Belenggu Cinta Mafia

Belenggu Cinta Mafia
Misi di mulai


__ADS_3

Kesya dan Nisa kini telah sampai di bengkel motor tempat Zain bekerja, keduanya melangkah masuk untuk menanyakan keadaan mobil milik Nisa, apakah sudah bisa di bawa pulang atau belum.


"Kak, saya mau ambil mobil saya, apa sudah selesai di perbaiki?" Nisa mulai bertanya pada karyawan bengkel yang masih sibuk dengan kunci dan oli di tangannya.


"Mbak yang kemarin mobilnya mogok ya," ucap karyawan bengkel tersebut.


"Iya, kami yang kemarin siang bawa mobil mogok kesini." jelas Nisa.


"Oh maaf mbak, sepertinya belum selesai, ini masih menunggu antrian, mungkin lusa bisa di ambil, kebetulan bengkel kami ini sedang banyak sekali pelangan, mungkin kerena semua puas dengan kerja kami, saya harap mbaknya bisa bersabar." jelas karyawan bengkel panjang lebar.


"Oh seperti itu," beo Nisa.


"Kak kalau pangeranku ada nggak?" tanya Keysa spontan, melihat para karyawan yang mendengar pertanyaannya membulatkan mata, Keysa menjadi salah tingkah.


"Em...maksud aku, orang yang kemarin sempat anterin kita pulang."


Waktu kejadian Keysa pingsan, Zain lah yang mengantar mereka berdua pulang.


"Oh, Zain, dia mulai hari ini kena skors karena sering masuk terlambat." jelas Doni karyawan bengkel. Sebenarnya sayang Zain termasuk karyawan yang sangat ahli dalam mesin. Mengotak-atik mesin merupakan hobby lain dari seorang Zain.


"Apa!!, jadi pangeranku kena skors, berapa lama?" Keysa mendekat pada karyawan yang ketahui namanya Doni dari bet nama yang terpasang di dada sebelah kanan.


"Namanya itu Zain, kenapa kamu pangilnya pangeran?" Doni mengkerutkan keningnya keheranan.


"Hehehe... maafkan temanku, dia menyebutnya dengan pangeran sebab dia tampan." Nisa membela Keysa di depan karyawan bengkel.


๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ช, ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข-๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜’๐˜ฆ๐˜บ๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ก๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ก๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜’๐˜ฆ๐˜บ๐˜ด๐˜ข, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ, ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜’๐˜ฆ๐˜บ๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข. ๐˜‘๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข! omel Nisa dalam hati.


"Zain memang tampan, tapi sayang ngak ada yang bisa deketin Zain, orangnya dingin, cuek, datar, pokonya yang namanya cinta nggak ngaruh buat Zain." Doni menjelaskan apa yang dia tahu dari teman sepekerjaannya itu.


"Iya kah," ucap Keysa lirih.


๐˜š๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ก๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ด๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜ข๐˜ค๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ณ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ก๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜›๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ก๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ.


"Yasudah kak, kita pulang dulu lusa kita kesini lagi buat ambil mobil." Nisa menarik Keysa keluar dari bengkel.

__ADS_1


"Kenapa pergi Nisa, kan aku masih ingin ngobrol banyak sama kak Doni itu, siapa tahu aku bisa dekat dengan Zain lewat kak Doni," Keysa merasa kesal dengan Nisa.


"Yasudah lah, kalau jodoh ya nggak bakalan kemana-mana kok, ujung-ujungnya ya bakalan ketemu, sabar aja dulu Keysa."


Mau tak mau Keysa menuruti apa kata Nisa, mereka akhirnya pulang dengan taksi masing-masing sebab arah rumah Nisa dengan kontrakan Keysa berlawanan.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


"Zain pergi dulu ya mom, jaga diri mommy dan Daddy, Zain merindukan kalian disana." dengan sedikit berat hati Zain harus berjauhan dengan kedua orang tuanya.


"Kamu juga harus jaga diri baik-baik, ingat kata mommy, harus pulang tanpa cacat! itu perintah dari mommy."


Mommy Maya menatap Zain serius. Sebagai ibu, meski tidak melahirkannya Maya tetap merasa khawatir dengan putra kesayangannya itu, bagaimanapun lawan yang di hadapinya saat ini sepertinya cukup sulit.


"Iya, Zain janji mom!"


"Kalau ada apa-apa cepat beritahu Daddy, ingat Zain meskipun kamu bisa mengalahkannya sendiri, tapi kamu tidak boleh hanya mengunakan kekuatanmu saja, kecerdikan harus tetap kamu gunakan, dan ya jangan pernah kamu sakiti orang yang tidak bersalah di sana. Kami di sini akan menunggumu pulang dengan4 membawa kabar baik." Daddy Brian sangat berharap besar pada putranya Zain.


"Daddy jangan khawatir, pasan Daddy akan selalu Zain ingat. Sepertinya Zain harus pergi sekarang." Zain melihat jam di pergelangan tangannya tiga puluh menit lagi pesawat Zain akan berangkat.


"Kalian siap?" tanya Zain, ia tak mau melakukan kesalahan sekecil apapun dalam misinya kali ini.


"Siap tuan." jawab mereka berempat serentak.


Mereka berlima sebenarnya bisa saja pergi dengan menggunakan jet pribadi, tapi untuk mengecoh lawan meraka akhirnya memilih jalan seperti seorang turis yang akan berlibur ke Dubai.


Beberapa jam telah berlalu, kini pesawat yang mereka tumpangi telah mendarat di kota Dubai. Para penumpang kini telah berhamburan turun dari pesawat dan mulai menuju tempat tujuan masing-masing.


Zain dan keempat rekannya kini menuju rumah mansion yang berada di Dubai, selain kekuasaan di Indonesia saat ini, Daddy Brian juga memiliki markas dan Mension di Dubai, mungkin karena penjagaan di Dubai tidak terlalu ketat, musuh bisa menyerang markas Daddy Brain dan menggunakan nama klan Mafia milik Zain untuk berulah.


Tak butuh waktu lama mereka kini telah tiba di Mension.


"Kalian istirahatlah sejenak, setelah itu kita berkumpul di markas." perintah Zain pada Alex, Andra, Jeff dan Smith.


"Baik tuan, tuan juga harus istirahat." jawab mereka bertiga serentak.

__ADS_1


Andra, Jeff, dan Smith memilih beristirahat, lain dengan Alex, ia kini masih setia di samping tuannya itu.


"Kira-kira siapa yang menabuh bendera perang pada klan milik kita tuan, seperti yang saya tahu kita tidak memiliki musuh di sini." jelas Alex mengutarakan pendapatnya.


"Musuh kita ini rupanya belum tahu sedang berhadapan dengan siapa." jawab Zain terkesan dingin, namun matanya terpejam, Zain kini juga ikut merebahkan dirinya di ruang tamu.


"Baiklah tuan, sepertinya anda butuh istirahat, saya permisi dulu." Alex kini meninggalkan Zain sendiri yang larut dalam pikirannya sendiri.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Ceklek....


Keysa membuka pintu kontrakannya, "Huft.... gagal deh ketemu sama pangeran, kenapa juga pangeran ku kena Skors, jadinya kan nggak bisa ketemu." sedari pulang dari bengkel Keysa terus saja ngedumel sebab gagal ketemu sama pangerannya.


"Sepertinya aku harus bisa mengorek informasi dari Kak Doni mengenai pangeranku ini, Zain nama yang indah, sangat sesuai dengan wajah tampannya itu." Keysa tanpa sadar senyum-senyum sendiri kala mengingat laki-laki yang kini telah menjadi tujuan hidupnya.


๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ก๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ด๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฐ๐˜ฉ ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช-๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ก๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. Keysa membatin.


Dengan cepat Keysa tersadar dari lamunannya, "Ah... aku cari sadar kalau hari ini aku belum membersihkan kontrakan ku ini, jika tidak di bersihkan mami Tasya bisa mengusir ku dari sini secara mami tidak suka kotor, sedangkan kontrakan ku ini sudah seperti kapal pecah.


Keysa memulai dari menyapu lantai hal kecil yang baru di lakukan sekarang.


"Ternyata lelah juga harus membersihkan rumah sendirian." keluh Keysa. Keysa kini memilih merebahkan diri pada kasur yang tak seberapa empuk di kontrakannya namun cukup nyaman.


"Sepertinya dengan aku pergi dari rumah, telah mengajari aku untuk lebih bersyukur telah memiliki segalanya dalam hidupku, mungkin termasuk apa yang sedang aku derita saat ini." Keysa mulai memejamkan mata menuju alam mimpi, dengan harapan kali ini bisa bertemu dengan pangerannya kembali.


Hingga tak lama terdengar dengkuran halus dari gadis yang telah tertidur di kasur miliknya secara asal.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Seorang laki-laki yang masih terlihat tampan dengan kumis khas miliknya kini tengah berdiri di ruang kerja miliknya, matanya fokus menatap ke depan melihat pemandangan yang tersaji dari atas gedung perusahaan miliknya, lain dengan mata, pikirannya kini tengah melayang memikirkan keadaan putri bungsunya yang saat ini tinggal di kontrakan. Dirga sebenarnya mengetahui segala aktivitas Keysa, tempat tinggal, dan kegiatan Keysa tak pernah lepas dari pantauan Dirga.


"Tetap laksanakan tugasmu dengan baik, tapi ingat jangan pernah kamu menimbulkan kecurigaan pada putriku itu, dan ya, kamu bisa menjadi teman putriku dalam kampus miliknya aku rasa itu cara yang tepat agar kamu bisa melaporkan apapun yang di lakukan oleh Keysa di luar sana, termasuk kondisinya itu." ucap Dirga penuh penekanan.


"Baik bos, saya akan melakukan tugas saya dengan sangat hati-hati, nona Keysa tak akan tahu siapa saya!" jawab laki-laki yang sepantaran dengan Keysa tersebut.

__ADS_1


__ADS_2