
Aliyah terasa rontok. Bagaimana bisa tiba-tiba terdengar suara Yo jo. Apakah Yo il menjebaknya?
Yo il mengernyit, disautnya gelang yang teronggok didepannya lalu dia sembunyikan dibelakang punggungnya. Yo il berpindah membelakangi Aliyah.
"Hahaha..
bagus, rupanya kalian disini." seru Yo jo dengam wajah senang.
Yo il memundurkan langkahnya tangannya siap menggenggam pistolnya. Menatap tajam pada Yo Jo.
"Pergilah!" Yo il melempar kwmbali gelang ditangannya pada Devan.
"Apa-apaan ini?" tanya Devan bingung.
Devan dan Aliyah tertegun. Dengan cepat Devan mengambil gelang itu. Lalu memakainya sendiri.
"Yo il." lirih Aliyah melihat punggung Yo Il.
"Pergilah jika masih ingin hidup. Aku akan menahannya selama yang aku bisa." bisik Yo il menatap abangnya.
"Yo jo bukan orang yang bisa kalian lawan saat ini."
Devan mengerti. Dia pernah melawan Yo Jo. Dia bisa tau seberapa kuat dan mengerikannya Yo jo.
"Terima kasih." ucap Devan menatap Aliyah agar pergi bersama. Namun gadis itu seolah enggan meninggalkan Yo il, orang yang sudah melindunginya hingga seperti ini.
"Ayo!"
"Pergilah Aliyah!"seru Yo il."kau harus hidup!" Yo il menoleh sedikit dengan senyum tipis.
Aliyah berderai air mata. Devan paham situasi genting itu. Devan menarik Aliyah menjauh bersama. Gadis itu masih sesenggukan bahkan saat mereka menyeret langkah sekalipun.
"Adikku! Kau sangat mengecewakan!" deru Yo jo dengan wajah murkanya.
"Kak sudah lama kita tidak bertengkar."
"Kau belum cukup dewasa untuk bertengkar denganku! Pria bodoh yang menyerah pada wanita."ujar Yo jo."Bukanlah adikku."
Yo jo melempar pistolnya kesamping dan menerjang menyerang Yo il. Begitupun dengan Yo il yang juga membuang pistolnya, menangkis serangan Yo jo dengan tangan kosong.
Kedua saudara itu bertarung dengan sengit, Yo il juga menghalau anak buah Yo jo yang menyelinap hendak mengejar Aliyah dan Devan.
Sedangkan Devan dan Aliyah masih terkejar oleh pria bertopeng suruhan Yo jo. Pria bertopeng itu menghadang jalan Devan dan Aliyah, hingga mereka beralih mencari jalan lain. Devan dan Aliyah masih terus berlari. Hingga mereka terpentok pada jurang menganga dibawah sana. Terdengar sayuup suara air dibawah sana.
"Kita terpojok. Apa yang harus kita lakukan?" tangis Aliyah menatap suaminya yang meringis kesakitan menahan pundaknya.
Devan masih mengatur nafasnya yang tersengal.
Dibelakang mereka menyusul pria bertopeng yang tadi mengejar.
"Devaann..." tangis Aliyah.
####
BUG!
BUG!
Yo il melakukan tendangan memutar, Yo jo menunduk, dengan cepat Yo il berpindah menjatuhkan kakinya, Namun tertangkap oleh Yo jo. Dengan kaki yang masih bebas Yo il kembali melakukan tendangan menutar dan mengenai wajah Yo jo.
pria bertato itu mundur beberapa langkah, Yo il yang sudah mendaratkan kakinya, berlari kedepan dan menyerang Yo Jo dengan pukulan tangannya.
BUUGG!
__ADS_1
BUUUGG!
Darah segar keluar dari hidung dan sudut bibirnya.
"Kau!" pekik Yo Jo mengusap darahnya.
"Kau mati hari ini!" teriak Yo jo marah menggeretakkan giginya.
Yo jo bergerak menyerang menendang perut Yo il yang ditangkis dwngan kedua tangan.
Yo il dan Yo jo kembali bertarung sengit, Hingga Yo jo berguling kena serangan Yo il. Tepat disamping pistol yang tergeletak ditanah.
Dengan seringai jahat, Yo jo menyautnya dan mengarahkan moncongnya ke tubuh Yo Il. Yo il tersentak kaget, hendak menghindar namun terlambat.
DOOORRR!
Satu peluru kaliber 11mm menembus tubuh Yo il.
"Aku tak tahan untuk saling menyakiti. Lebih baik kamu mati saja. Adik tidak berguna!" ujar Yo jo dengan seringai jahatnya.
"DOOOORRRR!"
Satu tembakan lagi ditubuh Yo Il. Tepat dijantungnya. Pria itu ambruk seketika dan tak sadarkan diri alias mati.
Yo jo menyeringai.. Lalu berjalan menyusul ke arah dimana Devan dan Aliyah melarikan diri.
###
"Devaann..." tangis Aliyah memegangi lengan suaminya.
"Apa kau percaya pada ku?" tanya Devan.
Aliyah tertegun. Apa maksud ucapan Devan.
Aliyah masih berurai air mata. Dia mengangguk pelan.
"Hahahah... Apa kalian pikir kalian bisa lari dariku?" Suara Yo jo kembali terdengar.
Sosok pria bertato itu muncul dibelakang pria bertopeng yang sedari tadi mengacungkan pistol pada sejoli itu.
"Serahkan cip nya!"
Devan menyeringai mencemooh.
"Kenapa aku harus menyerahkan padamu?"
"Kau tidak mau menyerahkan padaku pun, aku masih bisa mengambilnya paksa." Yo jo mengarahkan pistolnya ke Devan dan Aliyah.
"Pada hitungan ke tiga, melompat ke jurang!" bisik Devan masih menatap Yo Jo tajam.
"satu."
Yo jo mulai mnyentuh pelatuh di pistolnya.
"Dua"
"Tiga!"
DOOOORR!!
Aliyah dan Devan melompat kedalam jurang bersamaan dengan peluru yang meluncur bebas dari tempatnya.
"Apa?"
__ADS_1
Yo jo tersentak dan melangkah mendekati bibir jurang.
"SIALAN!" umpatnya.
"Semuanya, kerahkan tim untuk mencari di bawah jurang! Juga tim untuk menyisir hutan!" perintahnya lantang.
Tim Yo Jo terjun kwbawah jurang. Mencari dan menyisir lokasi jatuhnya Aliyah dan Devan. Namun, mereka tidak menemukan jejak apapun.
Yo jo menendang batu dengan kesal.
Sudah sekitar dua hari lamanya mereka mencari. Namun tetap tak membuahkan hasil apapun. Tentu saja itu membuat Yo jo murka.
____€€____
Lima Tahun kemudian.
Disebuah pulau di kota S negara M, Seorang gadis cilik berlarian bermain air laut dipantai. Gadis itu bermain bola lempar. Bola air yang vukup besar untuk ukura n tubuhnya. Bola itu melambung dan melayang hingga sampai disamping pria bertato yang sedang berjemur.
Gadis kecil itu mendatanginya untuk meminta bolanya kembali.
"Gadis kecil! Jangan asal melempar bola! Jika mengenaiku sekali lagi, bola ini sudah tidak akan ada." ucap Yo jo melempar bola itu ke gadis kecil.
"Siap tuan!" patuh Gadis kecil mwngambil bolanya dan berlari menjauh.
Yo jo tersenyum kecil.
Gadis kecil itu memasuki sebuah restoran dipinggiran pantai.
"Mommy! Ada paman tampan bertato disana." ucap Gadis kecil itu polos."Dia bilang mau meledakkan bola ini." Menunjukan bola yang tadi dibawamya.
"Hani, jangan pergi jauh-jauh. Nanti kamu bertemu orang aneh." larang wanita yang mirip Aliyah menasehati.
"Sayang Hana!" panggil suara seorang pria dari dapur.
"Bisa bantu disini?" Pria ber wajah Devan melongok dengan celemek di tubuhnya.
"Tentu, tuan Daniel."ucap wanita bernama Hana yang mirip Aliyah itu. Menghampiri dapur bersama gadis kecil bernama Hani.
-End-
Ps: Aliyah dan Devan mengganti nama dan kehidupannya di negara lain. Sedangkan cip yang Devan simpan dia serahkan pada pihak agen rahasia mata-mata yang bekerja untuk kedamaian dunia. Sebelum jatuh ketangan orang yang salah.
SEKIAN.
____€€€_____
Readers, terima kasih sudah menyertai sampai sini. Ini adalah akhir cerita. Hanya Yo il yang mati. Devan dan Aliyah tetep hidup dengan mengganti nama dan identitas baru. Sedangkan Yo jo masih berkeliaran. Mungkin mencari Devan dan Aliyah. Namun dia tidak tau jika sudah bertemu dengan anaknya.
Readers, baca juga karya othor yang lain.
#gairah_cinta_semalam
#Dicerai_karena_dekil
#hamil_anak_siapa?!
jangan lupa:
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
__ADS_1
😊