
Kesya dan Nisa kini telah sampai di bengkel motor tempat Zain bekerja, keduanya melangkah masuk untuk menanyakan keadaan mobil milik Nisa, apakah sudah bisa di bawa pulang atau belum.
"Kak, saya mau ambil mobil saya, apa sudah selesai di perbaiki?" Nisa mulai bertanya pada karyawan bengkel yang masih sibuk dengan kunci dan oli di tangannya.
"Mbak yang kemarin mobilnya mogok ya," ucap karyawan bengkel tersebut.
"Iya, kami yang kemarin siang bawa mobil mogok kesini." jelas Nisa.
"Oh maaf mbak, sepertinya belum selesai, ini masih menunggu antrian, mungkin lusa bisa di ambil, kebetulan bengkel kami ini sedang banyak sekali pelangan, mungkin kerena semua puas dengan kerja kami, saya harap mbaknya bisa bersabar." jelas karyawan bengkel panjang lebar.
"Oh seperti itu," beo Nisa.
"Kak kalau pangeranku ada nggak?" tanya Keysa spontan, melihat para karyawan yang mendengar pertanyaannya membulatkan mata, Keysa menjadi salah tingkah.
"Em...maksud aku, orang yang kemarin sempat anterin kita pulang."
Waktu kejadian Keysa pingsan, Zain lah yang mengantar mereka berdua pulang.
"Oh, Zain, dia mulai hari ini kena skors karena sering masuk terlambat." jelas Doni karyawan bengkel. Sebenarnya sayang Zain termasuk karyawan yang sangat ahli dalam mesin. Mengotak-atik mesin merupakan hobby lain dari seorang Zain.
"Apa!!, jadi pangeranku kena skors, berapa lama?" Keysa mendekat pada karyawan yang ketahui namanya Doni dari bet nama yang terpasang di dada sebelah kanan.
"Namanya itu Zain, kenapa kamu pangilnya pangeran?" Doni mengkerutkan keningnya keheranan.
"Hehehe... maafkan temanku, dia menyebutnya dengan pangeran sebab dia tampan." Nisa membela Keysa di depan karyawan bengkel.
๐๐ถ๐ฉ ๐ฎ๐ถ๐ญ๐ถ๐ต ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฅ๐ช ๐ข๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฐ๐ฎ๐ฑ๐ณ๐ฐ๐ฎ๐ช, ๐ฃ๐ช๐ด๐ข-๐ฃ๐ช๐ด๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ฆ๐บ๐ด๐ข ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ถ๐ต ๐ก๐ข๐ช๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ถ๐ต๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ, ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ต๐ข ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ, ๐บ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ช๐ฉ ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ก๐ข๐ช๐ฏ ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฎ๐ช๐ฎ๐ฑ๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ฆ๐บ๐ด๐ข, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐จ๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ, ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฅ๐ข ๐๐ฆ๐บ๐ด๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐จ๐ช๐ญ๐ข. ๐๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฑ๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ฏ๐ฆ๐จ๐ณ๐ช ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข! omel Nisa dalam hati.
"Zain memang tampan, tapi sayang ngak ada yang bisa deketin Zain, orangnya dingin, cuek, datar, pokonya yang namanya cinta nggak ngaruh buat Zain." Doni menjelaskan apa yang dia tahu dari teman sepekerjaannya itu.
"Iya kah," ucap Keysa lirih.
๐๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ด๐ถ๐ญ๐ช๐ต ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ต๐ช ๐ก๐ข๐ช๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ฏ๐จ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ต๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฏ๐จ๐จ๐ฌ๐ข ๐ด๐ฆ๐ณ๐ถ ๐ฅ๐ฐ๐ฏ๐จ, ๐ด๐ช๐ฌ๐ข๐ฑ ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ, ๐ข๐ค๐ถ๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ณ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ญ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฅ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ต ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐ก๐ข๐ช๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ข๐ฑ๐ข๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ, ๐๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ฎ๐ถ ๐ซ๐ข๐ต๐ถ๐ฉ ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ก๐ข๐ช๐ฏ.
"Yasudah kak, kita pulang dulu lusa kita kesini lagi buat ambil mobil." Nisa menarik Keysa keluar dari bengkel.
__ADS_1
"Kenapa pergi Nisa, kan aku masih ingin ngobrol banyak sama kak Doni itu, siapa tahu aku bisa dekat dengan Zain lewat kak Doni," Keysa merasa kesal dengan Nisa.
"Yasudah lah, kalau jodoh ya nggak bakalan kemana-mana kok, ujung-ujungnya ya bakalan ketemu, sabar aja dulu Keysa."
Mau tak mau Keysa menuruti apa kata Nisa, mereka akhirnya pulang dengan taksi masing-masing sebab arah rumah Nisa dengan kontrakan Keysa berlawanan.
๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ
"Zain pergi dulu ya mom, jaga diri mommy dan Daddy, Zain merindukan kalian disana." dengan sedikit berat hati Zain harus berjauhan dengan kedua orang tuanya.
"Kamu juga harus jaga diri baik-baik, ingat kata mommy, harus pulang tanpa cacat! itu perintah dari mommy."
Mommy Maya menatap Zain serius. Sebagai ibu, meski tidak melahirkannya Maya tetap merasa khawatir dengan putra kesayangannya itu, bagaimanapun lawan yang di hadapinya saat ini sepertinya cukup sulit.
"Iya, Zain janji mom!"
"Kalau ada apa-apa cepat beritahu Daddy, ingat Zain meskipun kamu bisa mengalahkannya sendiri, tapi kamu tidak boleh hanya mengunakan kekuatanmu saja, kecerdikan harus tetap kamu gunakan, dan ya jangan pernah kamu sakiti orang yang tidak bersalah di sana. Kami di sini akan menunggumu pulang dengan4 membawa kabar baik." Daddy Brian sangat berharap besar pada putranya Zain.
"Daddy jangan khawatir, pasan Daddy akan selalu Zain ingat. Sepertinya Zain harus pergi sekarang." Zain melihat jam di pergelangan tangannya tiga puluh menit lagi pesawat Zain akan berangkat.
"Kalian siap?" tanya Zain, ia tak mau melakukan kesalahan sekecil apapun dalam misinya kali ini.
"Siap tuan." jawab mereka berempat serentak.
Mereka berlima sebenarnya bisa saja pergi dengan menggunakan jet pribadi, tapi untuk mengecoh lawan meraka akhirnya memilih jalan seperti seorang turis yang akan berlibur ke Dubai.
Beberapa jam telah berlalu, kini pesawat yang mereka tumpangi telah mendarat di kota Dubai. Para penumpang kini telah berhamburan turun dari pesawat dan mulai menuju tempat tujuan masing-masing.
Zain dan keempat rekannya kini menuju rumah mansion yang berada di Dubai, selain kekuasaan di Indonesia saat ini, Daddy Brian juga memiliki markas dan Mension di Dubai, mungkin karena penjagaan di Dubai tidak terlalu ketat, musuh bisa menyerang markas Daddy Brain dan menggunakan nama klan Mafia milik Zain untuk berulah.
Tak butuh waktu lama mereka kini telah tiba di Mension.
"Kalian istirahatlah sejenak, setelah itu kita berkumpul di markas." perintah Zain pada Alex, Andra, Jeff dan Smith.
"Baik tuan, tuan juga harus istirahat." jawab mereka bertiga serentak.
__ADS_1
Andra, Jeff, dan Smith memilih beristirahat, lain dengan Alex, ia kini masih setia di samping tuannya itu.
"Kira-kira siapa yang menabuh bendera perang pada klan milik kita tuan, seperti yang saya tahu kita tidak memiliki musuh di sini." jelas Alex mengutarakan pendapatnya.
"Musuh kita ini rupanya belum tahu sedang berhadapan dengan siapa." jawab Zain terkesan dingin, namun matanya terpejam, Zain kini juga ikut merebahkan dirinya di ruang tamu.
"Baiklah tuan, sepertinya anda butuh istirahat, saya permisi dulu." Alex kini meninggalkan Zain sendiri yang larut dalam pikirannya sendiri.
๐น๐น๐น๐น๐น
Ceklek....
Keysa membuka pintu kontrakannya, "Huft.... gagal deh ketemu sama pangeran, kenapa juga pangeran ku kena Skors, jadinya kan nggak bisa ketemu." sedari pulang dari bengkel Keysa terus saja ngedumel sebab gagal ketemu sama pangerannya.
"Sepertinya aku harus bisa mengorek informasi dari Kak Doni mengenai pangeranku ini, Zain nama yang indah, sangat sesuai dengan wajah tampannya itu." Keysa tanpa sadar senyum-senyum sendiri kala mengingat laki-laki yang kini telah menjadi tujuan hidupnya.
๐๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฑ๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ช๐ต๐ถ, ๐ก๐ข๐ช๐ฏ ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ด๐ช ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ, ๐ฐ๐ฉ ๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐จ๐ข๐ณ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ญ๐ข๐ฌ๐ช-๐ญ๐ข๐ฌ๐ช ๐ต๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ข ๐ก๐ข๐ช๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช. Keysa membatin.
Dengan cepat Keysa tersadar dari lamunannya, "Ah... aku cari sadar kalau hari ini aku belum membersihkan kontrakan ku ini, jika tidak di bersihkan mami Tasya bisa mengusir ku dari sini secara mami tidak suka kotor, sedangkan kontrakan ku ini sudah seperti kapal pecah.
Keysa memulai dari menyapu lantai hal kecil yang baru di lakukan sekarang.
"Ternyata lelah juga harus membersihkan rumah sendirian." keluh Keysa. Keysa kini memilih merebahkan diri pada kasur yang tak seberapa empuk di kontrakannya namun cukup nyaman.
"Sepertinya dengan aku pergi dari rumah, telah mengajari aku untuk lebih bersyukur telah memiliki segalanya dalam hidupku, mungkin termasuk apa yang sedang aku derita saat ini." Keysa mulai memejamkan mata menuju alam mimpi, dengan harapan kali ini bisa bertemu dengan pangerannya kembali.
Hingga tak lama terdengar dengkuran halus dari gadis yang telah tertidur di kasur miliknya secara asal.
๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ
Seorang laki-laki yang masih terlihat tampan dengan kumis khas miliknya kini tengah berdiri di ruang kerja miliknya, matanya fokus menatap ke depan melihat pemandangan yang tersaji dari atas gedung perusahaan miliknya, lain dengan mata, pikirannya kini tengah melayang memikirkan keadaan putri bungsunya yang saat ini tinggal di kontrakan. Dirga sebenarnya mengetahui segala aktivitas Keysa, tempat tinggal, dan kegiatan Keysa tak pernah lepas dari pantauan Dirga.
"Tetap laksanakan tugasmu dengan baik, tapi ingat jangan pernah kamu menimbulkan kecurigaan pada putriku itu, dan ya, kamu bisa menjadi teman putriku dalam kampus miliknya aku rasa itu cara yang tepat agar kamu bisa melaporkan apapun yang di lakukan oleh Keysa di luar sana, termasuk kondisinya itu." ucap Dirga penuh penekanan.
"Baik bos, saya akan melakukan tugas saya dengan sangat hati-hati, nona Keysa tak akan tahu siapa saya!" jawab laki-laki yang sepantaran dengan Keysa tersebut.
__ADS_1