
Jantung Zain sudah berdetak tak karuan, takut rahasianya terbongkar, bukan apa, sebelumnya Zain tak pernah sekalipun berbohong kepada kedua orang tuanya, masalah sekecil apapun pasti akan Zain utarakan dan akan meminta solusi dari orang tua nya.
Tapi untuk yang satu ini Zain seolah ingin menyelesaikan sendiri, tentunya dengan caranya sendiri.
"Bukalah, beritahu mommy pendapatmu?"
Tak mau terus menebak, Zain memilih membuka isi dari amplop coklat tersebut. Beberapa foto seorang gadis yang berparas cantik telah tersusun rapi di dalam amplop itu, termasuk foto letha dan Keysa putri dari Dirga.
"Mommy mau kamu pilih salah satu gadis yang ada di Foto itu, pasti ada yang kamu suka, nggak mungkin putra mommy ini nggak tertarik sama sekali dengan seorang gadis."
Zain hanya bisa menuruti apa keinginan mommy nya, dengan sedikit malas Zain mulai memilah gadis dari tumpukan foto tersebut. Hanya memilah, bukan berati Zain akan menyukai gadis yang ada di foto. Semua itu Zain lakukan agar mommy nya tak mengeluarkan jurus andalan. Ya, Mommy Maya akan menggunakan hati jika berurusan dengan Zain, terlebih sekarang tak ada daddy Brian yang akan menyelamatkan Zain dari rencana perjodohan mommy nya.
Saat memilah mata Zain tertuju pada foto seorang gadis yang terlihat cantik mengunakan dress peach dengan make up natural, bukan terpesona melainkan tatapan kebencian Zain layangkan pada gadis yang ada foto yang dia pegang, siapa lagi kalau bukan Keysa. Gadis yang baru dua hari Zain jadikan istri, bukan pernikahan sungguhan, lebih tepatnya penjara yang akan membunuhnya secara perlahan.
"Apa kamu menyukai gadis itu?"
"Perlihatkan pada mommy, mommy juga ingin melihat siapa yang telah membuat putra mommy ini tertarik melihatnya." Mommy Maya hendak mengambil foto dalam genggaman Zain.
"Nyonya ada tamu yang hendak bertemu dengan nyonya, katanya sudah membuat janji, apa di persilahkan masuk?" tanya bik inah yang sudah bekerja di keluarga Miller bertahun-tahun.
"Oh iya... mommy lupa kalau ada janji, persilahkan masuk saja suruh tunggu di ruang tamu, sebentar lagi saya turun."
"Baik nyonya."
"Zain, mommy temui tamu mommy sebentar ya, kamu lebih baik istirahat saja di kamar sepertinya kamu cukup lelah."
"Iya mom."
__ADS_1
Di ruang tamu seorang ibu dan anak sedang mengagumi keindahan desain rumah milik keluarga Miller yang terpandang.
"Siang jeng Maya, gimana kabarnya sehat?"
"Kamu lihat sendiri, keadaan ku jauh lebih segar bukan, sorry ya nunggu lama."
"Nggak papa jeng, kapan lagi aku datang ke rumahmu, biasanya kan kita kumpul di sosialita saja, ini seperti limited edition bisa datang ke kediaman Miller." ucap mommy Sinta, ibu dari letha dan Keysa yang sengaja datang untuk bisa lebih dekat dengan mommy Maya, tentunya juga dengan niat agar bisa menjodohkan letha putri kebanggaannya dengan putra dari keluarga Miller. Ya, meskipun mommy Sinta belum tahu wajah putra keluarga Miller, sebab masih di sembunyikan, tapi mommy Sinta sudah memiliki angan-angan yang menggambarkan ketampanan putra tunggal Miller.
Jeng Sinta tidak datang sendiri melainkan membawa letha, ibu dan anak itu memang tak pernah berjauhan barang sejenak. Sangat berbeda dengan Keysa yang bahkan bisa di katakan sangat jarang dekat dengan ibunya. Semenjak mereka kecil, mommy Sinta memang membedakan kasih sayangnya terhadap letha dan Keysa, bahkan mommy Sinta hanya menganggap Keysa sebagai penyelamat Letha, tugasnya adalah menyembuhkan letha. Sewaktu kecil letha mengidap penyakit Leukimia yang bisa di sembuhkan jika melakukan transplantasi sum-sum tulang belakang, dan Kelahiran Keysa sangat diharapkan oleh Dirga dan Sinta.
Dugaan mereka benar jika Keysa bisa menyelamatkan nyawa kakaknya saat itu, saat usianya sudah menginjak tujuh tahun, bertepatan dengan keadaan letha yang sudah tidak bisa bertahan maka di lakukanlah operasi tersebut hasilnya seperti sekarang, Letha bisa menjalani hidup dengan sempurna, namun sangat berbeda dengan kehidupan Keysa yang bahkan sampai saat ini tak mendapat kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya, meski begitu Keysa tak menaruh dendam pada kedua orang tuanya dia hanya bisa berharap suatu saat akan ada keajaiban yang terjadi pada hidupnya.
"Oh ada letha juga..."
"Siang tante..." sapa letha, ia ingin terlihat baik di hadapan mommy Maya, selain mengikuti keinginan dari ibunya letha juga penasaran seberapa tampan putra Miller.
Jeng Maya sebenarnya lebih tertarik kepada Keysa dibandingkan letha, ya, meski letha terlihat lebih dewasa, tapi insting seorang ibu mengatakan jika Keysa lebih baik dari letha.
"Keysa nggak ikut, biasa lagi sibuk dengan kuliahnya, anak muda memang seperti itu."
"Mungkin lain kali ajak Keysa sekalian pasti seru."
"Iya, gimana kita jadi pergi belanja bareng nggak jeng?"
"Jadilah jeng Sinta, ayo kita pergi."
Mereka bertiga memilih pergi ke mall tentunya dengan pengamanan yang ketat, semua pengawal yang mengawal mommy Maya sengaja membaur sebagai orang biasa di mall.
__ADS_1
"Seru ya jeng, ngomong-ngomong makasih loh jeng udah nyempetin waktu buat belanja bareng kita, aku aja nggak nyangka bisa belanja bareng orang paling terpandang, ya seperti jeng ini."
"Sama-sama jeng Sinta, selagi orangnya baik pasti saya suka jalan bareng mereka, soalnya saya paling nggak suka orang yang munafik."
Jeng Sinta hanya menyahuti dengan senyuman kecil. ๐๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ ๐ฌ๐ถ?
Sedangkan Jeng Maya terlihat begitu santai, tanpa berniat menyindir siapapun.
๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ
Seorang pemuda sedang mengacak-acak meja kerjanya sendiri, menumpahkan semua kekesalan pada benda apapun ya g dia temui di ruangan itu, beberapa berkas penting pun telah berserakan di lantai, membuat keadaan di dalam ruangan yang di sebut ruang kerja pribadi itu sudah seperti kapal pecah.
"Kenapa sesulit ini mendekatimu, Keysa? Dan kenapa kamu akhir-akhir ini sangat sulit di hubungi? kemana sebenarnya kamu, aku tak akan membiarkanmu pergi dariku, akan aku lakukan apapun untuk menemukanmu dan menjadikanmu milikku, hanya milikku!!" ucap Dion frustasi, keinginan memiliki gadis yang menjadi idaman di kampus sangat mendominasi, tapi tidak lebih besar dari keinginan menghancurkan keluarga Miller sesuai perintah sangat ayah.
Aaakkhh
Teriak Dion menjatuhkan tubuhnya ke lantai, Dion merasa apa yang di lakukannya selama beberapa hari terakhir hanya sia-sia.
"Jika aku tak bisa mendekatimu dengan halus akan aku gunakan caraku sendiri untuk bisa lebih dekat denganmu, Keysa." ucap Dion dingin.
Dion tak tahu kalau mulai hari ini Keysa mungkin akan sangat sulit untuk di temui, bukan apa, Zain telah menutup seluruh akses media milik Keysa, bahkan menyita handphone miliknya. Dan jalan satu-satunya Keysa bisa merasa sedikit bebas pun sudah Zain tutup dengan tak memperbolehkannya untuk kuliah.
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
"Tuan Dion, anda di minta untuk menemui papa anda di ruangannya." ucap Deri yang merupakan tangan kanan Dion.