
Sinar mentari menyinari bumi, memberi kehangatan pada penghuninya, bersamaan dengan itu sinar harapan akan hidup baru telah ia dapatkan, kehidupan bebas tanpa adanya tekanan dari orang -orang terdekatnya.
๐๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ด ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ ๐ช๐ต๐ถ, ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฑ๐ข๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ถ๐ฌ๐ข ๐ต๐ข๐ฏ๐ฑ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ฉ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐จ๐ช๐ข๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ. ๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐บ๐ข? ๐๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช ๐ฌ๐ฆ ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ ๐ฏ๐ช๐ด๐ข ๐ด๐ข๐ซ๐ข, ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐๐ช๐ด๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฐ๐ฏ๐ต๐ณ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฉ๐ข๐ณ๐จ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ช๐ต ๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฉ, ๐ต๐ข๐ฌ ๐ข๐ฑ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ช๐ต ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ฏ๐จ ๐ฏ๐บ๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ. ucap Keysa dalam hati.
Keysa kini telah berada di depan rumah sahabatnya, Nisa. Mereka bersahabat sejak menginjak bangku SMP, hingga kini mereka tetap kompak dan hanya Bisa yang mengerti sifat dan perilaku Keysa, meskipun sahabat dekat, keysa tak mau menceritakan apa yang ia alami saat ini, hanya cerita sebatas ia ingin memiliki kebebasan dan melakukan apa yang ia inginkan. Semua rencana telah ia susun sangat rapi, hanya tinggal menjalankannya saja.
"Kamu benar mau melakukan itu sendiri, melakukan semuanya tanpa ada yang mendampingi apa mungkin, keysa!" tanya Nisa dengan dahi berkerut.
"Apa maksudmu Nisa, kamu pikir aku tak mampu memenuhi keinginanku tanpa bantuan ayah, ibuku?" Keysa menatap Nisa intens, meminta jawaban atas ungkapannya itu.
"Bukan maksudku menyinggungmu, Keysa. Kamu pasti tahu apa maksudku! seorang anak gadis pergi dari rumah dengan alasan bebas, kemudian pergi ke tempat- tempat yang menjadi impiannya tanpa ada pendamping? aku sungguh sangat menghawatirkanmu, Keysa!"
"Iya aku tahu, tapi ini adalah keinginanku, dan aku akan tetap melakukannya, lagipula ayah sudah memberikan izin lalu apalagi yang aku tunggu, aku akan benar-benar menikmati hidup ini, Nisa. Oh ya jika ada yang bertanya di mana keberadaanku jangan pernah beri tahu mereka ya, please! ya, ya!"
"Baiklah, aku menjaga rahasiamu, bagaimanapun kamu adalah sahabat terbaik ku, aku menyayangimu sebagai saudara sendiri." Nisa akhirnya pasrah, memilih ikut saja dengan keputusan Keysa tanpa bisa melawan, membantah pun tak akan bisa sebab Keysa orangnya keras kepala.
"Sekarang temani aku mencari kontrakan." ucap Keysa semangat.
"Kenapa tidak tinggal dirumahku saja, Keysa, kamu pasti akan lebih aman di rumahku?" ajak Nisa, berharap Keysa menerima bantuan darinya.
"Tidak, aku tak mau mereporkanmu, lagipula aku ingin tinggal sendiri, memulai hidup dari awal dan bersenang-senang tanpa ada yang melarang ini, itu!"
"Maksudmu hidup di kontrakan sendiri, begitukah, hallo, kamu masih sadarkan Keysa, hidup sendiri tak semudah yang kamu ucapkan, kamu masih harus bersih-bersih sendiri, masak sendiri, belum yang lain, apa kamu sanggup melakukannya sendiri?" Nisa melontarkan pertanyaan pada keysa, berharap dapat merubah jawaban darinya.
๐๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ฆ๐ญ๐ข๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฎ๐ถ, ๐๐ช๐ด๐ข. ๐ ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ถ๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ข๐ฏ ๐บ๐ฏ๐ข๐จ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ถ๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ด๐ข๐ฌ๐ถ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ช๐ต๐ถ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ๐ช ๐ข๐ฑ๐ข ๐ถ๐ฃ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐บ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ญ๐ข๐จ๐ช๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ๐ช๐ต๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช?" tanya Keysa dalam hati.
"Kenapa melamun, kamu pasti tidak bisa melakukannya kan?" desak Nisa lagi.
"Tidak, aku akan tetap memilih tinggal di kontrakan, kalau untuk bersih-bersih pasti aku bisa meskipun aku tak pernah aku lakukan, dan untuk masak aku tak perlu memasak kan, ada makanan Online sekarang, tinggal pesan beres deh." jawab Keysa meyakinkan sahabatnya.
"Sepertinya sekeras apapun aku mencoba hasilnya akan tetap sama, ya kan, kamu memang keras kepala Keysa!"
"Baiklah ayo aku temani kamu cari Kontrakan, sepertinya di rumah mami Tasya ada kontrakan kosong!" tawar Nisa.
Nisa memang memiliki kenalan dengan beberapa orang yang memiliki kontrakan, sebab dia sendiri pernah mengontrak waktu merenovasi rumahnya dulu, dan kontrakan yang di tawarkan Nisa merupakan tempat ia mengontrak dulu.
"Kontrakan ini bagus, tapi ya sedikit mahal, kamu nggak masalah kan!"
"Iya aku ambil, berapapun, lagipula ayahku memberikan kartu limited untuk perjalanan, bukankah ini sangat menyenangkan, suatu saat aku akan pergi berkeliling dunia dengan kartu ini, ya sebelum waktu memanggilku."
"Kamu bicara apa Keysa, jangan bicara seperti itu, aku nggak suka!"
"Ya, usia mana ada yang tahu, Nisa, Salahkan jika aku menganggap hari esok aku aku akan tiada, jadi setiap hari yang aku lalui harus penuh dengan kebahagiaan, aku hanya ingin merhagai hidupku yang rumit ini." Keysa berucap lirih, pandangannya kini beralih pada jendela mobil yang mereka gunakan. Setitik air mata jatuh, dengan sigap Keysa menghapusnya, agar tak ada yang tahu kalau dia saat ini sedang merenunggi nasib hidupnya.
๐๐ฏ๐ฅ๐ข๐ช ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ, ๐๐ช๐ด๐ข. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข, ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ข๐ฅ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ค๐ข๐ฑ๐ข๐ช. ๐๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ช๐ต๐ถ, ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ด๐ถ๐ข๐ต๐ถ ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ช. Keysa berucap dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.
"Kenapa Keysa, nggak ada yang kamu sembunyikan dari aku kan?" Nisa merupakan orang yang peka terhadap perasaan, oleh seba itu Nisa tahu jika Keysa saat ini sedang menyembunyikan sesuatu, tapi Nisa tak kan memaksa sebab dia tahu setiap orang pasti memiliki privasi yang tak bisa di ganggu.
"Kamu tahu, aku tadi malam bertemu dengan pangeranku, pangeran dalam mimpiku dan itu nyata, dia tampan sekali, Nisa, Aku jadi ingin tahu lebih banyak siapa dia?"
"mang kamu tahu siapa namanya?" tanya Nisa kini ikut kepo terhadap orang yang di sebut pangeran oleh Keysa.
"Heheh... ngak tahu," jawab Keysa absurd.
"Kalau nggak tahu gimana cara deketinnya!" ucap Nisa kesal dengan Keysa.
__ADS_1
"Iya, ya, aku lupa waktu itu mau tanya nama, eh orangnya udah pergi duluan." ucap Keysa tanpa dosa.
Kini mereka berdua telah sampai di kontrakan Mami Tasya.
"Mami... " teriak Nisa saat turun dari dalam mobil.
"Eh... Nisa, senang sekali mami di kunjungi sama kamu, ayo masuk!" ajak mami Tasya ramah.
Mereka bertiga akhirnya mengikuti mami Tasya masuk kedalam rumahnya.
"Ada apa ini, tumben sekali kamu datang ke sini, Nisa?"
"Emm... Teman Nisa ada yang mau ngontrak di sini, mi, apa masih ada kontrakan yang kosong?" tanya Nisa berharap.
"Oh itu, ada kebetulan tinggal satu yang kosong, tapi harus jaga kebersihan kalau mau tetap di sini, jujur saja mami orangnya nggak suka kotor."
"Pasti ini orangnya yang mau ngontrak ya kan?"
"Mami tau aja deh, mulai sekarang atau besok mi?"
"Terserah, harga sewanya perbulan satu juta, sekarang juga bisa, rumahnya juga sudah mami bersihkan takut ada yang mau ngontrak sewaktu-waktu kan bahaya kalau nggak bersih, yang ada mereka kabur nggak jadi ngontrak, mami rugi deh kalau begitu." jelas mami Tasya panjang lebar.
"Oke tante, saya ambil kontrakan ini."
"Jangan panggil tante, sayang. Panggil mami Tasya aja, oke!"
"Iya, Mi!"
"Ya itu anak pintar, ini kuncinya."
Keysa dan Nisa memasuki kontrakan tersebut dan melihat-lihat kedalamnya.
"Cukup bagus, aku langsung pindah saja ya, habis ini aku ikut kamu ambil barang aku di rumah kamu."
"Iya, kita pulang, sekarang sudah hampir siang, gimana kalau kita cari makan, aku yang traktir deh!" ucap Nisa antusias.
"Siap bu bos..."
Dalam perjalanan mobil yang mereka kendarai tiba-tiba mogok, tak ada dari mereka yang mengerti masalah mesin.
Mana mungkin mereka mengerti mesin, mereka kan mengerti nya hanya uang, biasalah anak orang kaya, kalau mobil rusak yang tinggal bawa ke bengkel apa susahnya?
"Bagaimana ini Nisa, apa kamu nggak punya nomor orang bengkel?"
"Nggak punya Keysa, kalau soal kontrakan aku punya tapi kalau orang bengkel aku nggak punya lah, baru kali ini juga mobil aku mogok, kita dorong saja lah, sapa tahu ada bengkel buka di depan gang itu."
Posisi mereka saat ini ada di dekat jalan simpang empat, jalanan cukup sepi sebab menjelang siang, lagipula mana ada yang mau membantu siang-siang gini, yang ada ogah sebab panas terik melanda, mereka lebih memilih bersembunyi dari sinar matahari yang bisa membuat orang gosong. Kecuali orang itu benar-benar baik ya!!!.
Balik lagi ke Keysa dan Nisa.
"Kita gantian dorong aja Nisa."
"Ide bagus."
Keysa kini menstabilkan setir dan Nisa mendorong di belakang, baru seperempat jalan Nisa meminta ganti.
__ADS_1
"Gantian ya, gue capek, tinggal seperempat lagi, giliran kamu ini."
"Iya, aku tahu." Keysa turun dari mobil dan mulai mendorong. Mobil berjalan lamban, kini tinggal sepertiga lagi namun Keysa yang berada di belakang mobil mengalami kesulitan, nafasnya kini mulai ngos-ngosan, dan darah keluar dari lubang hidung.
"Aduh, bagaimana ini, Nisa nggak boleh tahu kondisi aku, bila Nisa ngadu sama Ayah dan ayah pasti cabut kebebasan aku, ngak itu nggak boleh terjadi, aku harus kuat, aku pasti bisa, semangat Keysa." Keysa membersihkan darahnya dengan merobek pakaian sedikit dan membuangnya asal.
"Kenapa berhenti Keysa, tinggal dikit lagi ini, ayo semangat." Nisa memberikan semangat untuk sahabatnya, tanpa dia tahu keadaan Keysa di balik mobil itu.
Mobil terus melaju hingga tiba di bengkel yang menjadi tujuan mereka.
Nisa turun dari mobil dan menghampiri salah satu karyawan bengkel, meninggalkan Keysa di belakang mobil.
Keysa kini sudah berantakan, dengan keadaan yang mengenaskan, baju robek, muka sudah mulai memucat Dan pada detik berikutnya Keysa tumbang, beruntung ada tangan kokoh yang menyangga tubuh mungil Keysa.
"Anda kenapa Nona!"
"Keysa yang masih memiliki kesadaran tipis, membuka mata meski berat, menatap satu wajah tampan yang menolongnya, "Pangeran jangan pergi bawa aku bersamamu!" satu kalimat berhasil Keysa ucapkan sebelum menutup rapat matanya.
"Dia pingsan."
Wajah tampan yang menangkap tubuh mungil Keysa sebelum mencium tanah adalah Zain, karyawan bengkel, ah tidak bukanlah Zain pemilik bengkel itu sendiri?
Zain kini membawa Keysa masuk kedalam bengkel, dan meletakkan di kursi tunggu yang tersedia di bengkel.
"Astaga... Keysa, ada apa dengannya, kenapa bisa sampai begini?" Nisa panik kala melihat Keysa pingsan.
"Sepertinya dia kelelahan sekali."
"Ini pasti gara-gara aku suruh dia gantian dorong mobil kami yang mogok ini, Keysa bangun, keysa jangan buat aku takut, ayo bangun, buka matamu." Nisa menagis melihat sahabatnya pingsan.
Bau minyak kayu putih yang di oleskan membawa kembali kesadaran Keysa.
Perlahan namun pasti mata Mungil Keysa mulai terbuka, "Aku dimana?"
"Keysa, syukurlah kamu sudah sadar, sekarang kamu di rumah ku."
Nisa membantu Keysa bangun dan bersandar pada dipan.
"Maafin aku ya, kamu pasti kelelahan karena dorong mobil aku." ucap Nisa merasa bersalah.
"Kamu jangan salahin diri sendiri, lihatlah sekarang aku nggak papa kan aku baik-baik saja." Keysa menunjukkan senyum manisnya, berharap Nisa mempercayainya.
"Oh ya bagaimana kita bisa ada di rumah, bukannya tadi kita di bengkel? Pangeran, dimana pangeranku? tadi aku melihat pengeranku di bengkel itu!"
"Kamu lihat pangeranmu di bengkel itu?"
"Iya, dia yang tolongin aku sebelum aku pingsan kayaknya!" jelas Keysa.
๐๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ญ๐ข๐ฌ๐ช-๐ญ๐ข๐ฌ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ต ๐ต๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฉ ๐๐ฆ๐บ๐ด๐ข ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฅ๐ถ๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ถ๐ณ๐ด๐ช ๐ต๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ ๐ต๐ข๐ฅ๐ช, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ข๐ฑ๐ข ๐ช๐บ๐ข ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ช๐ต๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ด๐ถ ๐๐ฆ๐บ๐ด๐ข? Nisa bertanya dalam hati.
"Kenapa melamun, Nisa. Apa pangeranku tadi pegawai di sana?" tanya Keysa antusias.
"Sepertinya, dia juga memakai seragam yang sama dengan pekerja lainnya." jelas Nisa.
"Fiks, sekarang aku menemukanmu, pangeranku." Keysa terlihat sangat bahagia hingga langsung bangun dan berjingkrak-jingkrak.
__ADS_1
"Hai tenanglah, jangan seperti orang gila, menari-nari nggak jelas, Jelaskan dulu padaku bagaimana pangeranmu itu?" tanya Nisa kesal melihat tingkah absurd sahabatnya itu.