglah, aku akan berhati-hati, tak akan ku beri ampun musuhku kali ini apa yang di lakukannya sudah terlewat batas." mata Zain kini terlihat memerah menahan amarah, bayang-bayang penduduk yang di serang menghiasi kepalanya. Hatinya sakit menyaksikannya, itu mengingatkan Zian juga mengenai pembantaian orang tuanya kala itu, meskipun tak tahu pasti tapi Zian bisa menyimpulkan kejadian malam kelam itu.
"Baiklah bos kami akan menjaga di luar, dan akan menghubungi yang lainnya agar segera datang."
__ADS_1
Dengan gerak cepat Zain kini sudah berada di depan pintu aula gudang, "Brak..." pintu terbuka membentur dinding, menampakkan seseorang berbaju hitam dengan topeng menghiasi wajahnya, dari postur tubuh dapat di katakan jika pria itu sudah berumur.
"Cih! hanya pria tua yang suka berulah." ejek Zain.
"Hahaha....terserah apa katamu, aku rasa anak ingusan sepertimu tak akan mampu mengalahkan aku, kau hanya semut kecil yang di kirim oleh ayahmu untuk membunuhku, tapi tak akan bisa karena akulah yang akan membunuhmu." ungkap pria bertopeng.
"Sepertinya kau terlalu banyak bermimpi, kita buktikan saja siapa yang akan keluar dengan senyum kemenangan kali ini!"
Trang
Trang
Trang
Baik Zain dan pria bertopeng masih beradu pedang, saling menyerang dan menghindar, cukup lama tapi tak ada satupun dari mereka yang tumbang keduanya sama-sama kuat.
"Oh, ternyata kekuatanmu boleh juga, tapi kau tak akan bisa mengimbangi kekuatanku kali ini."
Trang
Trang
Cras...
Zain terkena goresan pada lengannya, darah segar mengalir jatuh ke bawah, setelah menghindar dari serangan penuh kekuatan Zain cukup tahu kekuatan musuh.
๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ
"Andra, apakah kalian baik-baik saja, dimana Zain kenapa aku tak bisa menghubunginya, apa Zain sekarang bersamamu, katakan padanya aku ingin bicara." ucap Daddy Brian khawatir, entah mengapa perasaannya mengatakan ada yang tidak beres.
"Ma-maaf Bos, Tuan muda Zain tidak ada bersama kami, kami sendiri baru mendapat kabar jika saat ini tuan muda sedang berhadapan satu lawan satu dengan bos besar musuh kita ini." jelas Andra sedikit ketakutan.
"Bagaimana bisa Zain menghadapinya sendiri, meskipun Zain bisa mengalahkannya tapi menghadapi sendiri sama saja mengantar nyawa." kesal Daddy Brian namun dalam hatinya juga merasa khawatir terhadap Zain.
"Kami akan segera kesana Bos, tuan muda pasti akan pulang dengan selamat."
"Baik, cepat bantu Zain, jika perlu lindungi Zain dengan nyawa kalian." ucap Daddy Brian penuh penekanan.
๐๐ข๐ฅ๐ฅ๐บ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ-๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ก๐ข๐ช๐ฏ, ๐ด๐ฆ๐จ๐ฆ๐ณ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ด๐ข๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ณ๐ช, ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ต๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ณ๐จ๐ข ๐ฃ๐ข๐จ๐ช ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐ก๐ข๐ช๐ฏ ๐๐ช๐ญ๐ญ๐ฆ๐ณ.
๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ
Trang
Trang
__ADS_1
cras...
Zain tengah mengamuk mengunakan pedang, satu goresan telah Zain berikan pada musuhnya.
"Hanya segitu mah kemampuanmu!" ejek Zain.
Trang
Trang
Bugh
Kini Zain bahkan tak memberikan sela untuk melawan dari pihak musuh, pedang yang di gunakan oleh musuh telah Zain jatuhkan, "Kau tak akan bisa lari dari ku setelah membuatku marah, bedebah!"
Pria bertopeng itu masih tak mau menunjukkan kelemahannya, "lawan aku dengan tangan kosong, anak ingusan." tantang pria tersebut.
Trang, Zain melempar pedangnya, menuruti permintaan musuh di hadapannya melawan dengan tangan kosong.
Bugh
Bugh
Bagh
Zain dengan lincah memukul bagian hati di ikuti pukulan punggung yang membuat lawannya memuntahkan darah segar, peluang kecil yang di manfaatkan oleh Zain dapat melumpuhkan musuhnya kali ini.
"Lihatlah, sepertinya tubuh tua mu itu tak bisa di ajak kerja sama, kau bahkan kalah lebih cepat dari yang aku bayangkan." Zain kini tersenyum devil.
Kau bisa berbangga diri sekarang, tapi lain kali kau tak akan ku beri ampun, hahahaha...."
"Dimana kau bedebah..., jangan lari kau pengecut! uhuk...uhuk...." umpat Zain kesal kala asap pekat muncul di hadapannya dan mendadak pria bertopeng itu pergi entah kemana.
"Tuan, bagaimana keadaanmu, asap apa ini uhuk... uhuk... sebaiknya kita keluar dari tempat ini." ajak Andra pada yang lainnya.
"Syukurlah, tuan baik-baik saja, mari ikut saya kita obati lukanya."
"Hallo, daddy, maaf Zain nggak bisa tugas ini dengan baik, Zain telah gagal daddy." seru Zain.
"Tenanglah Zain, Andra sudah menceritakan pada ku apa yang terjadi di sana sekarang cepatlah pulang, musuh kita tak akan membuat ulah lagi, sebab anak buahnya sudah kalian habisi, Itu saja sudah membuat daddy bangga." daddy Brian tetap memberi semangat pada putranya itu.
"Besok Zain akan pulang daddy," Zain mengakhiri panggilannya, rasa kesal sebab kehilangan kesempatan membunuh musuh masih menguasai hatinya.
๐น๐น๐น๐น๐น
"Apakah itu artinya putra kita akan pulang pa?" mommy Maya bertanya dengan antusias.
__ADS_1
"Iya putra kesayanganmu akan pulang, kita kan membuat pesta penyambutan yang meriah, siapkanlah segala sesuatunya." pinta daddy Brian.
"Mommy sendiri yang akan menyambut Zain pulang, dan pesta kali ini akan sangat meriah." ungkap mommy Maya dengan senyum manisnya.