Belenggu Cinta Mafia

Belenggu Cinta Mafia
pemain piano bertopeng


__ADS_3

Brak


"Kau...., bagaiman kau ada di sini?" pekik Zain.


Zain terkejut kala mendapati Dion teman se pekerjaannya berada di rumahnya tepatnya di acara miliknya.


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜‹๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ, ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ.


"Seharusnya aku yang bertanya, Zain. Sedang apa kamu disini, apa kamu bekerja disini sekarang?" tanya Doni yang kebetulan melakukan pekerjaan sampingan sebagai kurir pengantar paket.


"Em... iya aku hanya melakukannya selama aku di skors. Apa yang kamu bawa berikan saja padaku akan aku berikan nanti pada tuan rumah!"


"Tunggu, tunggu ini bukankah seragam bodyguard, kamu bekerja sebagai bodyguard di sini?" Dion yang mengagumi pekerjaan sebagai seorang Bodyguard kembali bertanya.


"Iya, hanya sementara." ucap Zain penuh penekanan.


"Baiklah kalau begitu, aku senang kamu mendapatkan pekerjaan sementara selama kamu di Skors, tapi apa itu artinya kamu tak lagi bekerja di bengkel Zain?" Doni menatapnya sendu sebagai teman seperjuangan Doni tak mau kehilangan teman seperti Zain.


"Tidak, aku hanya bekerja sementara, sampai masa hukuman ku selesai setelah itu aku kembali bekerja di bengkel, tenang saja kita akan bekerja bersama." ucap Zain meyakinkan Doni.


"Yasudah, aku tak bisa berlama-lama disini masih ada beberapa paket yang harus aku antar kan tepat waktu." Doni berpamitan pergi dari kediaman Zian.


๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜‹๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜บ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช teman ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ.


"Tuan, mari ikut saya sebentar ada yang ingin saya sampaikan." ucap Alex dengan suara pelan.


Zain hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan mendahului Alex menuju taman belakang, suasana di belakang taman sangat Sepi, dan disini hanya ada Zain dan Alex.


"Katakan informasi apa yang kamu bawa, Apa kamu sudah berhasil membuatnya bicara?" ucap Zain dingin tanpa menoleh pada Alex.


"Iya, aku membawa informasi yang kamu inginkan!" Alex menyerahkan sebuah kalung berbentuk tengkorak yang sama persis dengan apa yang di simpan oleh Zain bertahun-tahun.


"Ini....!" Zain menatap Alex tajam mengharapkan penjelasan.


"Aku menemukannya di saku dari pria itu, dia sempat menyembunyikannya namun tetap terlihat sebab bentuknya cukup menonjol, dan sebelum aku menanyakan langsung padanya siapa bos dari lambang tengkorak tersebut pria itu memilih mengakhiri hidupnya dengan meminum racun yang dia bawa."


"Jadi kamu gagal membuatnya mengatakan sejujurnya?"

__ADS_1


"Maaf tuan!" Alex menundukkan kepalanya, merutuki kegagalannya tersebut.


"Tak apa, setidaknya kamu membawakan sedikit bukti, dengan kalung ini aku bisa mengetahui siapa pelenyap orang tua ku!"


"Yasudah ayo kita kembali nanti mommy mencariku." ajak Zain.


Alex bisa bernafas lega, setidaknya Zain tidak memberikan hukuman kepadanya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Di acara tersebut, mommy Maya mengundang seseorang yang akan memeriahkan acara tersebut. Seorang pemain piano wanita yang menggunakan topeng untuk menutup jati dirinya. Wanita tersebut seperti masih berusia muda jika di lihat dari bentuk tubuh yang terlihat masih remaja. Wanita tersebut dengan lihai memainkan jari jemarinya di atas tombol piano hingga menciptakan nada yang mampu membuat semua tamu terlena mendengarnya.


"Aku seperti pernah mendengar alunan nada yang dimainkan saat ini tapi dimana ya?" Letha mencoba mengingat kembali memory nya.


"Indah sekali nada yang di ciptakan oleh wanita itu, sangat romantis dan menenangkan." ucap para gadis yang ikut mendengarkan Keysa bermain piano.


Zain yang ikut bergabung ikut terlena kala mendengar nada merdu dari pemain tersebut.


๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฐ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ช๐˜ฑ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


Lima belas menit Keysa bermain di atas panggung, setelah selesai Keysa segera turun dan meninggalkan panggung kembali menjadi Keysa yang biasa tak ada yang mengenalinya sebab dia meminta pada manager yang mengurus untuk menutup semua akses tentang dirinya dan Keysa hanya ingin tampil pada acara tertentu saja itupun menggunakan topeng. Bukan apa Keysa hanya tak mau jika keluarganya tahu mengenai hal itu, mungkin semua anak akan berpikir memberitahu orang tuanya mengenai bakatnya agar mendapat dukungan penuh namun tidak pada Keysa, ayahnya sangat menentang keras jika Keysa memilih menjadi seorang pemain musik, Dirga lebih memilih Keysa menjadi seorang pembisnis sukses seperti dirinya.


"Syukurlah, aku bisa bebas, thank you, Nisa kamu memang sahabat yang terbaik. Seperti biasa aku minta jangan beritahu siapapun mengenai apa yang aku lakukan ini." Pinta Keysa dengan wajah memelas.


"Iya, sahabatmu ini bisa menjaga rahasia, aku tidak bercerita termasuk pada keluargaku sendiri."


"Ayo kita kembali bergabung dengan mereka, takut ada yang mencari kita."


Keysa dan Nisa kini sudah berada di antara keluarga masing-masing, ya, memang Keysa sempat menolak untuk menemui orang tuanya tapi mengingat ucapan dari Nisa, Keysa akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan keluarganya saat ini.


Selepas mendengarkan alunan musik dari Piano tersebut Zain meminta pada Alex untuk mencari tahu siapa pemain wanita yang memiliki suara serta bakat indah tersebut.


"Minta anak buah mu untuk mencari tahu mengenai pemain piano itu, aku ngintip tahu mengenai dia!" pinta Zain datar.


"Baik tuan."


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ก๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข, ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ก๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ. Alex berucap dalam hati.

__ADS_1


Setelah mengatakan perintahnya pada Alex, Zain memilih bergabung dengan anak-anak panti, tak ada yang mengenalinya dengan seragam Bodyguard, dengan begitu Zain bebas melakukan apapun di acara pestanya sendiri.


Brak


Seorang laki-laki paruh baya tidak sengaja menabrak Zain saat berjalan sambil menelfon.


"Maaf, aku tak sengaja!" ucap pria paruh baya tersebut. Pria itu kemudian berjalan meninggalkan Zain.


Zain yang hendak pergi tak sengaja menginjak sebuah benda yang bentuknya sedikit menonjol.


"Apa ini," Zain menunduk mengambil benda tersebut, "Ini terlihat seperti benda yang aku simpan, tapi milik siapa ini, apa mungkin ini milik pria tua itu?" Zain menggeluarkan asumsinya.


"Tak salah lagi, ini pasti jatuh saat dia menabrak ku tadi, akhirnya aku menemukan apa yang aku cari." Zain mengenggam erat benda itu, sebuah kalung dengan bandul tengkorak namun yang bini sedikit terdapat desain warna keemasan.


"Kali ini akan ku pastikan orang tua ku mendapatkan keadilan. Akan ku buat hidupmu lebih menderita dari pada kematian itu sendiri." ucap Zain dengan kilat kemarahan terlihat jelas di matanya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Jeng Maya, ini putri-putri saya, yang sulung bernama Letha dan yang bungsu bernama Keysa." mommy Sinta memperkenalkan putri-putri nya. pada mommy Maya selalu tuan rumah.


Keysa dan Letha hanya bisa pasrah mengikuti keinginan dari ibu mereka itu. Baik Letha maupun Keysa di sambut baik oleh mommy Maya, "Putrimu cantik-cantik." pandangan mommy Maya tertuju pada Keysa yang berpenampilan simpel tapi elegan.


"Kalian masih kuliah?"


"Iya tante," jawab Keysa.


"Sedangkan Aku saat ini bekerja di perusahaan milik ayah, tante." jawab Letha.


"Aku permisi sebentar tante mau ke toilet." Keysa beranjak meninggalkan ibu dan kakaknya bersama tuan rumah, memang sedikit tidak sopan meninggalkan tuan rumah, tapi tetap Keysa lakukan sebab dia tahu tujuan ibunya mengenalkan dia dengan tuan rumah, apalagi kalau bukan soal perjodohan yang akan membawa keuntungan bagi perusahaan milik ayahnya.


"Untungnya aku bisa kabur, maaf ibu, semua ini aku lakukan karena aku tak mau di jodohkan, selamanya hatiku hanya ada Pangeran Zain seorang." Keysa bermonolog.


"Sekarang di mana Pangeran Zain ku, tadi sepertinya dia ikut bergabung dengan anak-anak panti itu, lalu kemana perginya Pangeran Zain ku saat ini, kalau giliran di cara aja nggak ketemu tapi kalau nggak di cari nonggol sendiri. Keysa bermonolog.


"Keysa, sampai kapan kamu mau berbohong kepada kami?" tanya Letha menghentikan Keysa yang mencari keberadaan Zain.


"Apa maksud kakak, Aku tidak mengerti...."

__ADS_1


__ADS_2