
Secepat mungkin Keysa membersihkan rumahnya, mengembalikan keadaan seperti sedia kala, Zain memerintahkan untuk tak mengubah tata letak barang satu pun. Semua sudah Zain susun rapi dan Zain sangat menyukai kerapian.
Hampir tengah malam Keysa baru selesai membersihkan rumah, "Huff, akhirnya selesai juga, tapi aku lapar..."
Keysa mencari apa ada bahan makanan yang bisa di masak untuk mengganjal perutnya yang kosong.
"Astaga, aku lupa belum sempat belanja, lalu sekarang aku harus makan apa?" Keysa membuka kulkas berharap menemukan snack ataupun yang lain, tapi sepertinya nasib tak berpihak padanya hari ini, perkataan Zain pun benar adanya Keysa tak mendapatkan jatah makan malam.
"Sepertinya hanya ini yang bisa membantuku mengurangi rasa laparku." Keysa mengambil satu gelas air penuh dan meneguk nya hingga tandas. Keysa kemudian pergi ke kamar miliknya dan memilih beristirahat.
Tengah malam Zain terbangun seperti biasa, entah kenapa mimpi buruk yang selama itu selalu mendatangi Zain, selalu berhasil membuatnya bangun tengah malam.
"Akkhh, kenapa mimpi itu selalu datang, bukankah aku sudah melampiaskan dendam ku pada mereka, Ayah, ibu, tapi kenapa aku tak mendapatkan ketenangan?" ucap Zain frustasi.
Tak terasa air mata Zain jatuh, seseorang yang kuat pun terkadang harus menangis untuk bisa mengurangi rasa sakit, entah itu sakit dalam fisik maupun hati. Seperti halnya Yang Zain lakukan malam ini, menangis dapat membuatnya sedikit merasa tenang saat mengingat kedua orang tua nya.
Tak ada satupun yang tahu jika seorang ketua Mafia yang sangat di takuti dapat pula mengeluarkan air mata. Baik daddy Brian maupun mommy Maya tak ada yang mengetahui kebiasaan buruk putranya itu, Zain menyimpan rapat luka yang sebenarnya masih basah, kala mengingat nasib buruk yang menimpa keluarga tercinta dimasa lampau.
Setelah Zain merasa lebih tenang, Zain pergi keluar untuk mengambil air, serta melihat apakah istri kecilnya itu sudah melakukan tugas yang di dia perintahkan. Sebutan Istri kecil memang Zain berikan pada Keysa yang memang memiliki tubuh mungil.
๐๐ข๐จ๐ถ๐ด๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ด๐ฆ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ณ๐ถ๐ต ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ถ, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ๐ข๐ฏ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ, ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ต๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ซ๐ข๐ฉ๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐บ๐ข๐ฉ ๐๐ฆ๐บ๐ด๐ข ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ฆ๐บ๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ญ๐ข๐จ๐ช๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ฎ๐ข๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐จ๐ข๐ฅ๐ช๐ด ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ค๐ฆ๐ณ๐ฐ๐ฃ๐ฐ๐ฉ.
Setelah mendapatkan apa yang Zian inginkan, Zain berlalu kembali ke kamarnya tanpa berniat melihat keadaan Keysa malam ini.
๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ
letha saat ini sedang berdiri di depan cermin besar yang memantulkan bayangannya sendiri.
"Cantik, siapa yang tidak tertarik dengan kecantikanku ini." gumam letha masih berdiri, seakan dia sendiri masih belum puas melihat tampilannya saat ini.
"Lho letha, kamu mau kemana, pagi -pagi udah secantik ini?"
"Mau kerja lah bu, hari ini aku ada janji sama klian ayah, katanya klien penting dan ayah sudah menyerahkan tanggung jawab itu padaku, jadi mana mungkin aku mengecewakan ayah." ucap letha sambil duduk di meja makan bergabung dengan ayah dan ibunya.
__ADS_1
"Tuh yah, anak kita sudah semakin dewasa saja ya, ibu bangga sama kamu letha."
Saat ini yang di ajak bicara tak menanggapi ucapan dari istrinya. Dirga terlihat melamun, pikirannya selama beberapa hari terakhir tertuju pada putri bungsunya.
"Yah, kenapa sih, mikirin apa dari tadi kayaknya nggak fokus makan gitu?" tanya bu Sinta membuyarkan lamunan suaminya.
"Eh.... biasa pekerjaan lagi mikirin proyek baru." elek Dirga.
Sampai saat ini Dirga masih menyimpan rapat apa yang terjadi pada putri bungsunya. Memang selama ini Dirga terlihat acuh dengan Keysa. Tak pernah sekalipun kasih sayang yang tulus Dirga berikan, mungkin hanya kemarahan dan selalu kemarahan yang Keysa dapatkan dari kedua orang tuanya, namun entah kenapa, saat melihat Keysa pergi darinya tanpa ada yang bisa Dirga lakukan dapat mengetarkan hatinya. lebih tepatnya Menampar Dirga, mengingatkan akan bodoh dirinya yang telah menyia-yiakan anak kandung sendiri.
๐๐ฆ๐บ๐ด๐ข, ๐ฎ๐ข๐ข๐ง๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐บ๐ข๐ฉ, ๐ฏ๐ข๐ฌ. ๐๐ข๐ฎ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐บ๐ข๐ณ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ข๐บ๐ข๐ฉ, ๐ฎ๐ข๐ข๐ง๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐บ๐ข๐ฉ!
"Sudah yah, jangan terlalu di pikirkan, bukankah ada aku yang akan membantu ayah dalam menangani proyek kita yang baru, Aku siap yah."
"Tentu letha, kamu memang yang terbaik." puji Dirga, sambil mengelus puncak kepalanya, perhatian seperti itu hanya Dirga berikan pada letha saja, sebab dari kecil mereka hanya mementingkan letha dan letha.
Tiba di kantor Dirga segera mempersiapkan presentasi yang akan di jelaskan di hadapan seorang pimpinan perusahaan yang akan menjadi rekan kerjanya sebentar lagi, namun apalah daya Dirga kini di buat menunggu hampir satu jam di kantornya sendiri. Kalau bukan proyek yang penting, Dirga tak akan bersedia membuang-buang waktu seperti itu.
Tak lama datang seorang pemuda dengan setelan jas lengkap, mengunakan kaca mata yang menambah kesan tampan pada wajahnya. Pria itu adalah Dion.
Dion turun dari mobil miliknya dan kembali menginjakkan kaki di kantor milik Dirga, orang yang pernah menjadi atasannya. Tentu saat itu Dion sangat patuh sebab memiliki rencana mendekati Putrinya, Keysa.
Berjalan dengan angkuh, Dion saat ini hendak memasuki tempat meeting dan akan memberi kejutan pada Dirga.
Cklekk
Dirga sempat terkejut saat menyadari siapa yang membuka pintu, dia pikir itu adalah calon rekan kerjanya. ๐๐ฑ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ฏ๐ช, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ช๐ข... ๐ฅ๐ช๐ข... ๐๐ช๐ฐ๐ฏ, ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ธ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ข๐ต๐ข-๐ฎ๐ข๐ต๐ข ๐ฑ๐ถ๐ต๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ.
"Jangan terkejut seperti itu tuan Dirga!" senyuman penuh ejekan Dion perlihatkan pada Dirga.
"Kau tak ingin menawari rekan kerjamu duduk?" tapi tanpa menunggu Dirga bicara Dion melakukan perkataannya barusan, duduk dengan angkuh di hadapan Dirga.
"Kau, sedang apa kau di kantorku? urusan kita sudah selesai bukan?"
__ADS_1
"Hahaha... kau bertanya untuk apa aku disini, bukankah kau sendiri yang mengundangku untuk datang dan memohon untuk ikut bergabung dengan proyek baru mu itu."
Deg
๐ช๐ต๐ถ ๐ข๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ช๐ฐ๐ฏ ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด๐ข๐ฉ๐ข๐ข๐ฏ ๐๐ช๐ญ๐ญ๐ช๐ข๐ฎ? ๐๐ด๐ต๐ข๐จ๐ข...๐๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ.
"A-apa kau Dion william?" tanya Dirga memastikan.
"Ya, aku Dion william dan kau telah berurusan dengan orang yang salah, tuan Dirga. Tapi tenang aku tak akan menolak tawaran mu untuk bekerja sama, tapi...." Dion mengambil sebuah map merah dan menyerahkannya pada Dirga.
"Bacalah, kau akan mengerti maksudku!"
Dengan perasaan was-was Dirga mengambil map tersebut, mulai membacanya.
Brak
"Apa ini, kau memerasku?" pekik Dirga.
"Tennag lah, pikirkan sekali lagi dengan baik-baik."
Dirga menatap Dion dengan kebencian, sungguh tak pernah Dirga bayangkan bahwa perusahaan yang di bangun dengan susah payah, saat ini sedang di ambang kehancuran dan satu-satunya orang yang bisa Dirga mintai pertolongan justru ikut menjeratnya.
Letha yang sedari tadi hanya diam memperhatikan, kini mendekat ke arah ayahnya dan ikut membaca apa yang sebelumnya sudah di baca oleh Dirga.
"Apa ini, anda meminta keuntungan sebanyak 75 %? apa anda bercanda tuan?"
"Tidak, tanda tangani saja jika kalian setuju aku ikut bergabung dengan proyek itu."
Dion tahu keadaan sebenarnya di perusahaan Dirga, dan itu menjadi jalan Dion untuk memperalat Dirga, membalaskan sakit hatinya atas penghinaan yang Dirga lakukan padanya.
Sebelumnya Perusahan Dirga telah sedikit di goyahkan oleh Zain, sengaja Zain tidak langsung membuatnya bangkrut, tapi Zain ingin melihat jika kerja keras Dirga yang selama ini menjadi kebanggaannya hancur perlahan dan Dirga tidak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkannya.
Bukankah menyerang di kedua sisi berbeda akan membunuh lawannya secara perlahan? hal itulah yang saat ini Zian lakukan, tentu tanpa sepengetahuan Dirga.
__ADS_1