
"Dia milikku Yo jo!" tegas Yo il dengan mata yang membulat sempurna. Tampak guratan kemarahan di wajahnya. Tangan Yo Il masih mengepal kuat.
"Dia sudah kutandai. Jika kau menyentuh apa yang kutandai..... "
"Aku akan bagaimana?" tantang Yo Jo menatap tajam Yo il balik.
"Aku akan membunuhmu!" Tegas Yo il dengan wajah serius dan dingin.
"Huuu... hahahahaha...." Yo jo tergelak.
"Kau mengacamku untuk seorang wanita. Lucu sekali." cibir Yo jo.
"Kau belum cukup untuk Itu Yo Il."ucap Yo Jo santai."Aku tak akan menyentuhnya. Adikku."
Yo Jo berjalan perlahan melewati Yo il.
"Kau harus dapatkan Cip itu sebagai ganti kepala wanitamu."ucap Yo Jo dingin."Yang sudah membunuh ayah." lanjut Yo Jo dengan wajah garang yang berlalu semakin jauh.
Tubuh Aliyah merosot kebawah, Yo il dengan cepat menangkapnya. Rasanya lemas sekali, Aliyah sedari tadi sudah ketakutan. Aura Yo jo sangat berbeda dengan Yo il. Begitu tegas dan berbahaya sangat mendominasi.
"Kamu tak apa-apa Aliyah?" Tanya Yo il kuawatir.
"Yo jo sangat menakutkan. Dia memberiku tekanan dengan tatapan matanya sudah membuat isi perutku tertekan. Sangat menyakitkan." lemas Aliyah memggambarkan perasaan dirinya.
"Apa dia akan menginap disini malam ini?"tanya Aliyah dengan ragu dan berharap jawaban Yo il tidak.
Yo il mengangguk pelan.
"Aku takut. aku ingin keluar dari sini."
"Maaf Aliyah! Jika kamu keluar dari sini, aku tak bisa menjamin keselamatanmu."
"Apa sekrang kau sedang menjamin aku tak apa-apa dengan pria seperti Yo jo yang begitu ingin membunuhku?" tanya Aliyah menegaskan.
"Aku akan berada disisimu untuk melindungimu."balas Yo il
Aliyah tersenyum lucu. Aku, akan kabur dari sini. Aku tidak mau mati disini. Devan pasti cemas dan mencariku. Aku harus kembali. pikir Aliyah.
###
__ADS_1
Setelah melakukan beberapa penelusuran Devan dan timnya bisa berhasil menemukan dimana Aliyah.
"Dia membawanya ke markas."
"Markas besar mereka? Huuuhh." kesal Devan. "Apa dia pikir aku tidak akan kesana?" sambung Devan dengan tatapan marah dan dingin.
"Kim!"
"Iya tuan."
"Persiapkan penyerangan."titahnya.
"Baik." patuh Kim.Tuan... dia benar-benar serius. Bagaimana tidak. Wanita beserta cipnya ada disana. Tentu saja Tuan Devan. harus mengambilnya. pikir Kim.
****
Setelah melakukan serangkaian persiapan. Devan dan orang-orangnya membuat koordinasi terakhir. Devan bersiap melakukan penyerangan ke markas Utama Kelompok Han.
"Akan ku ambil kembali wanitaku!"
Dengan disenjatai senapan refle dan beberapa pistol di tubuhnya, Devan mulai menyelinap.
"Tuann, kami akan mulai memotong CCTV mereka. Menyusuplah, temukan dan kembali dalam waktu tiga puluh menit."
"Lakukan!" perintah Devan menekan erpon ditelinganya.
Devan sudah bersiap menyusup. Devan memasuki markas kelompok Han dengan melewati tembok pembatas dan berguling ke area yang lebih gelap. Beberapa penjaga tampak standby dan mengawasi dengan mata mereka.
Devan menyelinap dan berhasil masuk kedalam gedung utama.
"Kim! Waktu kita hanya 30 menit. Temukan Aliyah secepatnya dan pergi."
Kim mengangguk patuh. Pria itu dengan lincah menghilang entah kemana.
"Istriku! Aku pasti menemukanmu."
###
Aliyah terduduk termenung di kamarnya seorang diri. menatap pintu masuk kamarnya berharap detik berikutnya Devan mendobrak pintu itu. Namun pintu itu tidak bergeming sedikitpun.
__ADS_1
Apa aku berharap terlalu tinggi? Apakah Devan sungguh tak bisa menyentuh tempat ini? pikir Xia.
Handle pintu bergerak. Jantung Aliyah berdetak kencang. Menantii siapa yang akan masuk. Aliyah menelan ludahnya sangat susah. Pintu terbuka Sosok pria dengan baju kamuflase berdiri diambang pintu. Lalu dia memasukkan tubuhnya kedalam kamar. Menutup pelan pintu kamar itu. Sesaat Aliyah dan sosok itu saling pandang.
Aliyah berdiri dari duduknya. Antara bahagia, haru dan takut. Pria yang dinantinya datang tepat didepan matanya. Aliyah melangkah cepat menyambut Devan dan memeluknya erat.
Kedua insan itu saling berpelukan melepas rindu.
"Kenapa meninggalkanku dan membuatku seperti ini lagi?"isak Aliyah lirih.
Devan melonggarkan pelukan nya. Mengecup ringan bibir Aliyah.
"Maaf! Maaf aku tidak mendengarkanmu." lirih Devan.
Devan menyesap bibir Aliyah lagi, membelit lidahnya dan mengorek rongga mulut istrinya. Sesaat mereka berciuman. Devan tersadar waktunya tak banyak. Dia melepas pelukan dam ciumannya.
"Waktu kita tak banyak."ucap Devan, "Kita bisa melanjutkannnya nanti dirumah. Ayo pergi."
Aliyah mengangguk mantap. Devan menggandeng tangan Aliyah kuat. Melangkah pelan mendekati pintu. Tepat saat itu handel pintu bergerak. Devan tertegun. Devan bergerak mundur, Aliyah pun ikut mundur perlahan.
"Kita kabur keberanda." bisik Devan.
Aliyah mengangguk. Devan mengarahkan pistolnya. ke pintu, bersiap menembak. Seiring dengan handel pintu yang di mainkan.
Ceklek, Pintu terbuka. Devan bersiap menarik pelatuknya. Mata pria itu menyipit.
____€€€____
Reader kuuh , kira-kira siapa ya?
Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
😊
__ADS_1