
Keringat mengucur deras di pelipis seorang pemuda tampan yang tidur tanpa mengunakan baju atasan, terlihat dia sedang mengeleng ke kanan dan kiri tanpa henti.
"Aku mohon jangan tinggalkan aku, ayah, ibu, Zain tak mau sendiri!"
"Tidak Ayah, Ibu!"
"Tidak...!"
Teriakan nyaring terdengar dari lantai atas kamar pribadi Zain.
"Zain kamu kenapa, apa kamu bermimpi buruk lagi?" seorang wanita paruh baya menghampiri Zain yang terduduk dengan keringat membasahi pelipis dan nafas yang terdengar terengah-engah. Wanita itu memberikan segelas air putih dan meminta Zain meminumnya agar sedikit lebih tenang.
"Sepertinya kamu bermimpi buruk lagi, Zain. Apa sudah lebih baik?" tanya mommy Maya setelah air dalam gelas telah tandas oleh Zain.
"Iya, mom, mimpi itu terus saja meghantuiku!"
Maya mengelus surai rambut putranya itu, "Sudah jangan terlalu di pikirkan, bukankah mimpi hanya bunga tidur? sekarang, lebih baik kamu mandi dan ikut bergabung di meja makan. mommy tunggu di bawah ya!" mommy Maya keluar dan meninggalkan Zain sendiri.
Zain turun dan menyibak gorden jendela kamar miliknya, pemandangan nan indah di pagi hari sedikit bisa menenangkan pikirannya. "Andai kalian masih disini, di sampingmu, aku pasti akan menjadi menjaga kalian sepenuh hatiku, aku merindukan kalian, Ayah, ibu!"
Drettt...
Drettt...
Handphone milik Zain berdering, sebuah panggilan masuk atas nama Alex.
"Katakan, aku tak mau mendengar berita buruk apapun itu!" pungkas Zain kesal.
"Tidak tuan, kali ini berita bagus, kami telah menangkap penyusup yang berani menjadi mata-mata di markas kita."
"Bagus, interogasi dia, aku akan datang satu jam lagi!"
Tut...
"Ck!!, sepertinya ada yang mau bermain-main dengan ku!" umpat Zain kesal.
"Zain ayo turun!" mommy Maya memanggil putranya yang tak kunjung turun.
"Iya mom, Zain turun." Zain melangkah santai dengan pakaian kemeja dan celana panjang yang memperlihatkan ketampanan pemuda berusia Dua puluh lima tahun itu.
"Duduklah ayo kita makan," Mommy Maya mengambilkan sarapan untuk suaminya dan putranya.
"Kamu mau pergi kemana, Zain?" Daddy Brian bertanya melihat penampilan putra angkatnya itu.
"Seperti biasa dad, aku mau pergi ke bengkel." jawab Zain singkat.
Daddy Brian hanya bisa geleng-geleng dengan tingkah putra angkatnya itu, "Apa kamu tidak tertarik untuk melanjutkan perusahaan daddy, Zain?"
Zain menatap Daddy nya lekat, "Bukan Zain tidak bersedia dad, hanya saja Zain masih ingin menikmati hidup Zain seperti ini, tanpa ada beban menumpuk yang harus Zain pikul, percayalah dad, suatu saat Zain akan kabulkan permintaan Daddy. Sekarang tersenyumlah ini masih pagi dad, jangan murung seperti itu!"
"Kamu itu, terserah kalau begitu, daddy hanya bisa menunggu."
Zain sangat bersyukur memiliki keluarga angkat yang sangat menyayangginya, bukan karena apa, dalam keluarga Miller memang tak memiliki anak kandung, kecelakaan yang dulu pernah di alami oleh mommy Maya membuatnya tak bisa memiliki keturunan sampai akhirnya bertemu dengan Zain waktu itu.
๐๐๐ก๐๐๐๐๐๐ ๐ค๐ฃ
__ADS_1
Zain yang telah kehilangan segalanya dalam waktu semalam, sekarang hanya bisa menjalani hidup di jalan sebagai gelandangan. Beban hidup yang Zain pikul waktu itu membuatnya hendak menyerah, namun kematian yang didapat oleh kedua orang tuanya seakan menampar Zain untuk tetap berdiri kokoh di atas kedua kakinya sendiri dan mulai mencari cara untuk membalaskan dendam yang masih menyala di hatinya.
Zain yang sedang asik menikmati sesuap nasi pemberian orang kaya yang bersedekah, di ganggu oleh beberapa orang pasar yang terlihat garang, ada sekitar lima orang preman yang berusaha menganggu ketenangan Zain.
Merasa tak bersalah Zain tak mau menuruti apa kemauan preman pasar itu.
"Sepertinya kita harus gunakan cara kekerasan buat lawan nih bocah tengil." ucap preman tersebut.
Tanpa persiapan Zain yang masih fokus menikmati makanannya mendapat beberapa pukulan di wajahnya ulah dari para preman.
"Itu adalah akibat karena lo nggak mau nerutin perkataan kita."
Saat preman hendak melangkah pergi, Zain yang sudah di kuasai amarah, berusaha bangkit dan memberikan perlawanan, "Hari ini aku atau kau yang akan mati kita lihat saja." satu kalimat terucap begitu saja dari mulut Zain.
Zain melawan dengan sisa tenaga yang di miliki, melayang mengangkat kaki dan menendang dua preman yang hendak menyerang membuat keduanya tersungkur ke tanah.
Bugh...
Satu pukulan di arahkan tepat ke ulu hati membuat preman itu memuntahkan darah segar.
Bugh...
pukulan selanjutnya du arahkan pada perut preman yang hendak menyerang dengan menggunakan pisau lipat, semua nya telah jatuh tumbang ke tanah. Belum menyerah para preman itu mencoba bangun, seperti tidak terjadi apa-apa pada mereka.
"Kurang ajar, rupanya kau sudah bosan hidup anak ingusan."
"Maju lawan aku, aku tidak takut pada kalian, kalian sendiri yang mengantarkan nyawa kepadaku, maka terimalah ini." Zain mulai melakukan serangan menggunakan kelincahan bela diri yang dimilikinya.
bugh
brak....
Tubuh Preman itu menghantam meja yang biasa di gunakan untuk berjualan oleh pedagang.
"Akhhh... " rintihan para preman yang sudah terkapar di tanah dengan luka memar di sekujur tubuh.
Dengan langkah lebar Zain meninggalkan Preman pasar dengan senyum devilnya.
๐๐ถ๐ญ๐ข๐ช ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ช ๐ต๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ก๐ข๐ช๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฉ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ถ๐ข๐ต ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ฑ๐ข๐ต, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ข๐ด ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฎ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข, ๐ข๐บ๐ข๐ฉ, ๐ช๐ฃ๐ถ. Zain berucap dalam hati.
Tanpa di ketahui oleh Zain, ada seseorang misterius yang melihat semua perkelahian itu.
"Kalian bawa anak itu ke markas bagaimanapun caranya." perintah pria bertopi.
"Baik tuan, laksanakan."
Beberapa orang keluar dari dalam mobil dan mulai mencari Zain. lingkungan pasar itu tidak terlalu besar hingga mudah bagi mereka menemukan apa yang di minta oleh bosnya.
"Kau anak kecil, ikutlah dengan kami ada yang ingin bertemu denganmu."
"Untuk apa bertemu denganku, aku tak mengenalmu, lalu untuk apa aku menurutimu!" pungkas Zain cepat.
"Menurut lah, kami tak akan menyakitimu." ajak beberapa pria berpakaian hitam itu.
Zain hendak melawan, tapi sebuah jarum sudah melesat ke arahnya yang menyebabkan Zain jatuh ke tanah.
__ADS_1
"Bawa dia ke mobil!" perintah pria bertopi yang berdiri tak jauh di belakang Zain.
Zain kini berada di sebuah ruangan bernuansa abu-abu dengan dokter yang sedang memeriksa keadaannya.
"Bagaimana Dok, lukanya tidak ada yang serius kan?"
"Tidak, hanya luka memar tapi memang butuh penangan yang yang tepat, beruntung anak ini memiliki daya tubuh yang kuat." jelas Dokter Fahri pada kedua pasangan suami istri itu.
"Syukurlah, dia baik-baik saja."
"Saya permisi, tuan, nyonya."
Di sebelah ruangan Zain berada, sepasang suami istri sedang membahas masalah Zain.
"Kamu yakin mas, kita akan menjadikannya penerus kita?"
"Apa kamu tidak yakin kepadaku, aku sudah beberapa hari ini memperhatikannya, dan aku menginginkan anak itu untuk menjadi putra kita, pewaris segala kekuasaanku." jelas Brian berusaha membuat Maya mengerti akan keputusannya.
"Lalu keluarganya?"
"Dia yatim piatu, beberapa orang mengatakan jika keluarganya telah di bantai pada malam hari dan dia beruntung bisa selamat, jadi tidak masalah bukan jika kita mengangkatnya menjadi putra kita."
"Ada hal istimewa yang dapat aku lihat dari diri anak itu." tambah Brian yakin akan keputusannya.
"Baiklah, aku menurut apa kata mas, semoga dia tidak menolak permintaan kita." keduanya kemudian menghampiri Zain di kamar sebelah.
Hampir satu hari Zain pingsan, Maya dengan telaten merawat Zain, dia sudah menganggapnya sebagai putranya sendiri.
"Aku dimana?" tanya Zain dengan suara lemah.
"Tenaglah, kamu ada di rumah mommy," Maya membantu Zain agar bersandar di dipan.
"Ibu siapa, mengapa aku disini?"
"Kamu ada di rumahmu, nak, sekarang aku adalah ibu mu, selamat datang di keluarga miller." ucap Maya lembut.
"Keluarga baru, maksudnya?" tanya Zain yang masih belum mengerti.
"Kamu sekarang kami angkat menjadi putra Kami, jadi biasakanlah dirimu di rumah ini, oh ya, Nama kamu siapa?"
"Zain Atharrayhan."
"Mulai sekarang namamu berganti menjadi Zain Miller, dan mulai saat ini panggil aku mommy, kamu mengerti, sekarang istirahatlah." pinta Maya, kemudian berjalan pergi meninggalkan Zain untuk beristirahat.
๐๐ก๐๐จ๐๐๐๐๐ ๐ค๐๐
Zain kini telah tiba di markas, markas tersebut sebenarnya memang milik daddy Brian, selain perusahaan dady Brian juga menjadi penguasa di dunia gelap, namanya sudah terkenal hingga ke seluruh negri, tak ada yang berani menganggu ketenangannya. Namun sejak Zain di angkat menjadi putra keluarga Miller, maka seluruh kekuasaan baik dunia terang maupun dunia gelap telah jatuh sepenuhnya ke tangan Zain Miller. Mengenai dunia bisnis, Zain masih belum tertarik untuk terjun langsung, tetapi untuk dunia gelap Zain telah terjun pada saat usianya menginjak dua puluh tahun.
"Dimana orang itu?"
"Di ruang penyiksaan tuan."
"Apa sudah mendapat informasi siapa bos besarnya?"
"Orang itu tidak mau mengaku, ia setia menutup mulutnya rapat-rapat."
__ADS_1
Tanpa bertanya lagi Zain langsung masuk ke dalam dengan senyuman mengerikan.