
Tak ada jawaban dari Dion hanya anggukan kepala tanda mengerti. Tak ingin membuat papanya menunggu terlalu lama Dion segera Bangkit, sedikit merapikan tampilannya agar papanya tak curiga akan apa yang di lakukannya barusan. Setelah di rasa tampilannya sudah rapi seperti sebelumnya Dion menuju ruangan papanya.
Cklekk
"Duduklah..." ucap papa Dion.
Albert William memperhatikan setiap tampilan putra tunggalnya itu dari atas sampai bawah, sekilas tidak terlihat ada yang berbeda, tapi sedikit dasi yang miring cukup menarik perhatian ayah beranak satu itu.
"Kenapa tampilan mu berbeda, apa ada yang kamu sembunyikan dari papa, Dion?"
Dion sedikit gugup, tapi dengan cepat dia mengubah ekspresi wajahnya, ๐๐ข๐ฑ๐ข ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ฏ๐ช ๐จ๐ข๐ณ๐ข-๐จ๐ข๐ณ๐ข ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข,
"Dion!"
"Eh... hanya sedikit lelah pa. Ada apa papa pangil Dion kemari, apa ada sesuatu yang penting?" tanya Dion mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Jangan pernah coba-coba menyembunyikan sesuatu dari papa Dion, aku ini papamu, aku bahkan bisa mengetahui apa yang kamu sembunyikan." sebuah peringatan Albert berikan pada Dion.
"Tidak ada yang aku sembunyikan pa, aku hanya lelah, hari ini aku sibuk sekali di kantor." ucap Dion berbohong.
"Oh ya, papa ingin mengenalkan kamu pada seseorang yang bisa membantu kita membalaskan dendam kita, besok dia akan datang ke markas kita, papa minta sambut dia dengan baik."
"Apa dia benar bisa membantu kita pa?"
"Jangan kamu ragukan kemampuan Viktor, Dia merupakan Sekutu papa dulu. Hanya saja dia baru saja kembali setelah memperluas kekuasaannya di jepang dan papa yakin dengan mendapat bantuannya kita bisa mengalahkan mafia milik Brian itu." Albert berucap dengan mantap.
Albert seakan menemukan harapan baru, dendamnya di masa lampau akan terbalaskan. Albert menyerigai tersenyum membayangkan keinginan terbesarnya tercapai.
Dion pun ikut tersenyum, "Papa tenang saja Dion akan atur pertemuan kita besok dengan sangat baik."
Ayah dan anak itu kini berpelukan, Dion cukup perihatin dengan keadaan orang tua satu-satunya yang dia miliki.
Serangan yang di lakukan oleh Zain telah membuatnya berada di kursi roda untu beberapa bulan kedepan. Ada beberapa tulang yang patah, luka dalam yang cukup lama penyembuhannya membuat Albert hanya bisa mengandalkan Dion untuk membalaskan dendam.
๐น๐น๐น๐น๐น
__ADS_1
Keysa terduduk di sofa ruang tamu, perutnya mendadak sakit, bahkan Keysa beberapa kali memuntahkan makanan yang tadi pagi sudah di paksakan masuk kedalam perutnya.
"Aku lemas sekali, Kak Zain kamu dimana?"
Keysa belum selesai mengerjakan pekerjaan rumah yang seharusnya sekarang sudah selesai. Semua tertunda akibat keadaannya yang lemas.
"Bagaimana ini, kak Zian pasti akan marah dan akan menghukumku lagi."
Keysa mencoba untuk bangkit, namun apalah daya tubuhnya benar-benar lemas hingga dia terjatuh kembali ke sofa.
"Sebaiknya aku istirahat dulu, aku benar-benar lemas sekali." Keysa membaringkan tubuhnya di sofa dan tertidur di sana.
Jam di dinding kini sudah menunjukkan angka delapan malam, Keysa bahkan tak menyadari jika lampu di rumahnya kini belum menyala, Keysa tidur dalam kegelapan tak ada sinar sama sekali.
"Astaga ini dimana, kenapa gelap." Keysa panik tak dapat melihat apapun di sekitarnya.
"Aishh! aku lupa menyalakan lampu, tunggu ini jam berapa? apa aku tidur selama itu?"
Keysa meraba setiap sudut berharap menemukan saklar lampu, beberapa kali sempat menabrak dalam kegelapan sebab Keysa tak tahu dimana letak saklar lampu berada.
Pyarr
Pyarr
Usaha memang tak mengkhianati hasil, setelah berusaha Keysa akhirnya menemukan apa yang dia cari. Dan seketika itu Keysa bisa bernafas dengan lega setelah lampu menyala.
"Alhamdullillah..."
Belum selesai Keysa merasa lega, kini pemandangan ruangan yang berantakan menjadi titik fokusnya.
"Hufff..., aku benar-benar dalam masalah besar."
Dengan berjalan tertatih-tatih Keysa berjalan kekamar untuk mengobati luka di kakinya terlebih dahulu sebelum membersihkan kekacauan yang di buat.
Brem
__ADS_1
Brem
Suara motor milik Zain memenuhi indra pendengaran Keysa yang berada di dalam kamar, dia bahkan belum selesai membersihkan lukanya dan suaminya kini telah pulang ke rumah. Dengan sedikit berlari tak menghiraukan sakit di kakinya Keysa menyambut kepulangan Zain, bukankah itu salah satu tugasnya sebagai istri.
"Kak Zain..." sebisa mungkin Keysa terlihat baik-baik saja di depan Zain, meski sebenarnya keadaannya tidak sehat. Senyuman pun tak lupa Keysa hadirkan untuk menyambut suaminya yang dia kira baru pulang dari bekerja.
"Kak Zain baru pulang?"
"Hm....." Zain terlihat acuh dan berlalu meninggalkan Keysa yang masih mematung di teras depan. Keysa dengan jantung yang sudah berdetak lebih kencang, mengikuti langkah Zian masuk ke dalam rumah.
๐๐ด๐ต๐ข๐จ๐ข!! ๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐ช๐ฏ๐ช ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ถ, ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ซ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ค๐ข๐ถ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช?
"Maaf kak!! aku tak sengaja, tadi ak_"
"Apa hukuman ku tadi pagi belum membuatmu jera melakukan kesalahan? atau kamu memang sengaja melakukan semua ini!" tatapan tajam Zain berikan pada Keysa.
"Tidak kak, tadi aku ketiduran, jadi..."
"Apa kamu tak punya pekerjaan lain selain tidur... ingat Keysa rumahku bukanlah penampungan, statusmu memang istriku tapi posisimu adalah di bawah kendali ku, jadi aku ingatkan untuk tidak membuat kesalahan." ucap Zain dengan penuh penekanan.
"Iya kak...maaf." berulang kali Keysa meminta Maaf tapi sepertinya Zain tak berminat untuk memaafkan kesalahan Keysa.
Dalam hati Zain justru tersenyum senang saat melihat Keysa terus dan menerus melakukan kesalahan, itu artinya Zain bisa memberikan hukuman atas kesalahan yang Keysa lakukan dan itu memiliki alasan yang logis. Jujur dalam hati Zain sempat merasa tak tega saat melihat wajah memelas Keysa, bagaimanapun Zain masih memiliki hati yang baik.
Apakah Zain akan bersikap baik pada Keysa suatu saat nanti? akankah Keysa sanggup menjalankan hari-harinya dalam kendali Zain?
Namun sepertinya Zain telah menutup matanya dengan kebencian yang mendalam terhadap keluarganya, mengabaikan setiap kebaikan yang mungkin di lakukan Keysa.
"Sekarang bersihkan kekacauan ini, aku tak mau melihat rumahku berantakan."
"Dan ya, kamu harus menganti semua kerugian ini. Satu lagi, sebagai hukuman tak akan ada makan malam untuk malam ini." Zain berucap datar.
Keysa pun tak dapat protes, apa yang di katakan oleh Zain itu bagaikan perintah mutlak.
"Tapi kak, aku kan tidak bekerja, bagaimana bisa menganti semua kerugian Kak Zain." tanya Keysa polos, selama ini Keysa belum pernah bekerja, lahir di keluarga kaya memang membuatnya tak pernah menyentuh pekerjaan sekecil apapun sebab semua sudah dikerjakan oleh para pembantu.
__ADS_1
Zain tampak berpikir, "Aku akan membiarkanmu bekerja di luar, tapi hanya sampai setengah hari, ada jam yang tak bisa kamu langgar." setelah mengatakan keputusannya, Zain berlalu pergi masuk ke dalam kamar. Setiap langkah kaki Zain bahkan tak luput dari pandangan Keysa, hanya pada Saat Zain tak menatap kearahnya, Keysa berani menatap meski hanya punggung yang terlihat, bukan wajah tampan milik Zain.
๐๐ฆ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ข๐ณ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ข๐ณ ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฌ, ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ต๐ช๐ฎ๐ถ ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฌ ๐ก๐ข๐ช๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ต๐ข๐ด ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ฎ๐ข๐ต ๐ต๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ช ๐ฅ๐ช ๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ณ๐ข ๐ฌ๐ช๐ต๐ข, ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ธ๐ข๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฑ๐ข๐ช ๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข.