
"Apa ini?"tanya Devan melihat punggung dan Aliyah yang lebam.
"Aku kan sudah bilang tadi badanku skit semua."
"Dan lebam ini?"
"Itu aku dapat waktu di tebing tadi sempat terbentur." rengek Aliyah dengan wajah memelas."Rasanya,,Aku tidak sanggup lagi. Bisakah latihanku dikurangi."
Devan terdiam menatap wajah Aliyah yang begitu kasihan dan melas. Dia beralih menatap lebam dipunggung istrinya. Ada rasa bersalah dan iba. Namun...
"Aku oles kan salep dulu dilebammu." Devan beranjak dari ranjang, Aliyah masih memasang wajah kasihan. Berharap Devan mau mengurangi latihannya.
"Buka bajumu, biar kulihat mana saja yang lebam."
"Buka baju? maksudmu aku polosan begitu?" berta Aliyah antara ragu dan tidak suka. Devan tak berucap hanya menatap tajam.
"Bagaimana kalau kamu malah tergoda dan menyerangku. badan ku sedang begini ." Aliyah mengeluh dengan mengharap simpati.
Devan mendessaaahh..
"Buka bajumu. Badan sudah lebam begini siapa yang minat." ucap Devan kesal."Cepat buka. Atau kau mau aku yang membukakannya untukmu?"
"Aaaakkkkhhh.. tidak."
Aliyah akhirnya membuka piayama nya. Hingga hanya menyisakan pakaian dalamnya saja. Devan mengoles kan salep pada lebam di punggung Aliyah.
"Kenapa kamu bisa punya begitu banyak luka lebam ditubuhmu?"
"Kau masih bertanya?"Aliyah menoleh, menatap Devan tak suka.
"Bagaimana kamu bisa selemah ini?"protes Devan kesal dengan banyaknya luka lebam ditubuh istrinya dihari pertama latihan fisik.
"hello tuan suami! Aku ini hanya rakyat jelata. Bukan kesatria sepertimu!" kesal Aliyah mendengar ucapan Devan yang terus memprovokasi.
Devan melihat paha Aliyah yang juga ada beberapa jejak lebam disana. Dia kesal dia marah, Devan sangat ingin melatih Aliyah menjadi wanita kuat dan tangguh, setidaknya Aliyah bisa bertahan jika sesuatu terjadi padanya saat Devan tak disampingnya.
Aliyah menatap wajah Devan yang terus melihatnya tanpa mengatakan apapun. Tentu itu membuatnya tak nyaman Apalagi hanya memakai Sepasang pakaian dalam.
"Apa yang dia pikirkan? kenapa menatapku seperti itu?" Batin Aliyah bersemu merah karena malu.
"Aaa.. bisakah kau berhenti melihatku tuan suami?"
"Apa maksudmu?"
"Ini, sedikit membuatku tak nyaman..."
Devan membuang nafasnya.
"Coba kau pikir, bagaimana aku mengobatimu jika tidak melihat? Apa aku harus menutup mata begitu? Bagaimana jika aku salah mengoles? apa kau akan protes?" berondong Devan kesal dengan teramat Sangat.
__ADS_1
"Iya tuan suami. Aku yang salah." Ucap Aliyah menunduk.
Seusai mengoles salep di beberapa lebab Aliyah, Devan beranjak dan menyimpan di kotak p3k. lalu kembali lagi. Melihat Aliyah masih belum memakai piyamanya sudah mau merebah dengan menarik selimut.
"Hei! pakai dulu piyamamu! Kau mau salepnya menempel dimana-mana?"ketus Devan merasa tertantang.
"Begini sejuk tuan Suami." balas Aliyah cuek kembali membungkus tubuh dengan selimut.
"Pakai nggak!?" Devan menggeram.
Aliyah tak bergeming. Devan kembali menggeram keras. Namun Aliyah seolah tak mendengar dan tak perduli.
Dia sengaja mau memancingku ya? Baiklah kalau mau ngajak gelut! Batin Devan geram.
Devan menarik selimut Aliyah, Namun wanita itu sepertinya sangat sigap mencengkram selimutnya. Devan tettawa kesal.
Baiklah kalau kau begitu sangat suka dengan selimut ini. Aku berikan padamu semua. Batin Devan.
Devan kini beralih membungkus tubuh Aliyah bagai kepompong.
Apa? Apa dia merubah strategi? Pikir Aliyah yang merasa Devan kini justru menggulungkan selimut ditubuhnya.
Aliyah tersadar. Berusaha meloloskan diri. Namun Devan sudah menahannya dan terus menggulung tubuh aliyah dengan selimut. Lalu mengikatnya.
Devan menyeringai jahat melihat tubuh kepompong aliyah yang menggelepar-nggelepar diatas ranjang. Devan tergelak. Aliyah menatap protes penuh permusuhan.
"Aku sudah memberimu kesempatan memakai piyama. Tapi kau sepertinya lebih memilih membungkus diri dengan selimut."Cemooh Devan dengan seringainya.
Devan menarik selimut lain dan menyelimuti dirinya. Tanpa memperdulikan sumpah serampah Aliyah yang tidak terima dirinya dibungkua bagai kepompong itu, hanya menyisakan kepalanya yang menyembul keluar. Devan menyumpal telinganya agar tak dengar dan tidur nyenyak.
Sedangkan Aliyah terus berontak mencoba melepaskan diri disampingnya, hingga tubuh. Aliyah terguling dan jatuh ke lantai.
"Malaikat maut sialan!" umpatnya. "huuhh percuma juga mengumpati dia yang menyumpal telinganya. Dia tak akan dengar."
"Semoga kau budeg selamanya!" umpat Aliyah lagi yang kini terbujur di lantai samping ranjang.
"Sudahlah! begini juga tidak buruk."gumam Aliyah mencoba menerima keadaan.
"Uuuuggghh ... panass..." keluhnya.
Selang beberapa jam menjadi tenang. Devan membuka matanya penuh. Devan menoleh ke belakang. Kosong!
Devan tertegun. Diasigap keluar dari selimut dan melihat kesamping tempat tidur. Aliyah tidur tenang di dalam kepompongnya. Devan menarik nafas lega.
Devan menatap wajah tiduur Aliyah, wajah lelah yang tenang.
Devan mengitari ranjang dan mengangkat tubuh Aliyah menaikkannya diatas tilam dengan hati-hati. Lalu memlepas ikatan tali selimutnya agar Aliyah nyaman.
Devan menatap wajah Aliyah dengan penuh kasih sayang. Lalu mengecup kening gadis yang tengah terlelap itu.
__ADS_1
Devan berjalan keruang ganti dan mengganti pakaiannya dengan baju kamuflase. Sorot matanya berubah tajam dan dingin. Devan menlangkah keluar dari kamar dan menutup pintu tanpa suara. Didepan Kamarnya Kim sudah menunggu dengan baju kamuflase juga. Bersandar pada pilar penyangga dengan tangan yang dilipat didada.
"Tempatkan beberapa orang untuk berjaga dipulau. Dan siapkan seorang pelatih untuk Aliyah besok." titah Devan berjalan keluar vilanya menuju speedboat yang sudah menunggu.
"Baik tuan." tunduk Kim.
###
Aliyah membuka matanya perlahan menyapu ruangan kamarnya. Sinar mentari pagi menembus jendela kamarnya, dan tirai melambai ditiup angin sejuk pagi itu.
Aliyah melihat selimut yang semula membungkus tubuhnya kini sudah tak berbentuk lagi. Terlempar kesana kemari. Aliyah menatap ruang kosong disampingnya.
"Kemana dia pagi-pagi sudah tak ada." gumam Aliyah.
Aliyah memasuki kamar mandi membersihkan diri. Lalu keluar dari kamarnya mengunjungi meja makan. Berharap Devan sudah ada disana menunggunya. Dengan ocehan dan omelan karena dia terlambat bangun.
Dimeja makan tak ada siapapun hanya seorang pelayan yang sedang menyiapkan sarapan dimeja makan.
"Dimana Devan?" tanya Aliyah padanya.
"Tuan Devan pergi nona."jawab pelayan itu.
Aliyah tersentak.
"Pergi? kemana? kapan?" berondong aliyah sedikit kecewa.
"saya tidak begitu tau nona."
Pelayan itu pamit undur diri. Aliyah menatap makanannya dengan tatapan sedih. Dia merasa ditinggalkan.
Aliyah menyentak nafasnya kuat-kuat berharap beban berat yang menghimpit dada ikut enyah.
Aliyah mulai makan pagi itu.
Dia pergi juga sepertinya tidak buruk . Aku libur latihan hari ini. batin Aliyah senang mencoba menghibur diri.
Seusai sarapan Aliyah melangkah keluar gedung Vila. Aliyah sudah disambut oleh seorang wanita berpakaian ala militer.
"selamat pagi nona."
____€€€____
Reader kuuh , kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
__ADS_1
😊